Perdebatan Seputar Pink Tax: Kenapa Ini Penting?

Beberapa dari kalian mungkin ada yang sudah notice atau paling tidak pernah mendengar istilah pink tax. Sebenarnya apa sih pink tax  itu sendiri? Terus dari mana istilah tersebut berasal? Dan mengapa pembahasan ini menjadi penting untuk diketahui? Perdebatan mengenai pink tax ini memang sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Istilah pink tax (pajak merah jambu) sendiri adalah fenomena perpajakan yang seringkali dikaitkan sebagai bentuk diskriminasi harga berbasis gender dan dikenakan khusus kepada perempuan untuk produk atau layanan tertentu. Menurut pengamatan sejauh ini, yang dimaksud adalah harga produk yang berwarna pink (which is identically dengan produk khusus perempuan dan anak-anak perempuan), harganya bisa 1-2 kali lipat lebih mahal dari harga produk lelaki atau gender netral.

Lalu, produk seperti apa yang dimaksud?

Teman-teman pasti pernah melihat bahkan membeli produk yang berkemasan pink dan diberikan label feminine?

Contoh paling simpel, produk pembalut (tampon pads) yang seringkali kita gunakan setiap bulannya di saat menstruasi, juga dibebankan pajak penjualan karena (entah bagaimana ceritanya) pembalut dianggap sebagai barang mewah (luxury items). Coba bayangkan ya, kita setiap bulan harus merintih kesakitan karena menstruasi, pengeluaran bulanan bertambah lantaran kita harus membeli pembalut atau tampons, dan harganya juga terbilang cukup mahal lagi, belum lagi pay gap gaji bulanan kita sebagai perempuan yang seringkali berbeda dengan kaum laki-laki, padahal jenis pekerjaannya sama.

Contoh lainnya, ketika kita ingin laundry pakaian, seringkali dengan bahan kemeja atau kaos yang sama dengan laki-laki, perempuan harus bayar lebih mahal hanya lantaran mereka membersihkannya dengan cara dry clean dimana kemeja/kaos laki-laki hanya dicuci dengan laundry normal. Padahal keduanya meminta untuk dicuci dengan laundry normal saja. Juga hal lain seperti, baju-baju berukuran besar (plus size), perempuan harus membayar lebih mahal, dibandingkan dengan laki-laki yang juga membeli baju ukuran besar.

pinktax3
Source: Boxed, from Pinterest

Sebagai pencinta warna pink saya pun benar-benar merasa tertampar, seringkali juga berpikir kenapa kemeja perempuan lebih mahal dibanding kemeja laki-laki padahal dari bahan sama, kualitas juga. Belum lagi harga shampoo dan sabun khusus perempuan yang juga cukup mahal jika dibandingkan dengan laki-laki.

Beberapa waktu lalu, The New York City Department of Consumer Affairs (DCA) mengeluarkan hasil studi perbandingan harga lebih dari 800 produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan perbedaan harga pembeli laki-laki dan perempuan ketika mereka membeli jenis barang yang sama. DCA memperoleh harga rata-rata untuk 35 jenis produk yang berbeda berdasarkan analisis 794 produk individual dan kemudian membandingkan harga produk laki-laki dan perempuan.

Hasilnya? Ternyata produk untuk perempuan atau anak-anak perempuan harganya 7% lebih dari produk yang sebanding untuk lelaki dan anak laki-laki dengan presentase berikut:

pinktax4

13% lebih banyak untuk produk perawatan pribadi

8% lebih untuk pakaian dewasa

7% lebih banyak untuk mainan dan aksesori

4% lebih banyak untuk pakaian anak-anak

Perbedaan harga yang diterapkan kepada gender yang berbeda ini, tentunya berdampak pada ketidaksetaraan ekonomi berbasis gender antara laki-laki dan perempuan .

Sederhananya, upah perempuan dibayar lebih sedikit untuk jenis pekerjaan yang sama, membayar lebih untuk produk yang sama dan dikenakan pajak atas produk yang tidak akan pernah dibeli oleh laki-laki.

Di Malaysia, akhirnya pemerintah akan menghapus Pink Tax pada produk menstruasi termasuk diantaranya panty liners dan pembalut wanita. Hal ini tertera di dalam website Departemen Bea Cukai (Customs Department) yang mengungkapkan pembalut dan tampon tidak dikenakan Pajak Penjualan dan Layanan (Sales and Service Tax) yang dahulu ditetapkan sekitar 5 hingga 10%. Bahkan, Wakil Direktur Jenderal Departemen Bea Cukai, Datuk Seri Subromaniam Tholasy telah mengeluarkan pernyataan oleh media pada tanggal 30 Agustus 2018, bahwa produk sanitasi adalah salah satu dari 5.443 barang umum yang bebas pajak.

Jauh sebelum Malaysia, pada tahun 2014 dikenal dengan sebutan Kampanye Georgette Sand, adalah campaign movement yang bergerak sangat cepat hampir di seluruh wilayah di Perancis. Terdapat lebih dari 40.000 orang menandatangani petisi untuk mendorong Kementerian Keuangan Perancis untuk mengadakan penyelidikan terhadap produk-produk kewanitaan.

Bulan Juli 2018 lalu, sekelompok perempuan di Korea Selatan memutuskan untuk berhenti menghabiskan uang setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya, sebagai langkah protes untuk melawan diskriminasi gender. Kampanye yang dimulai oleh group Facebook yang disebut Female Expenditure Strike dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran akan kerusakan yang dilakukan oleh iklan yang meremehkan perempuan, diskriminasi gender dan pink tax yang mengacu pada jumlah ekstra yang sering dibayarkan perempuan untuk membeli barang, dibandingkan dengan laki-laki. Pada tanggal 1 Juli 2018, sekelompok perempuan melakukan boikot untuk semua jenis pengeluaran, termasuk makanan dan transportasi. Kampanye ini bertujuan untuk menununjukan kepada masyarakat bahwa tanpa konsumen perempuan, industri maupun produsen akan mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar.

Beberapa bulan lalu, Burger King di USA juga turut serta menentang ketidaksetaraan gender dalam kampanye baru mereka. Di dalam videonya di bawah ini, mereka menjual Chick Fries dalam kemasan biru dan pink. Kemasan berwarna biru dengan harga $ 1.69 dan kemasan berwarna pink dengan harga $3.09, seluruh pengunjung perempuan sangat marah dan menolak perbedaan harga yang begitu jauh, dan salah satu pelayan mengucapkan “Chick fries ini keduanya produk yang sama, hanya kemasan saja yang berbeda dan untuk kemasan pink harganya jauh lebih mahal.” pembeli perempuan tetap kekeuh tidak mau membayar dan tetap protes karena perbedaan tersebut, lalu si pelayan menambahkan “Ketika kamu masuk ke dalam drugstore atau minimart dan kamu membayar harga $2 lebih untuk sebuah alat cukur, apakah kamu bisa berkata lain?” Disini Burger King berusaha untuk membuka mata para pembelinya akan adanya pink tax yang merugikan perempuan dan mengajak orang-orang untuk lebih pintar dalam memilih produk, juga untuk mendukung pencabutan Pink Tax Act.

Kalau kita tarik lagi dari awal sejarah, sejak dahulu memang sudah ada kritik feminisme lama terkait dengan budaya fashion dan kecantikan sebagai misoginis dan sangat patriarkis. Walaupun penetapan harga berbasis gender mungkin menjadi strategi bisnis bagi si pelaku industri, namun ada konsep diskriminatif yang mendasar yang diterapkan oleh pink tax. Terlepas dari berbagai stereotype umum jenis kelamin, gagasan bahwa wanita lebih konsumtif dan sebagainya, hal ini merupakan pandangan yang sangat berbahaya.

Awalnya memang pasti kita berpikir, “Masa iya sih? Ah, mungkin karena produk perempuan formulanya berbeda, lebih lembut, sensitive de el el…” ya itu juga seringkali dijadikan alasan bagi para produsen untuk membela kualitas dari produknya, tapi ternyata saya salah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir keadaan ini?

Dari hal-hal yang sederhana saja, kita bisa memulai dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyebarkan informasi baik melalui media sosial terkait dengan pink tax ini, jadi pergunakanlah media sosial untuk menyebarkan berita yang baik, bukan yang hoax ataupun sifatnya yang memprovokasi. Dengan cara ini, kita bisa membuka pikiran masyarakat agar lebih ‘melek’ dan bertanggung jawab atas barang-barang yang sedang atau akan dikonsumsi. Penting juga untuk mulai mencoba menghapus adanya stereotip negatif yang seringkali bias gender dimana pun kita berada.

Yuk, kita jadi konsumen yang bijak dalam memilih produk berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya. Mungkin dari sekarang saya juga mencoba untuk mengabaikan pemasaran produk yang cerdik dengan menjual produk dengan warna-warna yang terlihat ‘lucu’ dan mulai membeli produk berdasarkan harga dan kualitas produk. Jika memang produk laki-laki memiliki kualitas yang sama dengan produk perempuan dan memiliki harga yang lebih rendah, why not?

Jadi, selagi kita bisa, yuk hindari dan tolak membayar pink tax dimana pun kita berada.

Untuk melihat video lainnya mengenai pink tax, bisa dilihat di tautan ini.

Sumber:

A Study of Gender Pricing in New York City. From Cradle to Cane: The Cost of Being a Female Consumer, 2015 [Link: https://www1.nyc.gov/assets/dca/downloads/pdf/partners/Study-of-Gender-Pricing-in-NYC.pdf]

Which Retailers Charge the Largest ‘Pink Tax?, 2016 [Link: https://www.forbes.com/sites/whynot/2016/01/07/which-retailers-charge-the-largest-pink-tax/#57b6a9ef381b]

No More Pink Tax for menstrual products, 30 Agustus 2018 [Link: https://www.thestar.com.my/news/nation/2018/08/30/no-more-pink-tax-for-female-menstrual-products/]

Asia One. South Korean Women Boycott Spending First Sunday Every Month Protest against Pink Tax, 3 Juli 2018 [Link: http://www.asiaone.com/asia/south-korean-women-boycott-spending-first-sunday-every-month-protest-against-pink-tax]