Berkunjung ke Istana Beauty & the Beast, Château de Chambord di Perancis

Liburan akhir tahun lalu, akhirnya kami memutuskan untuk ke salah satu istana yang letaknya tidak jauh dari kota Orléans, dimana mertua saya tinggal, yaitu Istana Chambord atau Château de Chambord. Paling suka kalau jalan-jalan di Eropa itu, mampir ke istana-istana, biar serasa kayak ada di film-film Disney Princess gitu.

Bagi yang belum tau, sebenarnya banyak istana di Perancis yang beberapa diantaranya dijadikan latar belakang untuk film-film kerajaan, bahkan hingga film animasi. Mungkin salah satunya yang tidak cukup banyak diketahui orang-orang adalah Istana Chambord ini. Awalnya, saya juga gak tau kalau istana ini dijadikan latar belakang film Beauty and the Beast, tapi memang saat berada disana, feel-nya beda banget, serasa balik ke masa itu.

Foto istana diambil dari pintu masuk

Istana ini merupakan istana terbesar yang terletak di lembah Loire, Perancis, dan sangat terkenal di seluruh dunia akan keindahan dan kemegahan arsitektur bergaya Renaissance Perancis yang sangat khas. Arsitektur istana ini memadukan bentuk abad pertengahan tradisional Perancis dengan struktur Renaissance klasik. Awalnya, istana ini dibangun hanya sebagai pondok atau destinasi liburan bagi Raja Francis I dan ketika ia ingin menyalurkan hobi berburunya.

Salah satu desain arsitekturnya yang paling terkenal di istana ini adalah dengan adanya tangga spiral terbuka ganda yang tricky banget dan menjadi pusat dari istana ini.

Lorong bawah dari tangga spiral yang khas di istana Chambord

Kalau ada yang inget di film Beauty and the Beast, ada bagian yang Belle lari-lari di lorong tangga yang melingkar? Nah, bagian itu terinspirasi dari tangga spiral karya Leonardo Da Vinci ini.

Ini juga tangga helix yang berada di bagian luar istana
My happy face in Chambord
Look at this beautiful roof

Jadi, ternyata memang desainer film tersebut niat banget mengunjungi istana Chambord ini untuk melakukan riset dan mencari inspirasi dalam merancang desain istana yang dimasukan ke dalam latar belakang di film tersebut.

Istana ini juga memiliki taman yang cukup luas dan dikelilingi oleh taman berhutan sekitar 52,5 kilometer persegi (13.000 hektar). Sayangnya, karena waktu itu kita datangnya sudah agak sore, sekitar jam 3 dan juga saat itu musim dingin, jadi kita hanya memiliki waktu sedikit untuk jalan mengelilingi seluruh taman di istana ini. Soalnya, jam 5 sore sudah mulai gelap dan semakin dingin. Sekarang agak nyesel gak sempat mengelilingi taman tersebut.

Terdapat beberapa raja yang sempat menempati maupun singgah di istana ini. Walaupun Raja Francis I yang pertama kali membangun istana ini pada tahun 1519, ia tidak sempat merasakan tinggal lama di istana tersebut, bahkan ia hanya sempat melihat beberapa bagian dari istana tersebut sampai akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 1547. Lalu, Gaston d’ Orléans singgah di istana ini bahkan menjadi orang pertama yang melakukan renovasi dan pemulihan di istana tersebut. Louis XIV kemudian memberikan sentuhan konstruksi terakhir di istana, juga melakukan kanalisasi sungai tersebut sekitar tahun 1660 dan pada tahun-tahun berikutnya ia menikmati berburu di Chambord.

Ayah mertua Raja Louis XV, raja Polandia, Stanislaw Leszczynski, saat diasingkan juga tinggal di istana Chambord. Saat musim panas tiba, wabah malaria memaksanya meninggalkan istana dan mencari perlindungan sementara di rumah-rumah terdekat (Blois, Saint-Dyé, château Saumery, château Ménars). Ingin membersihkan udara di Chambord, ia melanjutkan proyek kerja yang dilakukan oleh Louis XIV di sekitar istana. Kemudian pada tahun 1745, Maurice de Saxe, marshal dari Prancis, menerima istana Chambord dari tangan Louis XV sebagai hadiah untuk eksploitasi militernya.

Pada tahun 1821, setelah kampanye penggalangan dana nasional Henri, cucu Raja Charles X, menerima istana Chambord sebagai hadiah kelahirannya. Saat itu juga, untuk pertama kalinya istana ini dibuka untuk umum untuk memamerkan beberapa koleksi karya seni yang dipamerkan di istana tersebut. Namun, pada tahun 1883, Henri Duc de Bordeaux pun wafat, lalu memberikan istana kepada pewaris langsung, yaitu Raja Louis XIV.

Walaupun sudah didirikan sejak tahun 1519, istana ini baru selesai pembangunannya di bawah pemerintahan Louis XIV. Dan tahun 1930, istana dan tamannya telah menjadi milik negara. Lalu, sepuluh tahun setelah itu, tahun 1940, istana Chambord mulai terdaftar di Warisan Dunia UNESCO.

Kini di setiap ruangan yang ada di istana Chambord berisikan beberapa barang-barang pribadi milik raja-raja tersebut, lukisan istana Chambord di masa itu, juga beberapa koleksi seni lainnya.

Jika dibandingkan dengan Versailles, menurut saya, harga tiket masuk istana Chambord lebih murah. Waktu itu bulan Desember 2018, saya kesana bayar sekitar 13 EUR. Khusus untuk EU residents berusia di bawah 25 tahun, GRATIS! Untung dibayarin mertua, jadi gak syok-syok banget deh harus bayar segitu, karena kalau di rupiah-in harganya sekitar Rp 200.000.

Jadi, kalau teman-teman Her Love’s punya waktu lebih saat jalan-jalan di Perancis, saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke istana ini. Namun, untuk transportasi, alangkah baiknya untuk menggunakan mobil sendiri atau mobil sewaan, karena letaknya yang terpencil dan jauh dari akses transportasi publik.

Alamat: Château, 41250 Chambord