#ACIDIGORDAYONE : With the Besties

#acidigordayone : best friends since 2008 at Twin House Cafe, Cipete

No one can describe how much I feel very lucky to met these people in my teenager goes to quarter-life crisis. Thank you for contagious laughter and happiness you brought to my wedding.

We are forever grateful!

Loves,

ACID & IGOR

Susah gak sih menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia? (Part 2)

Nah, melanjutkan artikel sebelumnya, setelah memberikan semua dokumen ke Madame Cempaka, yang diantaranya:

Calon Pengantin Wanita:

  • Formulir CPW dan CPP (Renseignements Relatifs A Chacun des Futurs Epoux, Demande de Certificate de capacite a mariage);
  • Akte Kelahiran asli yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (untuk di fotokopi/di scan oleh Kedubes);
  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi N1, N2, N4

 Calon Pengantin Pria:

  • Akte Kelahiran terbaru (<3 bulan)
  • Fotokopi KTP Perancis
  • Fotokopi passport
  • Bukti tempat tinggal (fotokopi tagihan listrik)

Karena waktu itu, waktu sudah agak mepet dari deadline yang sudah kami buat, jadi, saya mengirimkan scanned copy Akte Kelahiran suami saya terlebih dahulu kepada pihak Kedubes. Namun, karena sudah prosedur baku dan wajib, pihak Kedubes baru akan memproses permintaan Surat Izin Menikah (certificat de capacité à mariage) dari Pemerintah Perancis. Pihak Kedubes mengirimkan surat notifikasi terkait dengan proses pernikahan yang akan dilaksanakan di Jakarta, Indonesia dengan didukung oleh seluruh dokumen lainnya. Waktu itu pihak Kedubes Perancis meminta saya untuk membawa Akte Kelahiran asli untuk ditunjukan sesaat proses verifikasi semua data. Setelah semua dokumen dikirimkan ke pihak Kedubes dan sudah terverifikasi, Madame Cempaka yang akan mengirimkan surat diplomatik kepada pemerintah setempat/balai kota dimana suami saya tinggal dan menetap saat ini. Setelah menerima notifikasi dari Kedubes, Balai Kota (La Mairie) akan menerbitkan atau mempublikasikan wedding ban kurang lebih selama 10-14 hari, hal ini untuk mengumumkan bahwa tidak ada pihak-pihak lain yang berkeberatan terhadap penyelenggaraan pernikahan kami yang akan diselenggarakan di Jakarta, Indonesia.

Sejujurnya sedikit tegang, karena Surat Izin Menikah ini yang menjadi penting ke depannya untuk kami mendaftarkan pernikahan secara legal di Indonesia melalui Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Catatan Sipil untuk Non-Muslim. Bersyukur sekali karena setelah menunggu hampir 1,5 bulan lebih lamanya, Surat Izin Menikah pun dikeluarkan oleh otoritas setempat Perancis dan Kedubes Perancis membuat versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia yang lalu di-stempel cap asli dari pihak Kedubes Perancis. Dokumen asli ini harus diberikan kepada pihak KUA sebagai berkas utama mereka nantinya saat pendaftaran pernikahan.

Keenam, untuk beberapa pasangan WNI dan WNA (pernikahan campuran) pasti tahu betul betapa pentingnya Perjanjian Pranikah (prenuptial agreement), khususnya bagi pihak WNI. Saya bersikeras untuk meyakinkan pasangan betapa pentingnya dokumen ini untuk kami buat, bukan lantaran kami bersiap akan resiko terburuk dalam suatu hubungan, namun ada yang jauh lebih penting dari itu, menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dan setelah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 yang mempertegas terkait hak milik properti ketika melakukan perkawinan campuran.

Selain itu, terkait hal ini juga diatur di dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UU Perkawinan) yang menjelaskan secara gamblang apakah yang dimaksud dengan perkawinan campuran. Menurut pasal tersebut, dalam perkawinan campuran seorang WNI menikah dengan seorang WNA, baik perkawinan itu dilakukan di Indonesia muapun di luar Indonesia. Dari segi kepemilikan tanah, khususnya bagi WNI, perkawinan campuran dapat mengakibatkan tanah milik WNI bercampur dalam harta bersama dengan WNA. Sebab itu, seorang WNI tidak dapat memiliki tanah dengan hak milik setelah menikah dengan WNA. Oleh karena itulah, pentingnya hal seperti ini diatur di dalam Perjanjian Pranikah sebelum kita sebagai WNI kehilangan hak atas properti kita di Indonesia. Prosesnya mudah namun terkadang bervariatif, begitu pula harganya, kamu bisa urus di kantor notaris yang memang biasa mengurus hal seperti itu. Walaupun beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia memperbolehkan untuk membuat postnuptial, tetapi ada baiknya kita persiapkan sebelum menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

Mungkin di blog post selanjutnya ada yang berminat supaya saya bisa berbagi bagaimana mekanisme pembuatan Perjanjian Pranikah? Komen di bawah artikel ini ya!

Lalu lanjut lagi, setelah Perjanjian Pernikahan selesai, dan kamu sudah menerima semua dokumen, termasuk sudah mengantongi Surat Izin Menikah dari pihak Kedubes Perancis selanjutnya langkah ketujuh adalah membawa semua kelengkapan dokumen yang dimiliki ke KUA, karena lokasi pernikahan saya berbeda dengan wilayah tempat saya tinggal, mau gak mau saya harus meminta Surat Rekomendasi Nikah. Syarat-syarat untuk meminta surat ini juga mudah dan langsung jadi, waktu itu saya cuma memakan waktu kurang dari 10 menit saja. Biaya? Awalnya sih bagian informasi bilang kalau tidak dipungut biaya apa pun, tapi entah begitu tau calon saya adalah WN Asing atau memang mereka suka meminta ‘pungli’, tetiba saya ‘ditodong’ untuk memberikan Infaq seikhlasnya. Karena memang tujuannya infaq yasudah saya kasih seadanya di dompet saya, yaitu 10 ribu rupiah. Harusnya mereka menyediakan kotak infaq eh gak taunya saya lihat sendiri uang itu diberikan ke bapak separuh baya yang semula mengetikan dan memberikan surat rekomendasi nikah saya, bahkan si bagian informasi agak manyun ketika saya hanya memberikan uang sebesar itu. Hmmm… agak mengecewakan sebenarnya ketika melihat praktik-praktik seperti ini masih berulang.

Well anyway… setelah surat rekomendasi nikah jadi, tetiba aja saya mendapat berita kalau sekarang untuk mendaftar nikah di KUA, dibutuhkan Sertifikat Layak Kawin yang dikeluarkan oleh Puskesmas setempat terkait dengan pemeriksaan cek kesehatan pranikah dan suntik tokso. Akhirnya saya segera meluncur ke Puskesmas domisili saya tinggal, ternyata bagi pemegang KTP Jakarta asli pendaftaran diberikan secara cuma-cuma atau GRATIS! Namun, tes kesehatan pranikah tersebut hanya diadakan setiap hari Selasa dan Kamis saja, saya kurang tahu apakah di Puskesmas lain juga memiliki kebijakan yang sama, oleh karena itu, banyak-banyaklah mencari informasi ya!

Jadilah, langkah ke delapan ini saya melakukan tes kesehatan pranikah, diambil darah untuk mengetahui rhesus golongan darah, suntik tokso (wajib untuk perempuan) dan tes HIV. Syukurlah, hasilnya memuaskan, selain hasil laboratorium yang lebih detil, kalian akan dibuatkan Sertifikat Layak Kawin seperti yang ada di bawah ini.

Dua minggu sebelum menikah, akhirnya suami saya datang! Karena saat itu ia masih berstatuskan non muslim, akhirnya begitu sampai di Jakarta, kami sekeluarga mendampingi suami saya ke Masjid Istiqlal untuk proses Pengislaman. Alhamdulillah, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, suami saya bersedia untuk melakukan itu. Proses terkait Pengislaman juga agak panjang, kalian bisa komen di bawah kalau memang mau tahu prosedur dan syaratnya seperti apa ya..

Selain itu. untuk mengurus ke KUA di lokasi tempat pernikahan saya berada, membutuhkan tanda tangan, data pribadi dan wawancara sedikit untuk calon pengantin pria saat itu. Jadilah, di langkah ke sembilan ini kami ke KUA lokasi pernikahan untuk mendaftarkan pernikahan kami. Apa syarat-syaratnya?

  1. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui 2 orang saksi. Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Akta Cerai/surat keterangan cerai yang asli;
  2. Foto copy piagam masuk Islam (khusus untuk yang mualaf);
  3. Foto copy Akte Kelahiran/Kenal Lahir/ID Card;
  4. Surat tanda melapor diri (STMD) dari kepolisian(ini hanya untuk WNA yang sudah menetap di Indonesia);
  5. Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil apabila yang bersangkutan menetap di Indonesia.
  6. Tanda lunas pajak bangsa asing (bagi yang bekerja di Indonesia).
  7. Keterangan izin masuk sementara (KIMS) dari Kantor Imigrasi atau foto copy visa(waktu itu karena suami saya masuk dengan Free Visa 30 hari, jadi saya hanya fotokopi cap/stempel yang diberikan petugas Imigrasi saat di bandara).
  8. Fotokopi passport;
  9. Surat Keterangan atau izin menikah dari Kedutaan/perwakilan Diplomatik yang bersangkutan;
  10. Semua surat-surat yang berbahasa asing harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah resmi dan tersumpah.

Nah, untuk poin ke-10 diatas, lumayan merogoh kocek lagi, jadi sebegitu saya dapat Akte Kelahiran aslinya, saya langsung kirimkan ke Penerjemah Tersumpah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri langsung menghubungi Mas Subandi, proses penerjemahan 2-3 hari kerja. Setelah mengirimkan scanned copy melalui email, melakukan transfer pembayaran, setelah selesai dokumen langsung dikirimkan ke alamat rumah. Untuk kontaknya, sila dihubungi melalui email ini: subanditrans@yahoo.com. Setelah survey ke beberapa penerjemah tersumpah lainnya, menurut saya Pak Subandi yang memang lumayan terjangkau harganya. Per lembar sekitar Rp 170.000, jika butuh dokumen asli untuk dikirimkan tinggal tambah untuk ongkos kirimnya saja (harga per bulan Juli 2018).

Langkah ke-sembilan ini juga tidak rumit, kalau semua dokumen sudah tersusun dan terjaga dengan baik. Jadi tinggal di-submit saja, waktu proses submit, kebetulan kami bertemu dengan Pak Penghulu nya, jadi deh kita dikasih wejangan atau nasihat pernikahan sebentar. Lalu ada beberapa dokumen yang harus di isi juga. Setelah itu, selesai dan tinggal atur jadwal aja sama Pak Penghulu nya. Setelah itu saya diantarkan ke bagian Tata Usaha di KUA tersebut untuk membayar beberapa biaya yang wajib dibayarkan.

Sebenarnya Pemerintah Indonesia telah menetapkan biaya sebesar Rp 600.000,- saat pendaftaran pernikahan, biaya ini sebenarnya sudah termasuk biaya transportasi penghulu, tetapi anehnya saat itu penghulu bilang biaya ini hanya untuk pendaftaran KUA saja, belum penghulu. Malahan saya diminta untuk membayar ‘denda/dispens’ karena pendaftaran nikah kurang dari 10 hari dari waktu pernikahan, biaya yang dikenakan Rp 50.000 dan langsung saya bayarkan di ruang Tata Usaha. Saat itu, karena tidak mau terlalu rumit untuk bolak-balik ke Bank untuk membayarkan biaya pendaftaran pernikahan, akhirnya saya memilih untuk membayar juga di bagian Tata Usaha. Eh, gak taunya saya lagi-lagi dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 20.000 oleh petugas. Sehari kemudian, petugas KUA menginformasikan by Whatsapp perihal biaya yang sudah dibayarkan untuk pendaftaran menikah, anehnya disitu hanya tertera Rp 600.000 saja, tidak ada jumlah Rp 50.000 dan Rp 20.000.

Aneh memang, tapi ya begitulah Indonesia, rumitnya birokrasi dan apa-apa ada tarifnya hehe.

Nah, kurang lebih seperti itu syarat-syarat dan langkah-langkahnya, kalau dibaca memang rumit tapi setelah dijalankan, ternyata gak sesulit yang orang-orang bicarakan dan bayangkan. Mungkin terasa lebih mudah juga buat saya, karena saya berdomisili di Jakarta, jadi memang kemana-mana aksesibelnya mudah, kantor saya kebetulan dekat sekali dengan Kedubes Perancis, jadi izin sesekali tidak menjadi masalah.

Bagi pembaca yang masih bingung dan mau tanya lebih lanjut, sila tinggalkan pertanyaan atau komentarnya di kolom bawah ini ya!

Best,

Astrid

WITT #28: Working vs Wedding (?)

OMG… It’s been almost 2 months since my last post on my blog. You don’t know how much I really missed to write in here as well.

I know being busy is the most cliche reason one that I have now, but I just can’t deny it. I’ve been busy thinking and managing my wedding. Seriously, it takes a lot of effort to arrange a wedding by ourselves. I am not hiring an event organizer to arrange and manage my wedding, just because I think I still can handle it by myself while I am still a full-time worker.

It is indeed VERY challenging! But I love every single detail to manage all of it.

While managing my wedding, I also still busy working as a full-time human rights NGOs officer (as you all may already know). It’s very tough job, I guess all of you who are working or have been joined with a human rights NGOs knows how really tough the job we are working on. We have to do all of the things like writing, administration, financial, handling projects, etc.

On the other hand, it is very challenging as well for me and my partner to arrange and collect all the legal requirements and paperwork for our wedding. For those who still did not know, I am going to marry a foreigner. He is a French. So basically, all paperwork we have to manage it’s different and a little bit confusing sometimes. We have to arrange all documents between these two countries, basically to follow their rules. As we know, these two countries are very different in all of the aspects. In Indonesia, the wedding practically will be based on the religious practice and views. While in France, the country is more secular, basically, their marriage will be held in the civil office rather than religious one. Since I am a Muslim, so I will have an Islamic ceremonial and yes, my partner is going to convert to Muslim.

I know all of you must be curious how I arrange my paperwork for the wedding?

I definitely would like to share my experiences how I arrange my paperwork for the wedding next time and hopefully, my experiences will inspire my blog readers here!

If you really want to know my wedding preparation, please subscribe my blog here so you will not be missed my blog posts here!

Love,

Astrid

 

Picture from Pinterest.

Stardust by Bridestory Fair 2018

Seneng banget akhirnya bisa datang juga ke Bridestory Fair 2018! Kali ini event nya diselenggarakan di Grand Ballroom di Sheraton Hotel, Gandaria City. Mumpung dekat dari rumah juga, jadi emang udah niat banget untuk datang ke acara ini dari jauh-jauh hari. Apa sih Bridestory Fair?

Yes, it is an annual wedding fair which held by Bridestory.  Rata-rata memang yang datang dan berkunjung ke pameran ini tentu adalah pasangan muda yang tahun ini akan menyelenggarakan pernikahan, ada yang juga datang dengan orang tua, teman, sahabat, ataupun keponakan, kayak saya ini. Jadi, jangan heran kalau di beberapa foto ada ‘penampakan’ dari wujud keponakan saya.

Okay, let’s go back to the Bridestory fair!

Saya suka banget sama tema Bridestory Fair tahun ini, yaitu stardust. Kita bisa lihat hampir di seluruh ruangan Ballroom yang disulap dengan kerlap-kerlip lampu bak bintang-bintang di malam hari. Bahkan lebih serunya lagi ada satu ruangan yang di sulap benar-benar seperti kita berada di luar angkasa yang bertaburan dengan bintang-bintang.

Kira-kira kayak diatas penampakannya. Keren banget sih emang kalau dibayangin pernikahan dengan dekorasi kayak di atas ini. Dekorasi ini hasil karya dari Suryanto Decoration dan Lightworks.

Terdapat sekitar 100 wedding vendors yang berpartisipasi dalam pameran kali ini. Mulai dari wedding consultant service, wedding planner and organizer, photographers, wedding decorations, wedding costuems, seserahan decorations, wedding cakes, wedding invitations, dan masih banyak lainnya. Hampir semuanya bikin mupeng bangeeet! Suka banget sama desain-desain dan tema-tema yang ditampilkan di dalam Bridestory fair tahun ini. Kebetulan karena saya berniat untuk menyelenggarakan pernikahan pertengahan tahun ini, jadi memang lagi mencari banyak inspirasi dan referensi baik dari pameran pernikahan maupun dari orang-orang terdekat. Saya juga akan coba share beberapa vendors yang cukup menarik buat saya di postingan saya kali ini ya!

Saya sempat menyambangi beberapa vendors, dan sebenarnya lebih tertarik dengan beberapa vendor seperti wedding cake, decoration dan invitations sih! Ternyata trend saat ini benar-benar berkembang pesat dari beberapa tahun sebelumnya. Inovasi-inovasi terbaru pun kini mulai membanjiri, ide-ide out of the box bisa dengan mudah kita temui di beberapa vendor pernikahan yang ada di Bridestory Fair 2018 kali ini!

Kayak yang satu ini nih, vendor ini salah satu vendor yang terbilang unik! Mereka terkenal dengan gaya undangan yang menggunakan material acrylic.

 

IMG_20180210_122731
Premium Invitation made by acrylic
IMG_20180210_122839
The Vows

 

 

IMG_20180210_122845
Nah, ini vendor yang memproduksi premium invitation made from acrylic!

 

Awalnya saya sih sudah sempat melihat beberapa inspirasi undangan pernikahan seperti yang mereka produksi diatas ini di inspirational board yang ada di Pinterest saya. Tapi begitu lihat aslinya, ternyata bener-bener keren banget! Soal harga memang terbilang mahal, untuk 1 set bos invitation nya di bandroll sekitar Rp 173.900,- dengan minimum pemesanan untuk 200 undangan! But the price is worthed with the high-quality invitation that they made! Undangan ini tentu jadi kenangan tersendiri bagi si penerima, karena kita bisa menggunakan kembali acrylic box undangan tersebut.

 

IMG_20180210_120705
Installation collab by Pyaraphoto x Bitte Design Studio

Nah, kalau diatas salah satu instalasi pameran dari salah satu wedding photographer yang sudah cukup ternama di belantara Bridestory. Kamu bisa cek juga profile Instagram nya for more portfolios!

IMG_20180210_120036
Beautiful cakes decoration by “Gordon Blue Cake”

Selain vendor undangan pernikahan, saya juga menemukan dekorasi kue pernikahan yang cantiiiik sekali. Selain wedding cake, Gordon Blue ini juga punya kreasi lainnya, ada macaroon wedding cake, dan lain-lainnya. Pokoknya cake jaman now banget deh, anyway udah ada yang udah pernah coba ini?

IMG_20180210_120753IMG_20180210_120858

Anyway karena ini merupakan wedding fair pertama yang aku kunjungi, ternyata pernikahan jaman now benar-benar menguras duit ya? Beberapa waktu lalu dan hingga saat ini, maraknya tema wedding rustic yang terkenal dengan desain barang-barang antik dan bekas. Cukup menarik, bagi pasangan yang memilih tema klasik untuk pernikahannya.

Mempersiapkan pernikahan saat ini apa-apa terlihat seperti harus mahal dan glamour. Padahal hal yang lebih penting lainnya, kita sendiri yang harus pandai-pandai memilih dekorasi dan kebutuhan pernikahan dengan matang. Jangan memilih sesuatu yang kita inginkan saja, tapi harus cerna betul apa yang benar-benar kita butuhkan. Itulah yang saat ini saya rasakan, penting juga untuk selalu mendiskusikan every details of the wedding preparation with our significant other. Jangan sampai, salah satu dari kita memaksakan kehendak masing-masing, sampai akhirnya jadi pemicu permasalahan di hubungan kita ya.

Menurut teman-teman, tema pernikahan apa ya yang bakalan ramai di tahun 2018 ini? Jangan lupa komen di bawah ini ya..