Featured

Living in Rouen #2: Gimana metode cepat belajar bahasa Perancis?

Yup, seperti judul diatas, aku sekarang mau sharing ke kalian, gimana caranya aku belajar bahasa Perancis. Bahasa ketiga yang memang sejak dulu pengen banget aku pelajarin! Selain karena suka negaranya sejak masih kecil, bahasa Perancis termasuk bahasa wajib di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Which is one of the most important languages in the world.

Belajar bahasa baru tuh selalu menantang buat aku pribadi, apalagi ketika alphabet, penulisan, hingga susunan kalimat, cukup berbeda dengan our native language, tapi bukannya disitulah tantangannya? Mungkin akan lain ceritanya kalau aku belajar Bahasa Cina, Jepang atau Korea ya, secara penulisannya aja udah beda banget, jadi perjuangannya pasti lebih berat dan aku salut banget sama orang-orang yang pelajarin dan bisa ketiga bahasa tersebut.

Dulu sewaktu SMA aku pernah mendapatkan pelajaran bahasa Jerman. Sebenarnya saat itu kita bisa memilih, kalau kita memilih IPA, kita mendapatkan tambahan pelajaran bahasa Jerman, sedangkan kalau IPS, kita mendapatkan tambahan pelajaran bahasa Perancis. Nah, karena aku memilih jurusan IPA, jadilah aku sempat belajar bahasa Jerman juga di sekolah.

Tapi ya gitu deh, setelah kelulusan, gak pernah praktik ngomong lagi, semua kayak hilang begitu aja.

Sayang banget kan?

Disitulah aku merasa, ternyata memang hal-hal terpenting untuk belajar bahasa ya untuk terus melatih kemampuan kita terutama untuk banyak berbicara, menulis, membaca dan mendengarkan.

Semenjak aku pindah ke Perancis bulan Desember 2018 lalu, aku merasa agak sulit beradaptasi, in terms of bahasa. Hampir semua di public spaces, mereka hanya bisa ngomong bahasa Perancis, keluarga dan teman-teman suami juga begitu, ada beberapa dari mereka yang mengerti bahasa Inggris, tapi tidak terlalu lancar untuk berbicara. Kalau kamu ngomong bahasa Inggris, let say for example, di publik, kadang ada aja orang Perancis “resek” yang tiap ditanya, pasti jawabannya begini,

“En France, nous parlons français.”

Which means, di Perancis ya kita harus bisa bicara bahasa Perancis.

Disini untuk kerja pun, bahasa Perancis menjadi bahasa utama untuk dipertimbangkan, sementara bahasa Inggris, bahasa kedua. Sejak saat itu, aku pun akhirnya bertekad untuk belajar bahasa Perancis dengan serius!

So, sekarang aku mau share gimana caranya aku keep-up untuk praktik dan belajar bahasa Perancis selama beberapa bulan terakhir ini. Bagi beberapa orang mungkin caranya kurang lebih sama atau malah sangat berbeda, jadi ini tergantung kemampuan dan pemahaman masing-masing orang. Jadi, menurut ku pintar-pintarlah mencari cara belajar paling efektif buat kamu.

Bergabung dengan kelas bahasa vs otodidak?

Aku pernah belajar bahasa Perancis secara otodidak, les private hingga bergabung dengan sekolah bahasa Perancis (cours de langue) di salah satu Universitas di Rouen dan tempat kursus khusus bahasa Perancis yang bekerjasama dengan Pemerintah Perancis. Buat aku tentu ada perbedaannya, yang pertama jelas suasana dan tekniknya.

Kalau belajar sendiri waktunya kita bisa atur sendiri, tapi susunan harus pelajarin yang mana dulu kita gak tau baiknya gimana, belum lagi banyak gangguan ketika kita belajar di rumah sendiri. Oh iya satu lagi, aku merasa kita less practice to speak! Padahal, yang paling penting itu ya praktik bicaranya.

Belajar private dengan guru berbahasa Perancis, menurut aku juga oke, tapi ya interaksi kita terbatas dengan gurunya saja. Walaupun enaknya waktu belajar terfokus hanya ke kita aja dan gak malu-malu banget kalau salah-salah ngomong atau accent kita terdengar aneh.

Lain lagi kalau kita belajar di sekolah dan tempat kursus, interaksi berbicara lebih banyak, untuk listening juga lebih sering. Belajar sama native nya kita juga bisa tahu jelas accent dan lafal yang benar dalam pengucapan itu seperti apa. Walaupun percayalah, agak sulit untuk kita orang Indonesia melafalkan kata-kata dalam bahasa Perancis yang benar-benar beraksen seperti orang Perancis. Di tempat kursus yang aku sempat lakukan baik level A1 dan A2, kita disajikan begitu banyak soal-soal untuk latihan, baik memahami bacaan, soal, mendengar dan menulis. Kebanyakan dari sekolah ku itu adalah para imigran yang tinggal di Perancis, baik mereka pengungsi, pencari suaka, maupun memang imigrasi karena menikah dengan WN Perancis. Jadi, kita sama-sama belajar bahasa Perancis, gak ada yang salah dan benar, kita akan coba terus berbicara dan melatih pemahaman kita, juga nilai plusnya, belajar kebudayaan negara-negara lain.

Take notes dan belajar dari handmade flashcards

Berhubung aku tipe orang yang belajar dan mudah mengingat dengan mencatat, aku senang banget mencatat semuanya di buku sakti ku. Jadi, ketika bingung atau lupa apa yang dipelajarin, instead of Google melulu, aku langsung buka buku catatan. Dan aku paling suka baca buku catatan yang memang berwarna dan rapih penulisannya, jadi sebisa mungkin aku pasti menuliskannya dengan rapih, karena menurutku lebih mudah diingat aja ketika kita mencatat dengan rapih dan berwarna.

Selain itu, aku senang buat flashcards! Saat masih di level A1 aku suka banget buat flashcards yang isinya VERBES, contoh kalimat dalam PRESENT TENSE, vocabularies, conjugaisons, french expression dan sebagainya. Pokoknya aku buat yang memang bakalan sehari-hari kita ucapkan, kita dengar dan kita tuliskan (baik melalui SMS atau chatting dengan keluarga dan teman). Flashcards ini bisa kita buka dan baca kapanpun, mau di kendaraan umum, sebelum tidur, dan sebagainya.

My handmade flashcards

Kenapa gak download flashcards app aja sih, Kak?

Ya boleh juga, terserah kamu aja lebih mudah belajar dengan mekanisme yang seperti apa, kalau aku sejak dahulu, belajar dari hasil tulisan dan catatan tangan sendiri, udah paling benar dan efektif. Karena bantu aku memorizing dengan mudahnya juga.

Écouter de plus en plus! Listening more and more!

Semenjak tinggal di Perancis hampir 80% keseharian aku pasti mendengarkan, membaca kata-kata maupun kalimat berbahasa Perancis. Mulai dari beli pain aux amandes di boulangerie atau baker shop, di supermarket, kirim surat/kartu pos di kantor pos dan sebagainya. Se-mu-a-nya, otomatis aku belajar untuk memahami dan mencari tahu apa artinya.

Mendengar itu juga bagus banget untuk melatih dan belajar bahasa Perancis yang baik dan benar. Sejak tinggal disini dan harus mulai serius belajar bahasa Perancis, aku berusaha mencari podcast-podcast berbahasa Perancis atauuu… podcast yang memang khusus untuk belajar berbahasa Perancis. Kebetulan memang dari dulu hobi dengerin radio, jadi aku mulai juga belajar untuk mendengarkan podcast yang berbahasa Perancis. Di bawah ini rekomendasi podcast yang bisa kalian dengarkan untuk belajar bahasa Perancis: Coffee Break French, Oui Podcast France, Learn French by Podcast, Intermediate French Podcast (Inner French) dan sebagainya. Favorit aku yaitu, Coffee Break French danIntermediate French Podcast (Inner French).

Bedanya? Kalo Coffee Break French, selain ada terjemahan bahasa Inggrisnya, ada beberapa tematik berdasarkan level bahasa Perancis kita. Jadi kita juga dikasih tahu cara ngomong dan pelafalannya. KalauIntermediate French Podcast (Inner French), ada berbagai tematik isu yang dibahas dan seluruh pembahasannya berbahasa Perancis (no translation!), tetapi speaker-nya bercerita dengan aksen yang sangat mudah didengar, pelafalan yang baik dan benar, juga tentunya yang paling penting, bercerita dengan perlahan-lahan. Tau sendiri dong, kalau orang Perancis ngomong cepetnya kayak apa? Sama sih sebenernya kalau kita ngobrol sama temen dengan bahasa Indonesia.

Jadi, kalau mau lebih peka dan mengerti ketika French native speaker berbicara, harus banyak-banyak denger yang all version with bahasa Perancis, supaya telinga kita terlatih untuk mendengarkan bahasa tersebut.

Selain podcast, bisa juga belajar melalui lagu! Kalau kita bisa dengar musik berbahasa Korea, yang padahal kita gak tahu artinya aja kita bisa, kenapa gak mencoba bahasa Perancis? Begitu yang ada di otakku beberapa waktu lalu. Awalnya, super aneh banget, somehow genre musiknya pun juga berbeda sama yang biasa aku dengerin atau mungkin karena memang gak biasa aja kali ya? Walaupun sampai saat ini aku belum mudeng banget dengan lagu-lagu ngetrend di Perancis (kalau bukan karena suamiku).

Setelah aku naik level A2 (dan September besok, aku akan lanjut B1) aku menyadari banget bahwa aku sangat kurang di listening dan speaking. Bukannya tidak bisa bicara, bahkan menurut profesor aku di sekolah, bahasa Perancis ku benar-benar berprogres sangat cepat dibanding teman-teman lainnya. Tetapi, masih sedikit vocabularies dan verbes yang aku ingat dan dari awal aku selalu takut salah bicara.

Padahal yang paling penting dari belajar bahasa kan memang harus berani berbicara, salah mah hal yang wajar namanya juga belajar?

Pilih film atau serial Perancis ber-subtitle atau bilingual

Semenjak tinggal disini, aku suka bingung mau nonton di bioskop, pertama karena memang mahal banget if we compare dengan harga tiket bioskop di Jakarta, kedua karena rata-rata hampir semua bioskop disini film-nya udah pada di dubbing ganti bahasa Perancis. Kalau gak di dubbing bahasa Perancis, terjemahannya bahasa Perancis. Nah, kalau terjemahannya bahasa Perancis tapi filmnya original version with English, aku masih gak apa-apa banget, at least aku bisa tau bahasa Perancisnya itu apa.

Alhasil, harus pilih-pilih film apa yang benar-benar harus ditonton di bioskop.

Sejauh ini, aku baru nonton beberapa film Perancis, kalau kata profesorku, banyak film serial Perancis yang bagus-bagus dan sayang untuk dilewatkan, tapi aku lagi mengurangi nonton serial (apapun itu, soalnya kalo aku nonton film serial Korea, paling susah berhenti, siapa yang setuju? Acung!). Selain karena takes more time, takut nanti ketagihan. Soalnya aku kalau nonton serial, suka penasaran pengen cepat-cepat nonton sampai habis dan seringkali malah menghabiskan waktu ku di apartemen. Jadi, malah gak produktif, cuma nonton aja.

Tetapi, kadang aku suka iseng, kalau nonton film berbahasa Inggris, instead of aku cari subtitle bahasa Indonesia, aku cari yang subtitle-nya bahasa Perancis (gak apa-apalah ya? Namanya juga mencoba…)

But I believe that learning new language from movies is the easiest way to enhance your vocabulary, improve your understanding of the language and their culture also.

Baca koran, majalah atau berita bahasa Perancis via online

Aku senang banget tinggal di Perancis, salah satunya mereka banyak banget publikasi baik itu koran, majalah, maupun buku tour guidance yang GRATIS! Biasanya sering tersedia di hampir setiap jalan besar di kota ku maupun tourism center office. Dari situ biasanya aku belajar membaca dan memahami bahasa Perancis. Kalau waktunya lagi banyak dan lagi rajin, aku bahkan sampai corat-coret koran atau majalah tersebut.

Selain itu, penting juga mengandalkan berita portal online yang ada di internet. Beberapa portal berita yang sering aku ikuti dalam berbahasa Perancis yaitu; Le Parisien, Le Monde, 20 Minutes, Mon Quotidien dan lainnya. So far, yang aku ikuti media sosialnya ya, Le Parisien. Bahasanya somehow dapat aku mengerti dibanding Le Monde yang lebih advanced. Sedangkan, kalau di Rouen, kota ku, aku lebih sering baca Côté Rouen dan Tendance Ouest.

Selain mudah dimenegerti, banyak update events di kota ku dan berita yang terjadi di sekitar Rouen dan departemen Seine Maritime.

Tandem partner untuk conversation

Beruntunglah aku bisa berlatih bahasa Perancis setiap hari dengan suami! Jadi, buat teman-teman yang menikah dengan WN Perancis, harus dimanfaatkan kesempatan untuk belajar bahasa Perancis. Aku kadang belajar dengan suami dan memintanya untuk mengoreksi PR aku di sekolah. Selain itu, praktik untuk belajar berbicara. Selain itu, kalau kamu bergabung di sekolah atau tempat kursus, kesempatan kamu berbicara dengan native atau French speakers juga lebih banyak. Karena sama-sama belajar, jadi gak usah takut salah atau lupa mau ngomong apa, namanya juga belajar.

Sebenarnya beberapa cara belajar bahasa yang ku sebutkan diatas bisa diaplikasikan kepada siapa pun yang sedang belajar bahasa, selain bahasa Perancis.

Kuncinya, harus sering-sering latihan ngomong, menulis, membaca dan mendengar.

So, tetap semangat ya!

Featured

First Video Collaboration with Narasi.TV

Since I moved and living together with my husband here in Rouen, France, I always missed Indonesian food. And so do him. He fell in love with Indonesian food since the first time he tried Indonesian Nasi Goreng.

Then he told me, there is an Indonesian food truck that sells nearby his University which caught our eyes and our stomach, of course. Therefore, we would like to introduce you to the Indonesian Food Truck which is very famous here in our city!

Here we present you our friend who sells Indonesian food in Rouen, France.

LE JAVA BALI!

Thank you, Narasi TV team!

Featured

Living in Rouen #1 : Jadi Stay-Home-Wife, bisa ngapain aja?

Ternyata sudah hampir 3 bulan sejak aku pindah ke Rouen, Perancis. Masih beradaptasi banget sih, sama lingkungan baru, bahasa baru, teman-teman baru, termasuk cuaca juga. Walaupun ini kedua kalinya aku merantau ke negeri orang, tetapi kali ini gak ngerasa kesepian banget, soalnya ada suami yang menemani.

Kalau dulu kan masih single, cieee…

Awalnya sempat berpikir, ternyata begini ya memulai hidup yang benar-benar baru di negara yang baru juga. Aku yang biasanya manja banget di Jakarta, makan tinggal makan, belanja ada yang nemenin, mau beli makanan tinggal beli di depan komplek rumah, mau bakso tinggal panggil abang-abang yang lewat, males keluar naik bis tinggal pesen ojek online, mau pesen makanan tapi jauh tinggal pake ojek online, disini semuanya berubah 180 derajat.

Sekarang tiap mau makan, udah harus mikirin dari seminggu sebelumnya, minggu depan mau masak apa aja ya kira-kira? Suami suka makanan apa ya? Besok mau coba resep baru apalagi ya? Belum lagi kalau tiba-tiba ngidam sama masakan Indonesia, yang belum pernah dibuat sebelumnya. Otomatis langsung Googling atau gak, tinggal andelin Youtube deh!

Walaupun sebenarnya suami udah mandiri dan lebih jago masak (khususnya baking sih) daripada aku, karena dia udah jauh lebih lama hidup mandiri daripada aku sendiri. Dan, aku benar-benar bersyukur untuk hal satu itu. Jadi, sering juga kita gonta-gantian masak atau kadang aku yang masak menu utama, suami yang baking kue untuk pencuci mulut setelah makan.

Disitu aku tersadar, kehidupan rumah tangga itu memang SEHARUSNYA seimbang.

Walaupun suami sibuk dengan pekerjaan dan studinya dari pagi hingga sore hari, tapi dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami. Dia gak gengsi untuk turut bebenah di apartemen dan bantu untuk mencuci piring kotor, masak, juga sebagainya.

Okay, next.

Selain itu, aku yang sejak tahun 2011 sudah kerja dan berpenghasilan sendiri, merasa lebih aneh ketika harus tinggal di apartemen aja tanpa melakukan rutinitas kerja seperti biasanya. Ya, walaupun kegiatan blogging ini ku anggap sebagai pekerjaan sih, walaupun memang belum menghasilkan uang. Dari dulu, memang aku senang menulis dan mempelajari hal-hal baru, tapi emang anaknya juga gampang bosenan.

Sorry, I am a truly geminian. No wonder dong ya.

Semenjak tinggal disini banyak juga yang tanya kayak…

Gimana tinggal disana? Enak gak? Terus kegiatannya ngapain aja sekarang? Gimana bahasa Perancis-nya? Kapan program punya anak? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kadang, aku jawab sekenanya aja.

Beberapa teman dekat dan keluarga ku pasti udah tau banget, kalau tinggal di Perancis adalah salah satu mimpi aku dari kecil. Jadi, kalau ditanya enak gak tinggal di Perancis? Pasti aku akan jawab alhamdulillah enak dan nyaman. Udara dan ambience disini benar-benar bikin aku lebih produktif dibanding saat di Jakarta. Di Jakarta, mungkin kita seringkali mengeluh perkara polusi udara, suhu yang panas dan lembab, macet, banjir dan sebagainya.

Alhamdulillah semenjak disini, keluhan yang biasa aku lontarkan sewaktu di Jakarta hilang mendadak, karena disini aku bersyukur banget udaranya lebih fresh, jauh dari polusi udara, suhunya cukup dingin sih untuk orang tropis macam aku ini, disini masih macet sih kadang, tapi kita bisa dengan mudahnya jalan kaki walaupun agak jauh lokasinya, karena trotoar dan pengendara mobil maupun motor disini sangat tertib! Ada trotoar khusus untuk pejalan kaki juga untuk pengguna sepeda. Disini menjadi pejalan kaki memiliki privilege khusus, kenapa? Karena kalau kita jalan kaki dan menyeberangi zebra cross, khususnya yang gak ada traffic light untuk pejalan kaki, mau sekencang apapun kendaraan, mereka akan berhenti dan wajib mendahului pejalan kaki untuk menyeberang. Mereka akan benar-benar menunggu sampai kita selama di trotoar, baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Segitu high respect nya sama pedestrian!

Terus kegiatannya apa aja di Perancis?

Disini aku melanjutkan sekolah bahasa Perancis di salah satu pusat bahasa di Universitas di kota ini. Satu kampus sih sama suami, jadi enaknya suka pulang bareng, walaupun aku kelasnya sore sampai malam. Bahasa Perancis itu emang selalu jadi bahasa ketiga yang pengen banget aku pelajarin dari jaman SMP or SMA. Jadi, ketika mempelajari bahasa Perancis sekarang lebih jadi kewajiban dan prioritas utama, rasanya seneeeng banget! Walaupun aku akui, bahasa Perancis itu susah banget, mungkin tetap lebih sulit mempelajari bahasa China, tapi buat aku ini aja sudah menguras pikiran banget, hehe.

Kenapa menjadi prioritas? Soalnya disini kalau mau survive tinggal dan hidup di Perancis, harus bisa bahasa Perancis, minimal bahasa atau kata-kata yang sifatnya sehari-hari. Makanya syarat untuk kerja dan kuliah itu, kalau gak salah, minimum A2 hingga B2.

Next…

Tentunya, standard pekerjaan rumah tangga kayak masak, bersihin apartemen, cuci baju dan sebagainya. Dulu aku selalu beranggapan remeh banget dengan semua pekerjaan tersebut, tapi begitu semua harus aku kerjakan sendiri, jadi baru tau kalau pekerjaan ini juga penting dan mungkin gak semudah itu bagi beberapa orang. Aku merasa aku jadi lebih disiplin, lebih menjaga kebersihan, sangat memerhatikan hal-hal yang buat diri sendiri dan suami merasa nyaman untuk tinggal di apartemen.

Selain itu, aku punya waktu yang lebih banyak untuk baca buku-buku favorit plus merasa lebih bisa mengeksplor kemampuan lain dari diri aku sendiri.

Hah maksudnya?

Iya jadi bisa banyak belajar hal-hal lain yang dari dulu pengen banget aku pelajarin tapi selalu gak ada waktunya.

Cliché banget kan alasannya?

Aku juga bisa belajar masak ini itu lebih banyak disini, bahkan masak-masakan yang belum pernah dimasak sebelumnya sewaktu masih tinggal di Jakarta. Buat yang penasaran aku udah masak apa aja, bisa diintip di highlight Instagram stories aku disini (boleh banget sekalian di follow Instagram-nya hehe). Untungnya suami rela jadi kelinci percobaan dari setiap makanan yang ku masak, hihi!

Terus aku jadi bisa editing video untuk vlog iseng-iseng yang aku dan suami buat! Masih basic banget juga sih, buat yang mau nonton bisa di subscribe dulu di Youtube channel aku, hehe.

Selain itu, jadi merasa lebih produktif nulis untuk blog juga. Soalnya jadi banyak pengalaman baru yang dirasain selama tinggal disini, jadi pengen berbagi pengalaman juga.

Oh iya, terus sekarang juga lagi coba-coba belajar handlettering. Nah, ini salah satu hal yang pengen banget aku pelajarin dari beberapa tahun lalu. Aku udah sedikit-sedikit beli stationeries kit untuk handlettering. Pengennya sih merambah dunia bullet journal juga, soalnya aku follow banyak banget bullet journal Instagram profile yang hasilnya tuh lucu-lucu dan keren-keren banget, selain itu mereka juga bisa banget menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan mereka. Dulu waktu di Jakarta, sempet nyobain, tapi kayak ya udah hilang-timbul aja!

baby steps

Jadi, sekarang mau mulai belajar handlettering dulu aja, sebelum serius bullet journaling. Doakan yaaa gengs!

Tapi aku yakin banget masing-masing dari kita tuh sebenarnya ada bakat tersendiri, bahkan memiliki semacam hidden talent yang baru kelihatan ketika kita benar-benar melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Salah satu cara mengetahuinya, ya dengan mengeksplor kemampuan diri sendiri lebih banyak aja, banyak mendengar apa yang hati dan pikiran kamu mau dan merasa nyaman untuk melakukan itu.

So, menurut aku untuk menjadi stay-home-wife or stay-home-mom juga sebenarnya bukan pekerjaan yang santai-santai aja di rumah sambil nonton drama, tapi ada tanggung jawab dan pekerjaan lainnya yang dimana, untuk melakukan semua hal tersebut dalam satu waktu, juga belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Jadi, jangan pernah mendeskriditkan orang-orang, khususnya perempuan, yang memilih untuk fokus merawat keluarga di rumah, begitu juga dengan perempuan yang memilih bekerja 9-to-5 sekaligus merawat anak dan keluarganya.

Sebagai penutup, sekali lagi aku ucapkan selamat hari perempuan sedunia untuk perempuan-perempuan hebat diluar sana! Kalian semua hebat, tangguh dan berhak menerima pendidikan dan pekerjaan yang layak sama seperti orang-orang lainnya.

So, tetap semangat!

Mengurus Visa Long Sejour: Ngapain aja di Kantor OFII?

Akhirnya, legal tinggal di Perancis! Yaaay, alhamdulillah…

Itulah kira-kira yang saya rasakan dan ucapkan kepada suami setelah mendapatkan stiker dari OFII di paspor saya. Buat yang pertama kali mengurus ini pasti senang banget ketika syarat-syarat yang OFII berikan, berhasil terlewati.

Deg-degan gak? Jelas, bahkan deg-degannya udah dari seminggu sebelum pertemuan.

Kalau beberapa waktu lalu saya sempat sharing mengenai dokumen apa saja yang harus diurus setibanya di Perancis, kali ini saya mau coba berbagi pengalaman saya ketika beberapa waktu lalu melakukan pertemuan di OFII untuk memenuhi beberapa proses lainnya. Sebenarnya tidak terlalu sulit dan menegangkan seperti yang saya pikirkan, untuk proses sendiri hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam, tergantung hari itu apakah banyak imigran lainnya atau tidak. Kalau kemarin, dari semua proses yang saya lakukan, durasinya hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja.

Pertama, setelah kamu menerima undangan pertemuan (convocation) dari pihak OFII yang biasanya terdiri dari;

  • undangan melakukan tes radiologi (test de radiologie),
  • medical check-up (médical générale),
  • tes tertulis bahasa Perancis (test écrit en français) dan wawancara (entrevue)

Waktu itu, saya menerima 2 jadwal dengan hari yang berbeda; hari pertama saya diminta untuk melakukan tes radiologi.

Nah, tes radiologi adalah step kedua. Lokasi tes radiologi-nya berbeda dengan kantor OFII ya dan mereka yang menentukan dimana tempatnya. Untungnya lokasi tes radiologi saya dekat banget sama apartemen, jalan kaki cuma 10-15 menit aja. Prosesnya lagi-lagi termasuk cepat sih, jadi jadwal saya itu sebenarnya pukul 14.00, tapi kita sudah tiba di lokasi pukul 13.45. Which is ternyata bagus, karena ternyata saya dipanggil lebih cepat, hehe. Seperti tes radiologi pada umumnya, sebenarnya tes radiologi ini hanya ingin mengetahui apakah ada penyakit serius terutama pada bagian tertentu, dimulai dari tenggorokan dan bagian keseluruhan paru-paru serta jantung.

Langkah ketiga, tepat keesokan harinya, saya langsung ke kantor OFII. Kemarin, saya dapat undangan untuk datang pukul 09.00 pagi, tapi saya dan suami sudah tiba sekitar pukul 08.30 pagi, karena memang tidak terlalu jauh dari apartemen kami tinggal, hanya sekitar 15 menit dengan Metro. Begitu sampai di kantor OFII, kami menunggu beberapa orang lain yang sedang mengantri, lalu setelah giliran kami, kami pun bilang kalau saya ada janji untuk mengikuti proses verifikasi visa long séjour, dengan menunjukkan undangan dari OFII.

Pihak resepsionis pun menyuruh saya untuk langsung masuk ke dalam ruangan (seperti kelas dengan banyak meja dan bangku-bangku). Ternyata disitu saya diberikan kopian Contrat d’Intégration Républicaine (CIR), kontrak ini meminta kita untuk berkomitmen terhadap prinsip-prinsip dasar negara Perancis, serta beberapa persyaratan lain yang harus saya ikuti seperti kegiatan-kegiatan yang harus saya jalankan kedepannya untuk mendapatkan carte de séjour.

Apa aja tuh aktifitasnya?

  1. Pelatihan Kewarganegaraan (Formation Civique) >> akan ada sekitar 4 pertemuan pertama yang harus dijalankan, untuk apa? Agar kita bisa mengetahui dan memahami sejarah, prinsip dan nilai-nilai negara Perancis dan sebagainya.
  2. Pelatihan Bahasa (Formation Linguistique) >> kalau kemampuan bahasa Perancis kita di bawah level A1, maka OFII akan menyediakan kursus bahasa Perancis secara gratis!! Dan di akhir kursus, akan ada ujian dan kalau kamu dinyatakan lulus, kamu akan diberikan sertifikat lulus ujian.
  3. Pendampingan menuju integrasi profesional (Accompagnement vers l’insertion professionnelle) >> kamu akan mendapatkan arahan untuk mencari pekerjaan di Perancis yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikan kamu.
  4. Informations (Informasi) >> kalau ini lebih kepada informasi yang sifatnya publik, seperti gimana caranya kalo kamu mau melanjutkan studi di Perancis, membuat asuransi kesehatan, membuat sécurité sociale dan sebagainya.

Masih di ruangan yang sama, akhirnya saya dan beberapa orang lainnya (waktu kemarin, mungkin ada sekitar kurang dari 15 orang) diberikan 5 halaman kertas yang berisikan ujian tertulis bahasa Perancis.

Terus soal-nya kayak gimana, sih?

Kalau menurut saya, kemungkinan besar soal-soal yang diberikan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tergantung apakah kamu baru mau mengajukan visa long séjour atau sedang mengajukan carte de séjour, karena kemarin itu pesertanya campur, bahkan beberapa imigran ada yang sudah sedikit fasih menggunakan bahasa Perancis.

Tapi kalau saya, karena baru dan ingin apply visa long séjour, jadi diberikan tes untuk level A1. Di dalam kertas soal itu terdapat total 5 bagian soal yang terdiri dari; 1 bagian asosiasi (mencocokan gambar dengan artinya dalam bahasa Perancis), 2 soal pilihan ganda, 1 bagian untuk mengisi formulir dalam bahasa Perancis, 1 bagian untuk mendeskripsikan situasi berupa paragraf sesuai dengan yang ada pada gambar, dan 1 bagian untuk mendeskripsi.

Setelah menjalani tes tertulis, saya tersadar kalau saya masih sangat kurang dalam mendeskripsikan situasi dari gambar yang diberikan di dalam soal, karena sisanya saya bisa menjawab dengan benar.

Kok saya tau jawabannya benar? Soalnya setelah selesai langsung dikoreksi dan diberikan nilai sama petugasnya!

Sayangnya, ternyata bagian mendeskripsikan gambar itu, nilainya lumayan besar! Huhu..

Oke, lanjut…

Bagian keempat, setelah selesai tes tertulis, akhirnya saya dipanggil oleh petugas lain untuk wawancara. Wawancaranya bukan untuk melatih bahasa Perancis kok, tapi lebih kepada pengumpulan dokumen, pekerjaan terakhir di Indonesia, diploma terakhir di Indonesia, lalu kita ditanya apakah kita mau kerja nanti di Perancis, dan sebagainya.

Alhamdulillah staff-staff yang saya temui di OFII Rouen ini, informatif, baik-baik dan ramah sekali, yang wawancara saya juga bisa berbahasa Inggris walaupun tidak terlalu fasih. Dia juga ngasih saya beberapa informasi penting, seperti; kalau saya mau menerjemahkan diploma sertifikat dari Indonesia ke bahasa Perancis saya harus melakukan apa dan menghubungi siapa, provide informasi berupa website untuk mencari pekerjaan, juga gimana caranya mentransfer Surat Izin Mengemudi (SIM) Indonesia ke Perancis, walaupun dia bilang juga tidak semua negara bisa melakukan itu, tapi kalo saya mau cek bisa langsung ke kantor préfecture untuk mengurusnya.

Setelah selesai melengkapi informasi personal dan wawancara, saya diminta untuk menemui dokter untuk general check-up. Ada 2 dokter yang saya temui sih, yang pertama saya ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan, setelah itu ambil darah untuk cek gula darah. Setelah itu kita harus menjawab beberapa pertanyaan yang ada di komputer dokternya, apakah kita perokok aktif, apakah sering pusing, dsb. Kalau dokter kedua lebih ke pemeriksaan detak jantung, bagian punggung belakang, tenggorokan dan tekanan darah. Lalu, dokter menanyakan beberapa vaksin yang sudah pernah saya jalani dari kecil hingga vaksin terakhir.

Dan, ada informasi penting, ternyata bagi kalian yang ingin hamil, sebaiknya melakukan vaksin Rubéole atau di bahasa Indonesia nya rubella terlebih dahulu. Kenapa penting? Karena nanti akan sangat membahayakan bagi jabang bayi kalau kita tidak melakukan vaksin ini. Jadi, akhirnya dokter membuatkan semacam surat rujukan agar saya mendapatkan vaksin tersebut dengan dokter atau rumah sakit setempat.

Nah, yang terakhir atau kelima, setelah semua pemeriksaan dan sudah dapat certificat de controle medical dari dokter, saya harus balik lagi ke ruangan staff yang wawancara saya sebelumnya. Disitu saya diminta untuk menandatangani kontrak CIR yang saya sebutkan diatas, dijelaskan kalau saya sudah dijadwalkan dan didaftarkan untuk ikut kursus bahasa Perancis level A1 selama beberapa bulan ke depan, juga mengikuti beberapa pelatihan kewarganegaraan atau formation civique.

Setelah itu, voilaaaa… stiker OFII untuk visa long séjour saya akhirnya resmi ditempel di halaman visa paspor saya! Bahkan petugasnya sempat memberikan selamat,

“Congratulation, Astrid! Now you are legal living in France. With this, you can also travel to other European countries, get the benefit for health insurance, education, etc.”

Dan dia sempat mengingatkan juga kalau 2 bulan sebelum masa berlaku visa saya habis, saya sudah harus mengurus carte de séjour di Préfecture setempat!

Oh iya, nanti pada akhir pertemuan kursus bahasa dan formation civique, kita akan mendapatkan sertifikat! Sertifikat yang akan kita dapatkan dari kursus bahasa Perancis dan formation civique harus dilampirkan ketika kita ingin mengurus carte de séjour setelah visa long séjour kita akan habis masa berlakunya. Jadi, harus disimpan baik-baik semua dokumen yang diberikan oleh OFII, karena siapa tahu kita akan membutuhkannya suatu hari nanti.

Begitu kira-kira pengalaman saya 1.5 jam di kantor OFII. Alhamdulillah masih terbilang lancar dan tidak ada kendala, karena saya sempat melihat dan mendengar banyak dari beberapa WNI yang ada di Perancis, sempat lamaaa sekali untuk RDV di kantor OFII, karena biasanya kantor OFII biasanya hanya ada di kota-kota besar di Perancis. Ada yang bahkan kantor OFII nya bisa dibilang kurang kooperatif, jadi makanya saya bersyukur banget, semuanya berjalan dengan lancar.

Semoga teman-teman yang juga lagi nunggu RDV dari OFII, juga diberikan kelancaran ya!

Semangat!

Featured

Tiba di Perancis: Dokumen yang wajib diurus!

Salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan akhirnya datang juga! Bertemu kembali dengan suami, setelah long distance marriage (LDM), yaitu memulai hidup baru bersama di Perancis. Bagi WNI yang sudah melewati berbagai macam prosedur menikah dengan WN Perancis, memenuhi syarat keberangkatan dan pindahan ke Perancis, pasti senang sekali ketika akhirnya menerima visa long séjour dari pihak Kedubes Perancis.

But wait, you just passed one of all administrations.

Yang artinya, masih ada rentetan administrasi lainnya yang harus kamu urus nanti setibanya di Perancis. Berikut ini saya coba akan berbagi pengalaman, tips dan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan setibanya di Perancis.

Attention: ini yang saya dan suami lakukan di Perancis ya. Untuk yang berbeda negara, mungkin bisa Googling artikel lain terkait prosedur di negara tersebut. Karena saya yakin tiap negara pasti berbeda prosedur dan juga peraturannya.

So, mungkin saya bisa mulai terlebih dahulu menjelaskan mengenai Visa Long Séjour (visa long stay). Jadi, kalau kamu ingin menetap untuk waktu yang lama di Perancis, kamu diharapkan untuk membuat visa tipe ini. Namun, sebenarnya ada beberapa kategori terkait dengan visa long stay (visa jangka panjang) diantaranya;

  1. menetap untuk beberapa periode untuk liburan atau alasan pribadi
  2. profesional kerja
  3. pendidikan (sekolah, kuliah, kursus dll)
  4. bergabung dengan anggota keluarga.

Dalam kasus saya, tentu saya memilih alasan yang terakhir, yaitu untuk bergabung dengan suami saya dan menetap di Perancis.

Jaman saya beberapa waktu lalu, untuk urusan visa kita masih bisa melakukannya di TLS Contact website. Tapi terhitung sejak November 2018 lalu, kita harus ke website France Visa.

Jadi, setelah pilih di menu bar: Coming to France for >> Family purpose >> He/She is French >> Spouse of French national.

Untuk persyaratan seperti dokumen pendukung apa saja yang harus disiapkan, tentu hal ini jauh lebih mudah dilakukan ketika kamu sudah menikah dengan pasangan WN Perancis kamu. Persyaratan lengkap untuk membuat long stay visa, sila untuk membaca di artikel ini.

Setelah semua urusan visa ini selesai dan kita bisa berangkat ke Perancis, tentu masih ada rentetan dokumen administrasi lainnya yang harus kita lakukan setibanya di Perancis. Jadi, walaupun visa kita untuk setahun, bukan berarti itu berlaku secara otomatis selama setahun, biasanya masa berlakunya sekitar 90 hari, visa tersebut baru bisa berlaku dan dipakai, ketika kita memiliki carte de séjour.

Hah, apalagi itu carte de séjour?

Sabar, sabar ya. Jangan stress dulu, kamu dan pasangan kamu harus yakin kalau dengan dukungan satu sama lain, kalian pasti bisa melalui semua urusan administrasi ini dengan baik (cieee..). Jadi, tetap semangaaat ya!

Catatan penting: kalian harus membawa semua dokumen penting pribadi dan dokumen pernikahan ke Perancis (misal, akte kelahiran asli, fotokopi KK, ijazah pendidikan, transkrip, buku nikah, dll).

Supaya sesampainya di Perancis, gak kelimpungan cari-cari dokumen dan malah merepotkan keluarga di Jakarta untuk kirim dokumen-dokumen tersebut.

Oke, lanjut.

Pertama, carte de séjour atau residence permit adalah izin tinggal di Perancis untuk pendatang yang akan tinggal di Perancis hingga satu tahun maupun lebih. Beberapa kategorinya mengizinkan pemegang visa untuk tinggal selama 3 atau bahkan 4 tahun.

Untuk itu, biasanya bagi orang-orang yang baru tiba di wilayah Perancis, pemegang visa VLS-TS berkewajiban mengirimkan beberapa dokumen by post ke OFII kota dimana mereka tinggal, dengan melampirkan formulir aplikasi OFII yang telah diisi dan di stempel oleh pihak Kedubes Perancis sewaktu di Jakarta.

Dokumen lain yang juga harus dikirimkan kepada OFII diantaranya;

  1. Fotokopi halaman depan paspor yang berisikan identitas pribadi dan validitas paspor
  2. Fotokopi halaman stempel imigrasi Perancis (yang biasanya diberikan ketika masuk wilayah Perancis)
  3. Fotokopi halaman visa long stay
  4. Fotokopi livret de famille

Kirimkan semua dokumen diatas dengan Formulaire de Demande d’Attestation OFII yang sudah di isi seluruh informasi mengenai data pribadi kamu. Setelah itu OFII akan mengirimkan bukti tanda terima bahwa file sudah diterima dengan baik. Waktu itu tanda terima ini dikirimkan setelah 4 (empat) hari saya dan suami mengirim semua dokumen diatas.

Ingat, waktu lama atau tidaknya, bisa tergantung dari kantor OFII di daerah kalian ya.

Lalu, sekitar 3-4 minggu setelah menerima surat tanda bukti tersebut, saya mendapatkan surat panggilan dari OFII untuk melengkapi file, undangan untuk melakukan pemeriksaan medis dan radiologi, dan juga pertemuan pengantar (visite d’accueil).

Nah, pada pertemuan ini, kalian kembali diwajibkan untuk membawa dokumen-dokumen seperti; paspor, foto ukuran paspor (menghadap ke depan tanpa penutup kepala), bukti tempat tinggal di Perancis (tanda terima sewa, listrik, gas, air atau tagihan telepon rumah dengan nama kamu), hasil sertifikat medis, dan biaya pajak yang harus dibayarkan kepada OFII by online berupa stamp/timbre. Untuk ini, kamu bisa membayar dan mendapatkan stamp tersebut disini. Setelah itu mereka akan memberikan stempel bukti melalui email, stempel inilah yang harus dilampirkan dan dibawa saat pertemuan tersebut.

Tarif OFII ini berbeda-beda tergantung maksud dan tujuan kita tinggal di Perancis:

Pengunjung : 250EUR –> istri WN Perancis masuk ke dalam kategori ini

Pelajar & Trainee : 60 EUR

Profesional kerja : 250 EUR

Seperti yang sudah saya informasikan diatas, nanti akan ada personal interview dengan pihak OFII, pertemuan ini bertujuan untuk:

  • Presentasi mengenai Republican Integration Contract;
  • Tes tertulis untuk menilai kemampuan bahasa Perancis;
  • Wawancara personal terkait dengan situasi sosial dan profesional, kemungkinan menggunakan bahasa Perancis, atau disediakan interpreter kalau tersedia;
  • Penandatanganan Republican Integration Contract

Kebetulan saya baru akan memulai pemeriksaan medis dan interview awal Maret depan. Deg-degan sih, tapi mudah-mudahan semuanya akan baik dan lancaaar.

Nah, yang saya ketahui dan hasil ngobrol dengan beberapa imigran atau WN lainnya, setelah melihat hasil tes tertulis kemampuan bahasa Perancis, OFII akan menentukan apakah kamu membutuhkan kursus bahasa Perancis lagi atau tidak. Jika iya, kamu akan mendapatkan kursus bahasa Perancis secara gratis!

Setelah semua formalitas ini dilaksanakan, pada proses akhir validasi, OFII akan memberikan izin untuk kamu tinggal yang tercatat sah secara hukum di Perancis berupa melampirkan stiker dan tanggal di paspor kamu, selama masa berlaku visa yang tercantum di paspor kamu.

Wajib diketahui: Karena penyelesain formalitas ini mungkin memakan waktu cukup lama, bisa sekitar 1 bulan, tergantung kantor OFII setempat. Kamu harus memulai proses pengiriman seluruh dokumen sesaat setelah ketibaan di Perancis, paling lambat di minggu pertama setibanya di Perancis.

Jika kamu gagal melakukannya dalam waktu 3 bulan di Perancis, berarti kamu tinggal secara ilegal di Perancis dan harus membayar biaya legalisasi lagi.

Huft, memang penuh pengorbanan dan uang ya, menikah dengan WNA itu.

Nah, bagi yang ingin memperpanjang izin tinggal di luar dari visa dan residence permit, kamu harus memperpanjang visa atau izin tinggal dalam waktu 2 bulan terakhir, sebelum masa berlaku visa kamu berakhir.

Kunjungi kantor Préfecture setempat di kota kamu melakukan aplikasi permohonan izin tinggal. Nanti kamu akan diberikan formulir yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri kamu. Kalau kamu gagal atau tidak cukup waktu untuk melakukan perpanjangan ini, akan mengakibatkan kamu harus kembali ke negara tempat tinggal untuk meminta visa baru.

Kedua, setiba di Perancis kalian wajib Lapor Diri dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) di negara tersebut. Kenapa? Supaya kamu tercatat di KBRI dan kalau ada apa-apa, KBRI siap membantu. Misalnya, kamu ingin memperpanjang paspor yang masa berlakunya sudah abis. Jadi, data diri kamu sudah ada di KBRI, gak perlu repot ke Indonesia, cuman perkara perpanjang paspor (bukan apa-apa, ongkosnya kan lumayan ya, gengs). Juga, urusan pekerjaan, perceraian, kematian dan lainnya.

Nah, saat ini Lapor Diri untungnya udah online! Jadi, sila klik ke website ini. Untuk melaporkan diri kamu, sebaiknya kamu pilih kolom Daftar. Di isi dengan lengkap ya informasi pribadinya, untuk memudahkan tracking data kamu nantinya. Setelah itu, persiapkan beberapa dokumen dalam bentuk jpg seperti diantara ini:

  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Paspor halaman data diri
  3. Visa VLS-CF
  4. Bukti tempat tinggal di Perancis (slip listrik, kontrak apartemen, slip telepon)
  5. Carte de séjour (jika sudah ada) atau Surat Bukti Tanda Terima sedang dalam proses validasi administrasi by OFII

Setelah selesai, nanti kamu akan mendapatkan nomor registrasi lapor diri. Beberapa hari setelah melakukan lapor diri online, akhirnya saya mendapatkan email langsung dari Konsuler KBRI Paris, kalau mereka sudah menerima pendaftaran dan data saya. Jika ada beberapa dokumen yang belum terverifikasi, mereka juga akan minta kirimkan by email.

Ketiga, untuk mengurus Caisse Primaire d’Assurance Maladie (CPAM) atau Sécurité Sociale. Hal ini yang selalu diingatkan oleh suami saya setelah kami mengurus dokumen dengan OFII. Karena warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Perancis harus mendaftarkan diri ke French social security untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah, termasuk tunjangan asuransi kesehatan. Sistem jaminan sosial yang lebih dikenal oleh orang-orang Perancis sebagai la Sécu ini ada beberapa kategorinya. Penting bagi WNA di Perancis untuk mendapatkan nomor social security ini untuk mendapatkan benefit yang ditawarkan oleh pemerintah Perancis.

Saya sendiri menyerahkan pengurusan ini kepada suami, karena suami yang paling ngerti soal ini, tapi untuk formulirnya sila download disini

Setelah mengisi formulir tersebut, kamu juga harus melampirkan:

  1. Fotokopi paspor yang berisikan data diri
  2. Fotokopi visa
  3. Fotokopi stempel dari imigrasi Perancis
  4. Fotokopi surat tanda terima OFII (bagi yang belum punya residence permit)
  5. Fotokopi akte kelahiran (yang harus diterjemahkan ke Bahasa Perancis, dengan penerjemah tersumpah di Perancis)
  6. Fotokopi akun bank (kalau belum punya bisa pakai akun bank suami dulu, tapi lampirkan surat pernyataan ya kalau kalian berdua sama-sama mengetahui dan setuju untuk menggunakan akun bank suami nantinya untuk menerima benefit tersebut)
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal

Setelah mengisi formulir diatas dan mengumpulkan semua dokumen, langsung dikirimkan ke kantor CPAM atau Sécurité Sociale di kota kamu tinggal.

Keempat, membuat nomor pajak dan akun rekening bank. Harusnya ini sudah bisa dibuat dari sejak kita pindah. Namun, biasanya untuk mengurus nomor pajak memakan waktu lebih lama, terlebih jika kamu belum mendapatkan residence permit dari pihak OFII. Jadi, karena urusan residence permit saya juga belum selesai, akhirnya kami memutuskan untuk membuat nomor pajak dan akun rekening bank setelah urusan residence permit selesai.

Jadi, kira-kira segitu dulu ya informasinya! Mudah-mudahan cukup membantu. Next time saya akan cerita bagian senang-senangnya ya, seperti traveling atau cerita pengalaman gimana rasanya hidup di Perancis sebagai pasangan atau istri orang Perancis.

Sila komen di bawah atau juga bisa kontak saya by email jika ada yang ingin ditanyakan ya.

Bisous,

Astrid

Featured

Berkunjung ke Istana Beauty & the Beast, Château de Chambord di Perancis

Liburan akhir tahun lalu, akhirnya kami memutuskan untuk ke salah satu istana yang letaknya tidak jauh dari kota Orléans, dimana mertua saya tinggal, yaitu Istana Chambord atau Château de Chambord. Paling suka kalau jalan-jalan di Eropa itu, mampir ke istana-istana, biar serasa kayak ada di film-film Disney Princess gitu.

Bagi yang belum tau, sebenarnya banyak istana di Perancis yang beberapa diantaranya dijadikan latar belakang untuk film-film kerajaan, bahkan hingga film animasi. Mungkin salah satunya yang tidak cukup banyak diketahui orang-orang adalah Istana Chambord ini. Awalnya, saya juga gak tau kalau istana ini dijadikan latar belakang film Beauty and the Beast, tapi memang saat berada disana, feel-nya beda banget, serasa balik ke masa itu.

Foto istana diambil dari pintu masuk

Istana ini merupakan istana terbesar yang terletak di lembah Loire, Perancis, dan sangat terkenal di seluruh dunia akan keindahan dan kemegahan arsitektur bergaya Renaissance Perancis yang sangat khas. Arsitektur istana ini memadukan bentuk abad pertengahan tradisional Perancis dengan struktur Renaissance klasik. Awalnya, istana ini dibangun hanya sebagai pondok atau destinasi liburan bagi Raja Francis I dan ketika ia ingin menyalurkan hobi berburunya.

Salah satu desain arsitekturnya yang paling terkenal di istana ini adalah dengan adanya tangga spiral terbuka ganda yang tricky banget dan menjadi pusat dari istana ini.

Lorong bawah dari tangga spiral yang khas di istana Chambord

Kalau ada yang inget di film Beauty and the Beast, ada bagian yang Belle lari-lari di lorong tangga yang melingkar? Nah, bagian itu terinspirasi dari tangga spiral karya Leonardo Da Vinci ini.

Ini juga tangga helix yang berada di bagian luar istana
My happy face in Chambord
Look at this beautiful roof

Jadi, ternyata memang desainer film tersebut niat banget mengunjungi istana Chambord ini untuk melakukan riset dan mencari inspirasi dalam merancang desain istana yang dimasukan ke dalam latar belakang di film tersebut.

Istana ini juga memiliki taman yang cukup luas dan dikelilingi oleh taman berhutan sekitar 52,5 kilometer persegi (13.000 hektar). Sayangnya, karena waktu itu kita datangnya sudah agak sore, sekitar jam 3 dan juga saat itu musim dingin, jadi kita hanya memiliki waktu sedikit untuk jalan mengelilingi seluruh taman di istana ini. Soalnya, jam 5 sore sudah mulai gelap dan semakin dingin. Sekarang agak nyesel gak sempat mengelilingi taman tersebut.

Terdapat beberapa raja yang sempat menempati maupun singgah di istana ini. Walaupun Raja Francis I yang pertama kali membangun istana ini pada tahun 1519, ia tidak sempat merasakan tinggal lama di istana tersebut, bahkan ia hanya sempat melihat beberapa bagian dari istana tersebut sampai akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 1547. Lalu, Gaston d’ Orléans singgah di istana ini bahkan menjadi orang pertama yang melakukan renovasi dan pemulihan di istana tersebut. Louis XIV kemudian memberikan sentuhan konstruksi terakhir di istana, juga melakukan kanalisasi sungai tersebut sekitar tahun 1660 dan pada tahun-tahun berikutnya ia menikmati berburu di Chambord.

Ayah mertua Raja Louis XV, raja Polandia, Stanislaw Leszczynski, saat diasingkan juga tinggal di istana Chambord. Saat musim panas tiba, wabah malaria memaksanya meninggalkan istana dan mencari perlindungan sementara di rumah-rumah terdekat (Blois, Saint-Dyé, château Saumery, château Ménars). Ingin membersihkan udara di Chambord, ia melanjutkan proyek kerja yang dilakukan oleh Louis XIV di sekitar istana. Kemudian pada tahun 1745, Maurice de Saxe, marshal dari Prancis, menerima istana Chambord dari tangan Louis XV sebagai hadiah untuk eksploitasi militernya.

Pada tahun 1821, setelah kampanye penggalangan dana nasional Henri, cucu Raja Charles X, menerima istana Chambord sebagai hadiah kelahirannya. Saat itu juga, untuk pertama kalinya istana ini dibuka untuk umum untuk memamerkan beberapa koleksi karya seni yang dipamerkan di istana tersebut. Namun, pada tahun 1883, Henri Duc de Bordeaux pun wafat, lalu memberikan istana kepada pewaris langsung, yaitu Raja Louis XIV.

Walaupun sudah didirikan sejak tahun 1519, istana ini baru selesai pembangunannya di bawah pemerintahan Louis XIV. Dan tahun 1930, istana dan tamannya telah menjadi milik negara. Lalu, sepuluh tahun setelah itu, tahun 1940, istana Chambord mulai terdaftar di Warisan Dunia UNESCO.

Kini di setiap ruangan yang ada di istana Chambord berisikan beberapa barang-barang pribadi milik raja-raja tersebut, lukisan istana Chambord di masa itu, juga beberapa koleksi seni lainnya.

Jika dibandingkan dengan Versailles, menurut saya, harga tiket masuk istana Chambord lebih murah. Waktu itu bulan Desember 2018, saya kesana bayar sekitar 13 EUR. Khusus untuk EU residents berusia di bawah 25 tahun, GRATIS! Untung dibayarin mertua, jadi gak syok-syok banget deh harus bayar segitu, karena kalau di rupiah-in harganya sekitar Rp 200.000.

Jadi, kalau teman-teman Her Love’s punya waktu lebih saat jalan-jalan di Perancis, saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke istana ini. Namun, untuk transportasi, alangkah baiknya untuk menggunakan mobil sendiri atau mobil sewaan, karena letaknya yang terpencil dan jauh dari akses transportasi publik.

Alamat: Château, 41250 Chambord

Featured

#TGIFshared: Apa itu “Penyakit” Seksis? Dapatkah Kita Mencegahnya?

Sejak dahulu, ketika kita masih kecil, pasti di lingkungan keluarga dan pertemanan sering sekali diajarkan atau ditekankan bahwasanya perempuan itu harus rapih, bersih, cantik pakai pita warna-warni, pinter dandan, jago masak, dan sebagainya. Sedangkan laki-laki harus berani, tidak boleh cengeng, haram hukumnya pakai rok, harus kuat, harus bisa jadi pemimpin dan juga sebagainya. Sehingga stereotip seperti itu, semakin tertanam di benak kita dan sengaja tidak sengaja kita sendiri yang menyebarluaskan anggapan-anggapan tersebut dan semakin melanggengkan ‘penyakit’ seksis itu sendiri. Hal ini yang menjadi akar dari seksisme itu sendiri, dimana adanya stereotip gender di dalam masyarakat.

Tapi sebenarnya apakah itu seksis dan seksisme?

Seksisme merupakan salah satu bentuk diskriminasi, prasangka, penindasan, stereotip berdasarkan jenis kelamin atau gender atau keyakinan, yang beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi (superior) dari perempuan (inferior), sehingga dengan demikian bentuk diskriminasi ini dibenarkan. Keyakinan seperti itu dapat kita sadari atau tidak disadari, seperti contoh yang telah saya sebutkan diatas.

Bentuk diskriminasi seksis yang lebih sering dialami oleh kelompok perempuan dan anak perempuan ini merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaan laki-laki, yang sejak dahulu hingga kini dapat kita lihat dengan mudahnya hampir di setiap lini sektor diantaranya sektor ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

“Simple peck-order bullying is only the beginning of the kind of hierarchical behavior that can lead to racism, sexism, ethnocentrism, classism, and all the other ‘isms’ that cause so much suffering in the world.”

Octavia Butler

Apa saja yang termasuk kategori seksisme?

  1. Sikap, situasi atau ideologi seksis, termasuk diantaranya keyakinan, teori dan gagasan yang memegang satu kelompok (biasanya laki-laki) sebagai hal yang dilihat pantas menjadi lebih unggul dari kelompok lainnya (biasanya perempuan). Disamping itu, mereka juga membenarkan adanya penindasan kelompok lain atas dasar jenis kelamin atau gender.
  2. Adanya praktik-praktik dan institusi seksis, salah satu cara dimana biasanya penindasan terjadi. Biasanya hal ini terjadi tanpa disadari karena sudah terbiasa dan didukung oleh suatu sistem yang sudah ada sejak dahulu.

Apa hubungannya dengan feminisme?

Kata seksisme dikenal secara luas sejak Gerakan Pembebasan Perempuan (Women’s Liberation Movement) pada tahun 1960an. Saat itu, teoritisi feminis menjelaskan bahwa penindasan terhadap wanita tersebar luas hampir di seluruh lini masyarakat. Sejak saat itu mereka mulai berbicara mengenai seksisme yang mengacu pada perilaku kolektif yang mencerminkan masyarakat secara keseluruhan. Seksisme jugalah yang menjadi bentuk pertama penindasan dan diskriminasi yang saat itu selalu mengarah pada kelompok perempuan.

Pada gerakan feminis tahun 1960 – 1970an (Gelombang Kedua Feminisme), banyak perempuan yang kemudian menyadari bahwa seksisme juga hadir dan sering terjadi di ranah pekerjaan mereka yang menyoal tidak adanya keadilan sosial bagi perempuan. Dari situlah, banyak dari mereka yang saat itu berbicara atas nama para pekerja, orang miskin dan kelompok berdasarkan rasial.

Sama seperti rasisme, seksisme juga terjadi secara sistemik. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai kodrat yang diperkuat oleh praktik, aturan, kebijakan dan Undang-undang di suatu Negara yang seringkali terlihat seakan biasa saja, tetapi pada kenyataannya banyak merugikan dan tidak berpihak kepada perempuan.

Seksisme juga erat hubungannya dengan rasisme, classism, heteroseksisme dan penindasan lainnya terhadap individu, ini yang dikenal dengan intersectionality.

Lalu, apakah perempuan juga bisa menjadi seksis?

Perempuan dapat menjadi kolaborator baik secara sadar maupun tidak sadar dalam melakukan tindakan tersebut, jika mereka diam, menerima dan menganggap perilaku seksisme ini adalah hal yang biasa dan normal terjadi. Terlebih ketika perempuan, menerima bahwa laki-laki memang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih daripada perempuan.

Seksisme oleh perempuan terhadap laki-laki hanya akan mungkin terjadi dalam suatu sistem, dimana keseimbangan kekuatan atau kekuasaan sosial, politik, budaya dan ekonomi berada di tangan perempuan, which is a situation that does not exist today.

Apa yang bisa perempuan lakukan untuk mencegah seksisme?

Kalau menurut saya pribadi, penting bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Namun, juga tidak merasa dirinya lebih unggul dari perempuan lain atau kategori gender lainnya, sehingga saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lainnya.

Selain itu, memilih penggunaan bahasa yang baik yang tidak mengandung unsur-unsur kekerasan, mendiskriminasi, menyinggung, merendahkan sehingga menimbulkan sikap seksisme juga tak kalah penting.

Tidak sungkan dan berani untuk berbicara dan membela dirinya sendiri maupun membela perempuan lainnya, jika mengetahui adanya perlakuan seksisme di sekeliling kita.

But first thing first, mungkin kita harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, bahwa kita berharga dan memiliki kemampuan, memiliki hak dalam berpendapat dimana pun dan kapan pun yang setara dengan lainnya, tidak peduli apa pun gender kita.

Diolah berdasarkan sumber: ThoughtCo

Featured

5 Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Menikah dengan WN Perancis

Nah, akhirnya saya baru bisa nih berbagi pengalaman lagi mengenai apa yang harus dilakukan oleh saya (atau kalian) sebagai warga negara Indonesia setelah menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia.

Bagi teman-teman yang terlewat informasi bagaimana syarat-syarat menikah antara WNI dan WN Perancis di Indonesia, sila cek di kedua post saya yang ini ya: Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 1)  dan Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 2)

Bagi yang masih kurang jelas bisa tanya di kolom komentar dua post diatas atau komen di bawah ini ya!

Nah, sekarang saya mau share langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menikah dengan WN Perancis, selain honeymoon tentunya ya! Hehe. Khususnya bagi kamu yang akan diboyong suami ikut ke Perancis, yaitu untuk membuat buku keluarga atau livret de famille.

Jadi, seminggu setelah menikah setidaknya terdapat 5 langkah yang harus kamu lakukan:

Pertama, bawa kedua buku nikah kamu ke KUA tempat dimana kamu menikah untuk dilegalisir oleh KUA. Sebelumnya cek seluruh data-data yang ada di buku nikah apakah sudah benar atau tidak, karena buku nikah ini nanti akan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis juga oleh penerjemah tersumpah. Untung saya beberapa kali berkomunikasi dengan Mas Subandi, penerjemah tersumpah, jadi beliau mengingatkan saya untuk memeriksa keseluruhan data yang tertulis di buku nikah, bahkan ia sempat bilang kalau seringkali ada kesalahan penulisan terkait kewarganegaraan suami. Dan benar aja loh gengs, di buku nikah saya tertulis kalau suami saya WN Indonesia. Padahal saat di KUA seluruh dokumen sudah diberikan bahkan ada data yang harus saya isi terkait dengan informasi saya pribadi dan suami beserta kedua orang tua kami, which is ada tulisan kalau suami saya WN Perancis, tapi tetap aja salah… DOH! Emang paling gak ngerti ya kenapa hal-hal begitu bisa salah, kalau minta duit aja cepet, pikir saya waktu itu.

Anyway, bagi kamu yang memiliki prenup, juga jangan lupa memberikan kopian dokumen asli prenup ke KUA untuk dilegalisir dan didaftarkan, prenup ini tidak perlu dibawa ke Pengadilan Negeri lagi, kalau sudah didaftarkan di KUA. KUA juga akan memberikan fotocopy buku nikah yang sudah dilegalisir. Waktu itu, karena mengurusnya ketika saya sedang berada di Yogyakarta, jadi Ibu dan kakak saya membantu proses ke KUA, tidak perlu surat kuasa untuk mengurus ini, tinggal bawa saja buku nikah yang aslinya.

Kedua, setelah proses dari KUA, kalian harus mengurus pengiriman beberapa dokumen kepada penerjemah tersumpah (sworn translator). Ada beberapa penerjemah tersumpah yang sudah terdaftar di Kedubes Perancis, tetapi saya masih menggunakan jasa Mas Subandi, karena lagi-lagi harganya yang masih terjangkau, kerjanya cepat dan terpercaya. Sila melihat kontak Mas Subandi di artikel ini.

Beberapa dokumen yang harus dikirim ke Mas Subandi sbb:

  1. 2 (dua) buku nikah asli
  2. Fc buku nikah yang dilegalisir oleh kepala KUA
  3. Fc KTP istri (untuk WNI)
  4. Fc pasport suami (untuk WNA)
  5. Fc surat izin menikah dari Kedutaan Besar (2 bahasa: Perancis dan Bahasa Indonesia)
  6. Surat mualaf, kecuali kalau muslim sejak lahir
  7. Akta cerai, jika status telah bercerai
  8. Fc prenuptial agreement (perjanjian pernikahan), jika ada

Seluruh dokumen diatas dapat dikirimkan by post atau by ojek online. Pastikan alamat yang penerima tidak salah ya! Nanti minta si penerjemah untuk menginformasikan ke kita, jika dokumen sudah diterima.

Ketiga, meminta legalisir buku nikah ke-3 Kementerian terkait, yaitu; Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Luar Negeri. Langkah ini tergantung apakah kamu mau mengurusnya sendiri atau meminta jasa penerjemah tersumpah juga untuk melakukannya. Biasanya mereka menawarkan jasa ini sudah paket dengan terjemahan buku nikah hingga memberikan dokumen-dokumen tersebut ke pihak Kedutaan Besar Perancis. Karena saya tidak mau repot, jadi saya meminta untuk sekalian saja diurus oleh Mas Subandi. Makanya untuk tarif, terbilang cukup pricey ya, waktu itu saya bayar sekitar 3 juta Rupiah all in! Sebenarnya untuk legalisir buku nikah di 3 Kementerian, terjemahan dan penyerahan ke Kedutaan Besar tarifnya 2 juta Rupiah, tapi karena saya memiliki prenuptial yang juga harus didaftarkan di dalam livret de famille untuk diketahui oleh otoritas Perancis, jadi tetap harus diterjemahkan. Jumlah halaman prenup sekitar 6 halaman, jadi untuk prenup saja sudah sekitar 1 juta Rupiah. Mahal yah nikah sama WNA, gengs, huhuhu..

Nah, setelah semua proses diatas selesai, Mas Subandi akan mengirimkan seluruh dokumen secara langsung ke Kedubes Perancis. Waktu itu cukup cepat, proses dari terima dokumen dari saya ke penerjemah tersumpah, lalu diterjemahkan dan dikirimkan ke pihak Kedubes ada sekitar 9-11 hari kerja.

Keempat, setelah bukti pengiriman ke pihak Kedubes sudah dikirimkan oleh Mas Subandi, tidak lama saya menerima email dari Ibu Cempaka dari Kedubes Perancis, bahwa dokumen sudah diterima dan suami saya harus mengisi dokumen Formulir Permohonan Transkrip, form nya dalam bahasa Perancis dan waktu itu diisi oleh suami saya akhirnya, lalu saya kirimkan kembali lagi ke Ibu Cempaka via email. Waktu untuk menunggu livret de famille ini selesai, sekitar 2 bulan lamanya. Kalau saya waktu itu 2 bulan 2 minggu karena ada keterlambatan dari pihak Kedubes.

Kalau kita sudah memiliki acte de marriage dan livret de famille ini, kita bisa langsung lanjut proses kelima yaitu, membuat visa long séjour (long stay visa). Sebenarnya kamu tetap bisa ke Perancis sebelum kedua dokumen ini selesai, tapi paling cuma bisa buat visa tourist aja untuk sebulan atau kurang dari 3 bulan, setelah itu harus balik lagi sampai 2 dokumen tersebut selesai. Setelah itu, langsung proses long stay visa yang saya sebutkan tadi, tapi karena memperhitungkan biaya yang pastinya mahal banget, jadi daripada buang-buang uang untuk tiket pesawat mending uangnya buat nabung kan gengs.

Untuk proses membuat visa, khusus negara Perancis dan Swiss, kita bisa memproses pembuatan visa di TLS Contact. Untuk proses pembuatan visa, kamu harus registrasi online dulu ya, supaya bisa langsung log in. Semua informasi lengkap ada di website TLS Contact, ingat… harus rajin-rajin baca dan bertanya ya, kalau memang sudah kepepet atau ada yang kurang jelas bisa langsung tanya via email ataupun telepon ke kantor mereka.

Visa tipe seperti apa yang dibutuhkan nih?

Jadi, setelah kalian buka websitenya, silahkan pilih ‘Documents and Visa Types’ >> lalu, kalian bisa melihat berbagai jenis visa yang dibutuhkan, lalu pilih ‘Family member of a French citizen or his/her purpose’ >> jangan bingung, setelah klik pilihan tersebut, ternyata masih banyak lagi kan jenis-jenis visa yang berbeda? Waktu itu saya pilih tipe visa yang ‘Spouse of a French citizen – Long stay (more than 90 days)‘.

Jangan syok ya kalau persyaratannya banyak, alhamdulillah karena saya sudah cukup berpengalaman membuat Schengen visa dan menurut saya, visa tipe ini merupakan aplikasi termudah! 3 kali sebelumnya, saya pun juga ‘tertolong’ buat visa, karena ketiga-tiganya saya diundang oleh organisasi/NGO internasional yang berada di salah satu negara Eropa untuk urusan pekerjaan. Mudahnya, karena mereka memberikan surat undangan dan pernyataan bahwa setiba di Eropa mereka akan menjamin hidup saya selama disana. Gak kebayang, beberapa teman sempat berkonsultasi, gimana caranya buat Schengen visa dan ternyata lumayan sulit juga kalau memang tujuannya untuk tourisme atau backpacker ya, harus ada jaminan dan copy jumlah uang di rekening bank yang minimum sekian juta, surat sponsor, de el el.

Lanjut lagi, jadi untuk aplikasi visa long stay ini ada beberapa hal yang saya bilang cukup menguntungkan, diantaranya; kita tidak perlu membayar visa alias FREE a.k.a GRATIS gengs (kecuali, kalau kamu mau premium service pada saat pembuatan aplikasi visa, harus tambah IDR 450.000 lagi ya!); terus kita tidak perlu atur waktu janji temu untuk interview, karena kita bisa datang langsung jam berapa pun (selama waktu operasional TLS contact). Another perks of having a French husband. Ketika kamu akan masuk ke dalam kantor TLS contact, kamu harus membawa si acte de marriage dan livret de famille.

Untuk persyaratan dokumen lengkapnya, beberapa yang harus dikumpulkan dan diberikan kepada pihak TLS Contact diantaranya;

  1. Formulir aplikasi long stay visa yang asli
  2. Formulir OFII (di isi dan dibawa saat proses aplikasi, form ini akan digunakan setelah tiba di Perancis untuk membuat residence permit)
  3. 2 lembar pasfoto berwarna, latar belakang putih, ukuran 3,5 cm x 4,5 cm (tidak lebih dari 6 bulan)
  4. Buku Keluarga (ingat ini livret de famille ya, yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Perancis)
  5. Fotokopi sertifikat menikah (acte de marriage, juga dari Kedubes Perancis)
  6. Fotokopi KTP pasangan WN Perancis atau Pasport biometrik WN Perancis
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal di Perancis
  8. Fotokopi Kartu Keluarga (WN Indonesia)
  9. Pasport (2 lembar fotokopi yang berisikan data dan pasport asli dibawa dan diserahkan kepada petugas visa, yang masa berlaku kurang dari 3 bulan dengan 2 halaman kolom kosong untuk visa stiker)
  10. Fotokopi pasport lama, terutama pada bagian visa dan personal data. Bawa juga pasport aslinya untuk jaga-jaga ya.

Saya baru tau, ternyata kalau apply visa via French embassy, mereka tidak pernah menanyakan soal travel insurance. Saya pun juga tidak diminta untuk melampirkan booking flight ticket, paling hanya ditanya ‘nanti berencana berangkat ke Perancis nya kapan ya?’.

Setelah semua proses dan dokumen sudah dicek, nanti kalian juga akan ditawarkan apa mau ambil visa nya langsung di TLS contact atau dikirim by JNE YES? Untuk kiriman by JNE, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 75.000,- karena rumah saya juga masih di daerah Jakarta Selatan, ya saya pilih langsung saya yang ambil dong jelas, meminimalisir hilang atau kerusakan juga saat pengiriman.

Setelah semua sudah selesai, siap-siap tinggal tunggu berangkat deh!

Nanti sesampainya di Perancis saya kabarin lagi ya, hal-hal apalagi yang harus saya (atau kamu lakukan) karena ada beberapa dokumen lagi yang harus dikerjakan setibanya di sana untuk membuat resident permit “Titre de séjour”.

Featured background picture from Pinterest.

Featured

9 Tips Jalan-jalan ke Versailles, Paris di Perancis

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi pacar (sekarang sih udah jadi suami, hehe) di kota Paris. Sebenarnya, suami saya tidak tinggal di Paris nya, tapi lebih ke selatan dari Paris, namanya kota Orléans. Jaraknya sekitar 130 kilometer, kalau naik kereta intercity sekitar 1 jam dari Paris. Tapi waktu itu kita nebeng di apartemen sepupunya yang berada di kota Paris, jadi biar kemana-mana juga lebih dekat. Semenjak pertama kali ke Paris tahun 2015 lalu, emang sebenarnya udah pengen banget ke Versailles, ya udah ada di bucket list banget deh intinya. Tapi waktu itu karena waktunya juga gak banyak, cuma 2 malam di Paris, jadi ya skipped dulu deh sambil harap-harap bisa berkesempatan lagi untuk balik ke Paris.

Dan, alhamdulillah, ternyata benar-benar dikasih kesempatan dan rezeki lagi, sama orang tersayang pula kesananya! Ihiy. Akhirnya saya membuat itinerary perjalanan selama di Paris selama seminggu lengkap dengan catatan, transportasi, waktu dan semacam what to do selama berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Salah satunya, saya bilang saya pengin banget ke istana Versailles!

Apa sih Versailles? Itu dimana? Ada apa aja disana? Terus apa aja yang menarik?

Sebegitu cantiknya ya ❤ Foto dari Pinterest

Sabar, sabar gengs, saya coba jelaskan satu per satu ya.

Bagi yang belum tahu, belum pernah kesana, atau sekadar baru denger soal Versailles. Jadi, Versailles ini dulunya istana dan kediaman utama kerajaan Perancis sejak tahun 1682 di bawah Louis XIV hingga awal Revolusi Perancis pada tahun 1789 di bawah Louis XVI. Dan istana ini menjadi saksi adanya Revolusi Perancis pada zaman itu, dimana Marie Antoinette menjadi salah satu tokoh yang cukup terkenal dan berpengaruh saat itu.

Versailles kini menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO. Biasanya, istana ini digunakan untuk acara-acara penting, seperti; upacara-upacara, Royal Opera dan apartemen kerajaan; untuk apartemen kerajaan seperti Grand Trianon dan Petit Trianon yang terletak di dalam taman; ada juga pedesaan kecil yang dahulu kala sengaja dibuat untuk Marie Antoinette tinggal dan Taman Versailles yang sangat luas dan dilengkapi dengan air mancur, kanal dan kerbun berbunga. Luas seluruh area istana ini sekitar 1.000 hektar. Pokoknya bagi yang pencinta sejarah Eropa, Perancis khususnya, pasti bakalan suka banget sih sama tempat ini! 100% guaranteed.

Look at those ceiling details ❤
Setiap ruangan gaya dan warna wallpapernya beda-beda dan penuh warna, juga dominasi gold. Keren banget ya
The golden gate of Château de Versailles

Nah, jadi di post kali ini, saya mau coba kasih beberapa tips ke teman-teman yang pengin banget ke Paris, tapi bosen kalau cuma stay di kota nya aja, jadi kali ini kita main-main ke Versailles dulu ya. Sebelumnya, ada beberapa hal yang harus diketahui terlebih dahulu:

1. Pilih musim dan waktu yang tepat untuk berkunjung

Musim terbaik untuk mengunjungi Versailles sebenarnya pada musim semi dan panas, karena bunga-bunga bermekaran dan pepohonan akan terlihat sangat cerah dan penuh warna. Walaupun juga harus siap-siap dengan ramainya pengunjung yang datang dari berbagai belahan dunia. Di musim dan waktu tertentu biasanya, area fountain dan taman memiliki beberapa events tersendiri yang bisa di cek disini.

Catat ya, istana Versailles ini tutup setiap hari Senin, Christmas dan Tahun Baru.

The best place to hide, isn’t it? 😀

 2. Baca dan pahami dulu sejarahnya

Lebih baik sebelum kesana ketahui dulu sedikit mengenai latar belakang dan sejarah istana Versailles, jadi semakin bisa meresapi suasana dan cerita dari setiap ruangan di dalam istana. Minimal bisa Googling mengenai sejarahnya, baca beberapa buku, nonton beberapa film yang memang menceritakan atau menyinggung soal sejarah Perancis, berlatarbelakangkan istana Versailles, seperti; Marie Antoinette.

The Hall of Mirrors, galeri pusat istana Versailles yang sempat difungsikan sebagai aula untuk beberapa acara penting keluarga kerajaan

 3. Berangkat pagi atau menginap di kota Versailles?

Sebenarnya ke Versailles itu lebih baik berangkat pagi sekitar jam 7 atau 8 pagi dari Paris, untuk menghindari antrian yang panjang dan udara juga masih sejuk. Terlebih kalau tempat menginap kamu agak jauh dan di pinggir kota Paris, karena waktu tempuh bisa sekitar 1 jam sampai ke Stasiun Versailles Château Rive Gauche.

Atau, kalau memang masih banyak waktu, dan mau mengunjungi istana Versailles dan sekitarnya, bisa menginap 1-2 malam di Versailles village. Suasananya beda banget sama di Paris, kita seperti kembali ke masa lalu, kotanya super indah. Dan ada beberapa pilihan hotel untuk menginap dengan kisaran harga EUR 85/night, kalau mau ada juga kok Air BnB disana dengan harga yang jauh lebih murah di mulai dari EUR 50/night.

Kota Versailles itu emang bagus banget sih, kalau next time ada waktu lebih banyak juga kayaknya saya pengin coba menginap dan eksplor kota kecil ini, di luar dari istana nya yang maha megah.

4. Kenakan baju dan sepatu yang nyaman + gak ribet

Ini juga hal yang penting banget sih, kalau kamu berencana untuk summer kesini, pakai kaos simpel dan jeans udah paling juara. Karena panasnya Paris dan sekitarnya itu juga gak beda jauh sama Jakarta, bedanya less pollution aja sih paling. Terus, karena kalian pasti akan banyak jalan kaki dari stasiun ke istana dan keliling taman Versailles, paling the best ya pakai sneakers! Untuk perempuan-perempuan, I definitely will say no to high heels, stiletto, even flat shoes or whatever it is. Karena secapek itu gengs jalannya, percayalah Versailles gedeeeeeee banget.

Berjalan di sepanjang labirin ini. Kalo ada yang nonton film Parfume, pasti familiar sama labirin ini?

5. Naik RER C, pilihan terbaik dan termurah

Terletak di departemen Yvelines, sekitar 20 kilometer (12 miles) barat daya dari pusat kota Paris, untuk ke Versailles sebenarnya mudah banget! Kalian bisa dengan mudahnya mengakses dengan menggunakan kereta RER C. Untuk mengetahui rute dan stasiunnya dimana saja, bisa dilihat disini. Kereta RER C ini berbeda dengan jalur Metro, jadi pastikan untuk beli tiket di vending machine yang ada di stasiun. Kalau gak salah, tarifnya sekitar 7 euro (PP) dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Saya sarankan sih lebih baik untuk beli langsung PP dari Paris, untuk menghindari antrian lagi saat pulang dari Versailles. Karena biasanya saat menuju kembali ke Paris, di stasiun akhir Versailles Château Rive Gauche itu rame banget, apalagi kalau high season.

6. Jangan lupa bawa bekel makanan dan minuman

Sebenarnya ada restoran, kafe dan tea room yang menjual makanan di istana Versailles, tapi percayalah, mendingan kalian siap-siap untuk bawa beberapa makanan kecil atau mungkin seperti sandwich, croissant, buah, roti atau lainnya yang mudah dibawa dan dikonsumsi disana. Karena banyak sekali orang-orang yang akhirnya duduk-duduk di tangga bahkan di taman untuk sekadar ‘piknik’ dan menikmati udara yang bersih di Versailles sambil makan siang.

Bassin d’Apollon (French) or Fountain of Apollo (English) di sekitar sinilah rata-rata pengunjung membuat area “piknik” dadakan, sebenarnya ada juga bagian taman lainnya

 7. Jam buka? Tiketnya berapa? Beli Dimana?

Istana mulai dibuka pukul 9 pagi dan tutup jam 6.30 sore, tetapi untuk Grand Trianon dan Galeri hanya buka pada siang hari saja. Kalau mau jalan-jalan ke taman dan kebun buka setiap harinya, dan bebas biaya, kecuali jika ada acara Musical Fountain Shows dan Musical Gardens.

Begitu kamu memasuki area istana, di sebelah kiri ada kantor penjualan tiket ada yang namanya Ministers’ South Wing (letaknya di sebelah kiri lapangan The Cour d’Honneur ya!) harga tiketnya EUR 20 untuk semua area, dan EUR 27 kalau kamu mau nonton Musical Fountain Shows atau Musical Garden. Kalau kamu hanya ingin berkunjung ke istana aja dan area taman, harganya EUR 18.

Nah, kalau menurut kamu sehari gak cukup untuk ke Versailles, mereka juga menjual tiket yang berlaku selama 2 hari berturut-turut dengan harga EUR 25 dan EUR 30, kalau kamu mau nonton acara Musical Fountain Shows. Selain bisa beli on the spot, kamu juga bisa beli tiketnya secara online di websitenya ini, untuk menghindari antrian.

8. Persiapkan dan charge semua smartphone, kamera, iPad dll

Lagi-lagi ini menjadi salah satu hal yang penting buat saya dan mungkin juga buat kalian. Karena Versailles memang seindah itu geng dan sayang untuk kita lewatkan. Jadi, jangan lupa untuk mengisi batere gadget dan kamera kamu sampai full ya!

9. Tips khusus: bagi yang mau bawa anak-anak

Ini penting banget buat orang tua atau keluarga yang ingin bawa anak-anak. Istana Versailles mungkin bagus banget kalau kita mau mengedukasi anak-anak mengenai sejarah Perancis dan mencoba untuk memperlihatkan suasana yang ada di sana maupun hanya untuk bermain-main di taman, tapi coba pikirkan dua kali ya kalau kamu mau membawa anak-anak kecil yang usianya masih di bawah 5 tahun. Karena selain tempatnya luas banget, takutnya anak-anak udah terlalu capek dan keburu merengek mau pulang. Belum lagi, ada peraturan di Versailles yang melarang pengunjung untuk membawa stroller, baby chair, pushchair atau gendongan bayi yang ada kandungan metalnya. Kalau kamu membawanya, kamu harus menitipkan barang-barang tersebut di free left luggage yang sudah mereka sediakan disana.

Sebagai bonus, kalau kamu masih merasa capek setelah muter-muter di istana Versailles dan mau ngopi-ngopi atau snacking atau juga mau makan malam sebelum balik ke Paris, tenang aja, gak jauh dari stasiun Versailles Château Rive Gauche, kamu akan menemukan beberapa pilihan kafe dan restoran ala Perancis yang juga bisa memuaskan lidah dan perut kamu lho!

Nah ini pedestrian nya, asri banget ya ❤

Oh guys, satu lagi! Di Versailles juga ada toko oleh-oleh yang sayang untuk ditinggalkan, soalnya barang-barangnya lucu banget buat dijadikan oleh-oleh atau kenang-kenangan, harga dan barangnya bervariasi, mereka menjual kartu pos, alat tulis, mainan anak, cokelat, permen, sabun, tas dan sebagainya, desainnya ala ala oldies klasik gitu!

ini cokelat yang dijual di dalam toko souvenirnya 🙂

Kira-kira itulah beberapa hal yang penting dan harus kalian perhatikan ya kalau kalian ingin berkunjung ke Istana Versailles.

Bagaimana gengs kira-kira? Masih ragu untuk melihat secara langsung keindahan istana yang luar biasa cantik ini?