Living in Rouen #1 : Jadi Stay-Home-Wife, bisa ngapain aja?

Ternyata sudah hampir 3 bulan sejak aku pindah ke Rouen, Perancis. Masih beradaptasi banget sih, sama lingkungan baru, bahasa baru, teman-teman baru, termasuk cuaca juga. Walaupun ini kedua kalinya aku merantau ke negeri orang, tetapi kali ini gak ngerasa kesepian banget, soalnya ada suami yang menemani.

Kalau dulu kan masih single, cieee…

Awalnya sempat berpikir, ternyata begini ya memulai hidup yang benar-benar baru di negara yang baru juga. Aku yang biasanya manja banget di Jakarta, makan tinggal makan, belanja ada yang nemenin, mau beli makanan tinggal beli di depan komplek rumah, mau bakso tinggal panggil abang-abang yang lewat, males keluar naik bis tinggal pesen ojek online, mau pesen makanan tapi jauh tinggal pake ojek online, disini semuanya berubah 180 derajat.

Sekarang tiap mau makan, udah harus mikirin dari seminggu sebelumnya, minggu depan mau masak apa aja ya kira-kira? Suami suka makanan apa ya? Besok mau coba resep baru apalagi ya? Belum lagi kalau tiba-tiba ngidam sama masakan Indonesia, yang belum pernah dibuat sebelumnya. Otomatis langsung Googling atau gak, tinggal andelin Youtube deh!

Walaupun sebenarnya suami udah mandiri dan lebih jago masak (khususnya baking sih) daripada aku, karena dia udah jauh lebih lama hidup mandiri daripada aku sendiri. Dan, aku benar-benar bersyukur untuk hal satu itu. Jadi, sering juga kita gonta-gantian masak atau kadang aku yang masak menu utama, suami yang baking kue untuk pencuci mulut setelah makan.

Disitu aku tersadar, kehidupan rumah tangga itu memang SEHARUSNYA seimbang.

Walaupun suami sibuk dengan pekerjaan dan studinya dari pagi hingga sore hari, tapi dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami. Dia gak gengsi untuk turut bebenah di apartemen dan bantu untuk mencuci piring kotor, masak, juga sebagainya.

Okay, next.

Selain itu, aku yang sejak tahun 2011 sudah kerja dan berpenghasilan sendiri, merasa lebih aneh ketika harus tinggal di apartemen aja tanpa melakukan rutinitas kerja seperti biasanya. Ya, walaupun kegiatan blogging ini ku anggap sebagai pekerjaan sih, walaupun memang belum menghasilkan uang. Dari dulu, memang aku senang menulis dan mempelajari hal-hal baru, tapi emang anaknya juga gampang bosenan.

Sorry, I am a truly geminian. No wonder dong ya.

Semenjak tinggal disini banyak juga yang tanya kayak…

Gimana tinggal disana? Enak gak? Terus kegiatannya ngapain aja sekarang? Gimana bahasa Perancis-nya? Kapan program punya anak? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kadang, aku jawab sekenanya aja.

Beberapa teman dekat dan keluarga ku pasti udah tau banget, kalau tinggal di Perancis adalah salah satu mimpi aku dari kecil. Jadi, kalau ditanya enak gak tinggal di Perancis? Pasti aku akan jawab alhamdulillah enak dan nyaman. Udara dan ambience disini benar-benar bikin aku lebih produktif dibanding saat di Jakarta. Di Jakarta, mungkin kita seringkali mengeluh perkara polusi udara, suhu yang panas dan lembab, macet, banjir dan sebagainya.

Alhamdulillah semenjak disini, keluhan yang biasa aku lontarkan sewaktu di Jakarta hilang mendadak, karena disini aku bersyukur banget udaranya lebih fresh, jauh dari polusi udara, suhunya cukup dingin sih untuk orang tropis macam aku ini, disini masih macet sih kadang, tapi kita bisa dengan mudahnya jalan kaki walaupun agak jauh lokasinya, karena trotoar dan pengendara mobil maupun motor disini sangat tertib! Ada trotoar khusus untuk pejalan kaki juga untuk pengguna sepeda. Disini menjadi pejalan kaki memiliki privilege khusus, kenapa? Karena kalau kita jalan kaki dan menyeberangi zebra cross, khususnya yang gak ada traffic light untuk pejalan kaki, mau sekencang apapun kendaraan, mereka akan berhenti dan wajib mendahului pejalan kaki untuk menyeberang. Mereka akan benar-benar menunggu sampai kita selama di trotoar, baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Segitu high respect nya sama pedestrian!

Terus kegiatannya apa aja di Perancis?

Disini aku melanjutkan sekolah bahasa Perancis di salah satu pusat bahasa di Universitas di kota ini. Satu kampus sih sama suami, jadi enaknya suka pulang bareng, walaupun aku kelasnya sore sampai malam. Bahasa Perancis itu emang selalu jadi bahasa ketiga yang pengen banget aku pelajarin dari jaman SMP or SMA. Jadi, ketika mempelajari bahasa Perancis sekarang lebih jadi kewajiban dan prioritas utama, rasanya seneeeng banget! Walaupun aku akui, bahasa Perancis itu susah banget, mungkin tetap lebih sulit mempelajari bahasa China, tapi buat aku ini aja sudah menguras pikiran banget, hehe.

Kenapa menjadi prioritas? Soalnya disini kalau mau survive tinggal dan hidup di Perancis, harus bisa bahasa Perancis, minimal bahasa atau kata-kata yang sifatnya sehari-hari. Makanya syarat untuk kerja dan kuliah itu, kalau gak salah, minimum A2 hingga B2.

Next…

Tentunya, standard pekerjaan rumah tangga kayak masak, bersihin apartemen, cuci baju dan sebagainya. Dulu aku selalu beranggapan remeh banget dengan semua pekerjaan tersebut, tapi begitu semua harus aku kerjakan sendiri, jadi baru tau kalau pekerjaan ini juga penting dan mungkin gak semudah itu bagi beberapa orang. Aku merasa aku jadi lebih disiplin, lebih menjaga kebersihan, sangat memerhatikan hal-hal yang buat diri sendiri dan suami merasa nyaman untuk tinggal di apartemen.

Selain itu, aku punya waktu yang lebih banyak untuk baca buku-buku favorit plus merasa lebih bisa mengeksplor kemampuan lain dari diri aku sendiri.

Hah maksudnya?

Iya jadi bisa banyak belajar hal-hal lain yang dari dulu pengen banget aku pelajarin tapi selalu gak ada waktunya.

Cliché banget kan alasannya?

Aku juga bisa belajar masak ini itu lebih banyak disini, bahkan masak-masakan yang belum pernah dimasak sebelumnya sewaktu masih tinggal di Jakarta. Buat yang penasaran aku udah masak apa aja, bisa diintip di highlight Instagram stories aku disini (boleh banget sekalian di follow Instagram-nya hehe). Untungnya suami rela jadi kelinci percobaan dari setiap makanan yang ku masak, hihi!

Terus aku jadi bisa editing video untuk vlog iseng-iseng yang aku dan suami buat! Masih basic banget juga sih, buat yang mau nonton bisa di subscribe dulu di Youtube channel aku, hehe.

Selain itu, jadi merasa lebih produktif nulis untuk blog juga. Soalnya jadi banyak pengalaman baru yang dirasain selama tinggal disini, jadi pengen berbagi pengalaman juga.

Oh iya, terus sekarang juga lagi coba-coba belajar handlettering. Nah, ini salah satu hal yang pengen banget aku pelajarin dari beberapa tahun lalu. Aku udah sedikit-sedikit beli stationeries kit untuk handlettering. Pengennya sih merambah dunia bullet journal juga, soalnya aku follow banyak banget bullet journal Instagram profile yang hasilnya tuh lucu-lucu dan keren-keren banget, selain itu mereka juga bisa banget menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan mereka. Dulu waktu di Jakarta, sempet nyobain, tapi kayak ya udah hilang-timbul aja!

baby steps

Jadi, sekarang mau mulai belajar handlettering dulu aja, sebelum serius bullet journaling. Doakan yaaa gengs!

Tapi aku yakin banget masing-masing dari kita tuh sebenarnya ada bakat tersendiri, bahkan memiliki semacam hidden talent yang baru kelihatan ketika kita benar-benar melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Salah satu cara mengetahuinya, ya dengan mengeksplor kemampuan diri sendiri lebih banyak aja, banyak mendengar apa yang hati dan pikiran kamu mau dan merasa nyaman untuk melakukan itu.

So, menurut aku untuk menjadi stay-home-wife or stay-home-mom juga sebenarnya bukan pekerjaan yang santai-santai aja di rumah sambil nonton drama, tapi ada tanggung jawab dan pekerjaan lainnya yang dimana, untuk melakukan semua hal tersebut dalam satu waktu, juga belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Jadi, jangan pernah mendeskriditkan orang-orang, khususnya perempuan, yang memilih untuk fokus merawat keluarga di rumah, begitu juga dengan perempuan yang memilih bekerja 9-to-5 sekaligus merawat anak dan keluarganya.

Sebagai penutup, sekali lagi aku ucapkan selamat hari perempuan sedunia untuk perempuan-perempuan hebat diluar sana! Kalian semua hebat, tangguh dan berhak menerima pendidikan dan pekerjaan yang layak sama seperti orang-orang lainnya.

So, tetap semangat!

Perdebatan Seputar Pink Tax: Kenapa Ini Penting?

Beberapa dari kalian mungkin ada yang sudah notice atau paling tidak pernah mendengar istilah pink tax. Sebenarnya apa sih pink tax  itu sendiri? Terus dari mana istilah tersebut berasal? Dan mengapa pembahasan ini menjadi penting untuk diketahui? Perdebatan mengenai pink tax ini memang sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Istilah pink tax (pajak merah jambu) sendiri adalah fenomena perpajakan yang seringkali dikaitkan sebagai bentuk diskriminasi harga berbasis gender dan dikenakan khusus kepada perempuan untuk produk atau layanan tertentu. Menurut pengamatan sejauh ini, yang dimaksud adalah harga produk yang berwarna pink (which is identically dengan produk khusus perempuan dan anak-anak perempuan), harganya bisa 1-2 kali lipat lebih mahal dari harga produk lelaki atau gender netral.

Lalu, produk seperti apa yang dimaksud?

Teman-teman pasti pernah melihat bahkan membeli produk yang berkemasan pink dan diberikan label feminine?

Contoh paling simpel, produk pembalut (tampon pads) yang seringkali kita gunakan setiap bulannya di saat menstruasi, juga dibebankan pajak penjualan karena (entah bagaimana ceritanya) pembalut dianggap sebagai barang mewah (luxury items). Coba bayangkan ya, kita setiap bulan harus merintih kesakitan karena menstruasi, pengeluaran bulanan bertambah lantaran kita harus membeli pembalut atau tampons, dan harganya juga terbilang cukup mahal lagi, belum lagi pay gap gaji bulanan kita sebagai perempuan yang seringkali berbeda dengan kaum laki-laki, padahal jenis pekerjaannya sama.

Contoh lainnya, ketika kita ingin laundry pakaian, seringkali dengan bahan kemeja atau kaos yang sama dengan laki-laki, perempuan harus bayar lebih mahal hanya lantaran mereka membersihkannya dengan cara dry clean dimana kemeja/kaos laki-laki hanya dicuci dengan laundry normal. Padahal keduanya meminta untuk dicuci dengan laundry normal saja. Juga hal lain seperti, baju-baju berukuran besar (plus size), perempuan harus membayar lebih mahal, dibandingkan dengan laki-laki yang juga membeli baju ukuran besar.

pinktax3
Source: Boxed, from Pinterest

Sebagai pencinta warna pink saya pun benar-benar merasa tertampar, seringkali juga berpikir kenapa kemeja perempuan lebih mahal dibanding kemeja laki-laki padahal dari bahan sama, kualitas juga. Belum lagi harga shampoo dan sabun khusus perempuan yang juga cukup mahal jika dibandingkan dengan laki-laki.

Beberapa waktu lalu, The New York City Department of Consumer Affairs (DCA) mengeluarkan hasil studi perbandingan harga lebih dari 800 produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan perbedaan harga pembeli laki-laki dan perempuan ketika mereka membeli jenis barang yang sama. DCA memperoleh harga rata-rata untuk 35 jenis produk yang berbeda berdasarkan analisis 794 produk individual dan kemudian membandingkan harga produk laki-laki dan perempuan.

Hasilnya? Ternyata produk untuk perempuan atau anak-anak perempuan harganya 7% lebih dari produk yang sebanding untuk lelaki dan anak laki-laki dengan presentase berikut:

pinktax4

13% lebih banyak untuk produk perawatan pribadi

8% lebih untuk pakaian dewasa

7% lebih banyak untuk mainan dan aksesori

4% lebih banyak untuk pakaian anak-anak

Perbedaan harga yang diterapkan kepada gender yang berbeda ini, tentunya berdampak pada ketidaksetaraan ekonomi berbasis gender antara laki-laki dan perempuan .

Sederhananya, upah perempuan dibayar lebih sedikit untuk jenis pekerjaan yang sama, membayar lebih untuk produk yang sama dan dikenakan pajak atas produk yang tidak akan pernah dibeli oleh laki-laki.

Di Malaysia, akhirnya pemerintah akan menghapus Pink Tax pada produk menstruasi termasuk diantaranya panty liners dan pembalut wanita. Hal ini tertera di dalam website Departemen Bea Cukai (Customs Department) yang mengungkapkan pembalut dan tampon tidak dikenakan Pajak Penjualan dan Layanan (Sales and Service Tax) yang dahulu ditetapkan sekitar 5 hingga 10%. Bahkan, Wakil Direktur Jenderal Departemen Bea Cukai, Datuk Seri Subromaniam Tholasy telah mengeluarkan pernyataan oleh media pada tanggal 30 Agustus 2018, bahwa produk sanitasi adalah salah satu dari 5.443 barang umum yang bebas pajak.

Jauh sebelum Malaysia, pada tahun 2014 dikenal dengan sebutan Kampanye Georgette Sand, adalah campaign movement yang bergerak sangat cepat hampir di seluruh wilayah di Perancis. Terdapat lebih dari 40.000 orang menandatangani petisi untuk mendorong Kementerian Keuangan Perancis untuk mengadakan penyelidikan terhadap produk-produk kewanitaan.

Bulan Juli 2018 lalu, sekelompok perempuan di Korea Selatan memutuskan untuk berhenti menghabiskan uang setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya, sebagai langkah protes untuk melawan diskriminasi gender. Kampanye yang dimulai oleh group Facebook yang disebut Female Expenditure Strike dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran akan kerusakan yang dilakukan oleh iklan yang meremehkan perempuan, diskriminasi gender dan pink tax yang mengacu pada jumlah ekstra yang sering dibayarkan perempuan untuk membeli barang, dibandingkan dengan laki-laki. Pada tanggal 1 Juli 2018, sekelompok perempuan melakukan boikot untuk semua jenis pengeluaran, termasuk makanan dan transportasi. Kampanye ini bertujuan untuk menununjukan kepada masyarakat bahwa tanpa konsumen perempuan, industri maupun produsen akan mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar.

Beberapa bulan lalu, Burger King di USA juga turut serta menentang ketidaksetaraan gender dalam kampanye baru mereka. Di dalam videonya di bawah ini, mereka menjual Chick Fries dalam kemasan biru dan pink. Kemasan berwarna biru dengan harga $ 1.69 dan kemasan berwarna pink dengan harga $3.09, seluruh pengunjung perempuan sangat marah dan menolak perbedaan harga yang begitu jauh, dan salah satu pelayan mengucapkan “Chick fries ini keduanya produk yang sama, hanya kemasan saja yang berbeda dan untuk kemasan pink harganya jauh lebih mahal.” pembeli perempuan tetap kekeuh tidak mau membayar dan tetap protes karena perbedaan tersebut, lalu si pelayan menambahkan “Ketika kamu masuk ke dalam drugstore atau minimart dan kamu membayar harga $2 lebih untuk sebuah alat cukur, apakah kamu bisa berkata lain?” Disini Burger King berusaha untuk membuka mata para pembelinya akan adanya pink tax yang merugikan perempuan dan mengajak orang-orang untuk lebih pintar dalam memilih produk, juga untuk mendukung pencabutan Pink Tax Act.

Kalau kita tarik lagi dari awal sejarah, sejak dahulu memang sudah ada kritik feminisme lama terkait dengan budaya fashion dan kecantikan sebagai misoginis dan sangat patriarkis. Walaupun penetapan harga berbasis gender mungkin menjadi strategi bisnis bagi si pelaku industri, namun ada konsep diskriminatif yang mendasar yang diterapkan oleh pink tax. Terlepas dari berbagai stereotype umum jenis kelamin, gagasan bahwa wanita lebih konsumtif dan sebagainya, hal ini merupakan pandangan yang sangat berbahaya.

Awalnya memang pasti kita berpikir, “Masa iya sih? Ah, mungkin karena produk perempuan formulanya berbeda, lebih lembut, sensitive de el el…” ya itu juga seringkali dijadikan alasan bagi para produsen untuk membela kualitas dari produknya, tapi ternyata saya salah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir keadaan ini?

Dari hal-hal yang sederhana saja, kita bisa memulai dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyebarkan informasi baik melalui media sosial terkait dengan pink tax ini, jadi pergunakanlah media sosial untuk menyebarkan berita yang baik, bukan yang hoax ataupun sifatnya yang memprovokasi. Dengan cara ini, kita bisa membuka pikiran masyarakat agar lebih ‘melek’ dan bertanggung jawab atas barang-barang yang sedang atau akan dikonsumsi. Penting juga untuk mulai mencoba menghapus adanya stereotip negatif yang seringkali bias gender dimana pun kita berada.

Yuk, kita jadi konsumen yang bijak dalam memilih produk berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya. Mungkin dari sekarang saya juga mencoba untuk mengabaikan pemasaran produk yang cerdik dengan menjual produk dengan warna-warna yang terlihat ‘lucu’ dan mulai membeli produk berdasarkan harga dan kualitas produk. Jika memang produk laki-laki memiliki kualitas yang sama dengan produk perempuan dan memiliki harga yang lebih rendah, why not?

Jadi, selagi kita bisa, yuk hindari dan tolak membayar pink tax dimana pun kita berada.

Untuk melihat video lainnya mengenai pink tax, bisa dilihat di tautan ini.

Sumber:

A Study of Gender Pricing in New York City. From Cradle to Cane: The Cost of Being a Female Consumer, 2015 [Link: https://www1.nyc.gov/assets/dca/downloads/pdf/partners/Study-of-Gender-Pricing-in-NYC.pdf]

Which Retailers Charge the Largest ‘Pink Tax?, 2016 [Link: https://www.forbes.com/sites/whynot/2016/01/07/which-retailers-charge-the-largest-pink-tax/#57b6a9ef381b]

No More Pink Tax for menstrual products, 30 Agustus 2018 [Link: https://www.thestar.com.my/news/nation/2018/08/30/no-more-pink-tax-for-female-menstrual-products/]

Asia One. South Korean Women Boycott Spending First Sunday Every Month Protest against Pink Tax, 3 Juli 2018 [Link: http://www.asiaone.com/asia/south-korean-women-boycott-spending-first-sunday-every-month-protest-against-pink-tax]

What does it feel to be a women pedestrians in Jakarta?

Yes, maybe for some of you who ever been visited Jakarta or at least read any news in online social media ever heard about this kind of issue. Jakarta is a big city, yes even almost as big as Singapore, let say.

In some of the Southeast Asian countries, we might have this common problem about pedestrian in the capital city. Jakarta is one of the big city in Indonesia, which half of its people either using private transportations (like, car or motorcycle) and public transportation (bus, the commuter line, taxi, angkotojek online, etc).  According to the Jakarta Post, as of 2017, there are about 4.8 million cars in Jakarta and about 13.6 million motorcycles.

Yes, it’s big numbers, right?

I actually one of Transjakarta users in which also quite often to access pedestrian road. Transjakarta itself is the name of bus company which own by our local government here. I am working in the central part of Jakarta, where some part of the area has very good pedestrian way, but the other part still worst even not accessible to walk just because of there is a lot of development nearby or hijacked by motorcycle users.

This is one of the problems to walk in a pedestrian way in Jakarta. A lot of motorcycles users take pedestrian way to avoid a heavy traffic jam on the road. Besides that, you will see a lot of food stalls or trucks parked in pedestrian, in which you will feel either annoyed by them or tempted to buy what they sell (but anyway, it’s unhealthy). There are just a few problems which commonly happens in Jakarta, but actually, the main problem which happens to women pedestrians even far beyond of it.

This week, to be exact on 22nd of January is known as National Pedestrian Day in Indonesia. And I would like to share my experiences also maybe a lot of women experiences dealing with the pedestrian road in Jakarta.

Cat-calling. Girls, be prepared for this! You might hear a lot of guys on the street will tease you by whistle or call you with ‘Mba.. Mba’ or even ‘Neng, neng..’ its a nickname to call girl like Miss, in English. They even often look at you from head to toe, just because you wearing a casual cloth which they thought intentionally to see their attention.

Yes, it sucks, I know.

Sexual harassment. I never had this kind of experience, but I knew some friends or heard some girls who experienced this kind of thing. Last year I heard, there was a woman was sexually assaulted in one of crossing bridge in Pondok Indah, it’s nearby in a place where I live. In Indonesia, this kind of assaults can take place even in a very crowded area, even also in a daylight. Unfortunately, in Indonesia, it is such an epidemic and we still don’t have legal protection for sexual harassment.

For women, walking in a big city like Jakarta absolutely will face double risk. First, you never knew when you walk on the sidewalks, you could be raided by motorcycle users. Secondly, you can also be sexually abused.

According to the Thomson Reuters Foundation report frankly said Jakarta had the fifth-most dangerous public transportation system for women in the world and the second in Asian countries, after New Delhi, India.

I don’t mean to make my readers feel worried or afraid to visit Jakarta after you guys reading this. But I want to raise this issue to be our common concern and working together to stop sexual harassment… everywhere! And please, also respect our rights as a woman as well as a pedestrian.

 

 

 

 

What You Really Need to Know About Feminism

It’s very inspiring every time I read some articles or books which talking about feminism, where most of the times people always seems pessimistic when they’re talking about feminism itself. It’s always full of debates when it comes to people who admit themselves as a feminist. Recently, I have read a simple, understandable and first-thing-first you really need to know about feminism when I was reading an article wrote in Magdalene. Where they are trying to explore the ten biggest misconceptions about feminism which you should know.

Here they are:

1. Feminists hate men: This one is the oldest and most tiresome fallacy on feminism. Feminism is a movement and ideology that champions equality for women in political, economic, cultural, personal and social spheres. It has never been an ideology of hate.

2. To achieve equality, feminism must emasculate men: Achieving gender equality does require deconstructing masculinity, but it is not the same as emasculating the male sex. In its hundreds of years of history (even before the word “feminism” was coined) the movement has cultivated a tradition of deep contemplation and rethinking of the social construct of genders as well as gender dynamics. It is supposed to actually improve gender relations, not strengthen one sex at the expense of the other.

3. Feminism only helps women: Feminism doesn’t just liberate women; it also liberates men by breaking down the standards put in place for women and men by the society. Feminism is about changing self-limiting gender roles, sexual norms and sexist practices. Men have the freedom to explore life beyond the rigid boundaries of traditional masculinity. Also feminism believes in equal access to education, which probably enabled your mom to get her university degree and get a job way back then, giving you and your brothers better opportunities in life. With education, women tend to make better life choices, resulting in healthier and more optimally functioning families and communities.

María María Acha-Kutscher illustrates women exercising their voices in political struggles. She says her work focuses on the woman, on “her story, the...:

4. Only women can be feminists: Feminists are committed to addressing daily problems like domestic violence, rape and sexual assaults, unequal pay, sexual objectification, etc. The best way to address these problems is to involve men, raising male employees’ awareness of gender sensitivity, teaching young boys to respect girls, getting fathers to share the housework loads and be more involved in raising their kids, and so many other ways.

5. To be a feminist you must be an atheist: While it’s true that some religions have highly patriarchal perspectives and perpetuate age-old discriminative practices against women, it doesn’t mean there’s no room for improvements. There have been many who bring women-friendly interpretations into religious teachings.

In Indonesia, we have this feminist ulema and this Muslim scholar and a few others. You don’t have to ditch your religion to believe that women are entitled to the same rights as men.

6. Feminists don’t believe in marriage: How silly. A lot of feminists are happily married. As long as a marriage provides personal, legal and social values to the two people involved, there’s no reason to reject the institution of marriage. What feminists are against is when the society values marriage as a “better place” for women, socially punishing those who are not married or divorced, and when a marriage is treated as a way to control women. Also, true feminists believe legal marriage should be allowed for all sexual preferences and gender expressions (yes, we believe in same-sex marriage!).

7. True feminists don’t wear bras and makeup: Rubbish! Feminism is about giving women choices – not limiting them – of self-expression. Can’t go out without your high heels? By all means, wear them. Fancy that little black dress? Why not. But expressing yourself in a traditional expression of femininity is a choice, not an obligation, and it should not define you as a person.  Personally, I like looking good, but I hate to waste too much time and energy on doing it, so I hardly wear make-up, save maybe brow powder and lip-gloss.

8. Feminism is a western concept: To be honest, this has been one of the main self-criticism within the feminist movement in the past: that feminism, the movement and ideology, is Eurocentric and dictated by white middle-class women. It was also criticised for its tendency to overlook class, caste, religion, ethnic bias and racial discrimination that complicate the idea of gender.  However feminism has long existed in non-western part of the world, from South America, Asia to Africa, though with slightly adjusted focuses according to the local contexts.

9. Feminism hasn’t changed for ages: Wrong! The first wave of feminism in the 19th hundred and early 20th centuries focused on civil and political equality, mainly women’s rights to vote. The second wave, which began in the 1960s all through the 1980s, widened the goals to include issues of sexuality, family, the workplace, reproductive rights and other legal inequalities. The third-wave feminists broadened the debates to focus on ideas like queer theory, abolishing gender role expectation and stereotypes. The current awareness in feminism – what is arguably sometimes called the fourth-wave feminism – embraces the idea of “intersectionality”, the multiple, interlocking oppressions of race, sex, sexuality and class. It is a movement and awareness that advocate people to make space for those who are marginalised politically, economically and socially because of their gender, sexual preferences, race and class.

10. There’s no need for feminism now because women are equal to men already: This cannot be more wrong.  Let’s revisit the women’s lib’s demands in the 1970s: The first four of them are equal pay, equal opportunity to education and work, a guarantee of their reproductive rights, and an end to violence or sexual coercion regardless of marital status.

Now let’s look at the facts today: According to a report by the UN’s International Labour Organization, women across the world earn only 77 percent of the amount paid to men, a figure that has improved only three percentage points in the past 20 years.  On top of that, many jobs are still not friendly to mothers, and top leadership posts in companies and governments are still overwhelmingly held by men. Secondly, in many developing countries including Indonesia, the number of girls dropping out of school is higher than boys because they are seen by parents as not worth the economic investment. Third, though contraceptives are widely available now, many countries (Indonesia including) still allow child marriage, which perpetuates domestic violence and poverty. Fourth, rape culture is actually thriving both in developed and developing countries alike. In countries like Indonesia, the law and law enforcers on sex violence cases are hardly on women’s side.

In connection to this, I will also show you the remake of Spice Girls video clip which promotes about the gender equality in SDGs as one of UN campaign specifically for women:

#WhatIreallyreallywant

Read more the original article here.