First Video Collaboration with Narasi.TV

Since I moved and living together with my husband here in Rouen, France, I always missed Indonesian food. And so do him. He fell in love with Indonesian food since the first time he tried Indonesian Nasi Goreng.

Then he told me, there is an Indonesian food truck that sells nearby his University which caught our eyes and our stomach, of course. Therefore, we would like to introduce you to the Indonesian Food Truck which is very famous here in our city!

Here we present you our friend who sells Indonesian food in Rouen, France.

LE JAVA BALI!

Thank you, Narasi TV team!

Mengurus Visa Long Sejour: Ngapain aja di Kantor OFII?

Akhirnya, legal tinggal di Perancis! Yaaay, alhamdulillah…

Itulah kira-kira yang saya rasakan dan ucapkan kepada suami setelah mendapatkan stiker dari OFII di paspor saya. Buat yang pertama kali mengurus ini pasti senang banget ketika syarat-syarat yang OFII berikan, berhasil terlewati.

Deg-degan gak? Jelas, bahkan deg-degannya udah dari seminggu sebelum pertemuan.

Kalau beberapa waktu lalu saya sempat sharing mengenai dokumen apa saja yang harus diurus setibanya di Perancis, kali ini saya mau coba berbagi pengalaman saya ketika beberapa waktu lalu melakukan pertemuan di OFII untuk memenuhi beberapa proses lainnya. Sebenarnya tidak terlalu sulit dan menegangkan seperti yang saya pikirkan, untuk proses sendiri hanya memakan waktu sekitar 1-2 jam, tergantung hari itu apakah banyak imigran lainnya atau tidak. Kalau kemarin, dari semua proses yang saya lakukan, durasinya hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja.

Pertama, setelah kamu menerima undangan pertemuan (convocation) dari pihak OFII yang biasanya terdiri dari;

  • undangan melakukan tes radiologi (test de radiologie),
  • medical check-up (médical générale),
  • tes tertulis bahasa Perancis (test écrit en français) dan wawancara (entrevue)

Waktu itu, saya menerima 2 jadwal dengan hari yang berbeda; hari pertama saya diminta untuk melakukan tes radiologi.

Nah, tes radiologi adalah step kedua. Lokasi tes radiologi-nya berbeda dengan kantor OFII ya dan mereka yang menentukan dimana tempatnya. Untungnya lokasi tes radiologi saya dekat banget sama apartemen, jalan kaki cuma 10-15 menit aja. Prosesnya lagi-lagi termasuk cepat sih, jadi jadwal saya itu sebenarnya pukul 14.00, tapi kita sudah tiba di lokasi pukul 13.45. Which is ternyata bagus, karena ternyata saya dipanggil lebih cepat, hehe. Seperti tes radiologi pada umumnya, sebenarnya tes radiologi ini hanya ingin mengetahui apakah ada penyakit serius terutama pada bagian tertentu, dimulai dari tenggorokan dan bagian keseluruhan paru-paru serta jantung.

Langkah ketiga, tepat keesokan harinya, saya langsung ke kantor OFII. Kemarin, saya dapat undangan untuk datang pukul 09.00 pagi, tapi saya dan suami sudah tiba sekitar pukul 08.30 pagi, karena memang tidak terlalu jauh dari apartemen kami tinggal, hanya sekitar 15 menit dengan Metro. Begitu sampai di kantor OFII, kami menunggu beberapa orang lain yang sedang mengantri, lalu setelah giliran kami, kami pun bilang kalau saya ada janji untuk mengikuti proses verifikasi visa long séjour, dengan menunjukkan undangan dari OFII.

Pihak resepsionis pun menyuruh saya untuk langsung masuk ke dalam ruangan (seperti kelas dengan banyak meja dan bangku-bangku). Ternyata disitu saya diberikan kopian Contrat d’Intégration Républicaine (CIR), kontrak ini meminta kita untuk berkomitmen terhadap prinsip-prinsip dasar negara Perancis, serta beberapa persyaratan lain yang harus saya ikuti seperti kegiatan-kegiatan yang harus saya jalankan kedepannya untuk mendapatkan carte de séjour.

Apa aja tuh aktifitasnya?

  1. Pelatihan Kewarganegaraan (Formation Civique) >> akan ada sekitar 4 pertemuan pertama yang harus dijalankan, untuk apa? Agar kita bisa mengetahui dan memahami sejarah, prinsip dan nilai-nilai negara Perancis dan sebagainya.
  2. Pelatihan Bahasa (Formation Linguistique) >> kalau kemampuan bahasa Perancis kita di bawah level A1, maka OFII akan menyediakan kursus bahasa Perancis secara gratis!! Dan di akhir kursus, akan ada ujian dan kalau kamu dinyatakan lulus, kamu akan diberikan sertifikat lulus ujian.
  3. Pendampingan menuju integrasi profesional (Accompagnement vers l’insertion professionnelle) >> kamu akan mendapatkan arahan untuk mencari pekerjaan di Perancis yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikan kamu.
  4. Informations (Informasi) >> kalau ini lebih kepada informasi yang sifatnya publik, seperti gimana caranya kalo kamu mau melanjutkan studi di Perancis, membuat asuransi kesehatan, membuat sécurité sociale dan sebagainya.

Masih di ruangan yang sama, akhirnya saya dan beberapa orang lainnya (waktu kemarin, mungkin ada sekitar kurang dari 15 orang) diberikan 5 halaman kertas yang berisikan ujian tertulis bahasa Perancis.

Terus soal-nya kayak gimana, sih?

Kalau menurut saya, kemungkinan besar soal-soal yang diberikan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tergantung apakah kamu baru mau mengajukan visa long séjour atau sedang mengajukan carte de séjour, karena kemarin itu pesertanya campur, bahkan beberapa imigran ada yang sudah sedikit fasih menggunakan bahasa Perancis.

Tapi kalau saya, karena baru dan ingin apply visa long séjour, jadi diberikan tes untuk level A1. Di dalam kertas soal itu terdapat total 5 bagian soal yang terdiri dari; 1 bagian asosiasi (mencocokan gambar dengan artinya dalam bahasa Perancis), 2 soal pilihan ganda, 1 bagian untuk mengisi formulir dalam bahasa Perancis, 1 bagian untuk mendeskripsikan situasi berupa paragraf sesuai dengan yang ada pada gambar, dan 1 bagian untuk mendeskripsi.

Setelah menjalani tes tertulis, saya tersadar kalau saya masih sangat kurang dalam mendeskripsikan situasi dari gambar yang diberikan di dalam soal, karena sisanya saya bisa menjawab dengan benar.

Kok saya tau jawabannya benar? Soalnya setelah selesai langsung dikoreksi dan diberikan nilai sama petugasnya!

Sayangnya, ternyata bagian mendeskripsikan gambar itu, nilainya lumayan besar! Huhu..

Oke, lanjut…

Bagian keempat, setelah selesai tes tertulis, akhirnya saya dipanggil oleh petugas lain untuk wawancara. Wawancaranya bukan untuk melatih bahasa Perancis kok, tapi lebih kepada pengumpulan dokumen, pekerjaan terakhir di Indonesia, diploma terakhir di Indonesia, lalu kita ditanya apakah kita mau kerja nanti di Perancis, dan sebagainya.

Alhamdulillah staff-staff yang saya temui di OFII Rouen ini, informatif, baik-baik dan ramah sekali, yang wawancara saya juga bisa berbahasa Inggris walaupun tidak terlalu fasih. Dia juga ngasih saya beberapa informasi penting, seperti; kalau saya mau menerjemahkan diploma sertifikat dari Indonesia ke bahasa Perancis saya harus melakukan apa dan menghubungi siapa, provide informasi berupa website untuk mencari pekerjaan, juga gimana caranya mentransfer Surat Izin Mengemudi (SIM) Indonesia ke Perancis, walaupun dia bilang juga tidak semua negara bisa melakukan itu, tapi kalo saya mau cek bisa langsung ke kantor préfecture untuk mengurusnya.

Setelah selesai melengkapi informasi personal dan wawancara, saya diminta untuk menemui dokter untuk general check-up. Ada 2 dokter yang saya temui sih, yang pertama saya ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan, setelah itu ambil darah untuk cek gula darah. Setelah itu kita harus menjawab beberapa pertanyaan yang ada di komputer dokternya, apakah kita perokok aktif, apakah sering pusing, dsb. Kalau dokter kedua lebih ke pemeriksaan detak jantung, bagian punggung belakang, tenggorokan dan tekanan darah. Lalu, dokter menanyakan beberapa vaksin yang sudah pernah saya jalani dari kecil hingga vaksin terakhir.

Dan, ada informasi penting, ternyata bagi kalian yang ingin hamil, sebaiknya melakukan vaksin Rubéole atau di bahasa Indonesia nya rubella terlebih dahulu. Kenapa penting? Karena nanti akan sangat membahayakan bagi jabang bayi kalau kita tidak melakukan vaksin ini. Jadi, akhirnya dokter membuatkan semacam surat rujukan agar saya mendapatkan vaksin tersebut dengan dokter atau rumah sakit setempat.

Nah, yang terakhir atau kelima, setelah semua pemeriksaan dan sudah dapat certificat de controle medical dari dokter, saya harus balik lagi ke ruangan staff yang wawancara saya sebelumnya. Disitu saya diminta untuk menandatangani kontrak CIR yang saya sebutkan diatas, dijelaskan kalau saya sudah dijadwalkan dan didaftarkan untuk ikut kursus bahasa Perancis level A1 selama beberapa bulan ke depan, juga mengikuti beberapa pelatihan kewarganegaraan atau formation civique.

Setelah itu, voilaaaa… stiker OFII untuk visa long séjour saya akhirnya resmi ditempel di halaman visa paspor saya! Bahkan petugasnya sempat memberikan selamat,

“Congratulation, Astrid! Now you are legal living in France. With this, you can also travel to other European countries, get the benefit for health insurance, education, etc.”

Dan dia sempat mengingatkan juga kalau 2 bulan sebelum masa berlaku visa saya habis, saya sudah harus mengurus carte de séjour di Préfecture setempat!

Oh iya, nanti pada akhir pertemuan kursus bahasa dan formation civique, kita akan mendapatkan sertifikat! Sertifikat yang akan kita dapatkan dari kursus bahasa Perancis dan formation civique harus dilampirkan ketika kita ingin mengurus carte de séjour setelah visa long séjour kita akan habis masa berlakunya. Jadi, harus disimpan baik-baik semua dokumen yang diberikan oleh OFII, karena siapa tahu kita akan membutuhkannya suatu hari nanti.

Begitu kira-kira pengalaman saya 1.5 jam di kantor OFII. Alhamdulillah masih terbilang lancar dan tidak ada kendala, karena saya sempat melihat dan mendengar banyak dari beberapa WNI yang ada di Perancis, sempat lamaaa sekali untuk RDV di kantor OFII, karena biasanya kantor OFII biasanya hanya ada di kota-kota besar di Perancis. Ada yang bahkan kantor OFII nya bisa dibilang kurang kooperatif, jadi makanya saya bersyukur banget, semuanya berjalan dengan lancar.

Semoga teman-teman yang juga lagi nunggu RDV dari OFII, juga diberikan kelancaran ya!

Semangat!

Tiba di Perancis: Dokumen yang wajib diurus!

Salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan akhirnya datang juga! Bertemu kembali dengan suami, setelah long distance marriage (LDM), yaitu memulai hidup baru bersama di Perancis. Bagi WNI yang sudah melewati berbagai macam prosedur menikah dengan WN Perancis, memenuhi syarat keberangkatan dan pindahan ke Perancis, pasti senang sekali ketika akhirnya menerima visa long séjour dari pihak Kedubes Perancis.

But wait, you just passed one of all administrations.

Yang artinya, masih ada rentetan administrasi lainnya yang harus kamu urus nanti setibanya di Perancis. Berikut ini saya coba akan berbagi pengalaman, tips dan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan setibanya di Perancis.

Attention: ini yang saya dan suami lakukan di Perancis ya. Untuk yang berbeda negara, mungkin bisa Googling artikel lain terkait prosedur di negara tersebut. Karena saya yakin tiap negara pasti berbeda prosedur dan juga peraturannya.

So, mungkin saya bisa mulai terlebih dahulu menjelaskan mengenai Visa Long Séjour (visa long stay). Jadi, kalau kamu ingin menetap untuk waktu yang lama di Perancis, kamu diharapkan untuk membuat visa tipe ini. Namun, sebenarnya ada beberapa kategori terkait dengan visa long stay (visa jangka panjang) diantaranya;

  1. menetap untuk beberapa periode untuk liburan atau alasan pribadi
  2. profesional kerja
  3. pendidikan (sekolah, kuliah, kursus dll)
  4. bergabung dengan anggota keluarga.

Dalam kasus saya, tentu saya memilih alasan yang terakhir, yaitu untuk bergabung dengan suami saya dan menetap di Perancis.

Jaman saya beberapa waktu lalu, untuk urusan visa kita masih bisa melakukannya di TLS Contact website. Tapi terhitung sejak November 2018 lalu, kita harus ke website France Visa.

Jadi, setelah pilih di menu bar: Coming to France for >> Family purpose >> He/She is French >> Spouse of French national.

Untuk persyaratan seperti dokumen pendukung apa saja yang harus disiapkan, tentu hal ini jauh lebih mudah dilakukan ketika kamu sudah menikah dengan pasangan WN Perancis kamu. Persyaratan lengkap untuk membuat long stay visa, sila untuk membaca di artikel ini.

Setelah semua urusan visa ini selesai dan kita bisa berangkat ke Perancis, tentu masih ada rentetan dokumen administrasi lainnya yang harus kita lakukan setibanya di Perancis. Jadi, walaupun visa kita untuk setahun, bukan berarti itu berlaku secara otomatis selama setahun, biasanya masa berlakunya sekitar 90 hari, visa tersebut baru bisa berlaku dan dipakai, ketika kita memiliki carte de séjour.

Hah, apalagi itu carte de séjour?

Sabar, sabar ya. Jangan stress dulu, kamu dan pasangan kamu harus yakin kalau dengan dukungan satu sama lain, kalian pasti bisa melalui semua urusan administrasi ini dengan baik (cieee..). Jadi, tetap semangaaat ya!

Catatan penting: kalian harus membawa semua dokumen penting pribadi dan dokumen pernikahan ke Perancis (misal, akte kelahiran asli, fotokopi KK, ijazah pendidikan, transkrip, buku nikah, dll).

Supaya sesampainya di Perancis, gak kelimpungan cari-cari dokumen dan malah merepotkan keluarga di Jakarta untuk kirim dokumen-dokumen tersebut.

Oke, lanjut.

Pertama, carte de séjour atau residence permit adalah izin tinggal di Perancis untuk pendatang yang akan tinggal di Perancis hingga satu tahun maupun lebih. Beberapa kategorinya mengizinkan pemegang visa untuk tinggal selama 3 atau bahkan 4 tahun.

Untuk itu, biasanya bagi orang-orang yang baru tiba di wilayah Perancis, pemegang visa VLS-TS berkewajiban mengirimkan beberapa dokumen by post ke OFII kota dimana mereka tinggal, dengan melampirkan formulir aplikasi OFII yang telah diisi dan di stempel oleh pihak Kedubes Perancis sewaktu di Jakarta.

Dokumen lain yang juga harus dikirimkan kepada OFII diantaranya;

  1. Fotokopi halaman depan paspor yang berisikan identitas pribadi dan validitas paspor
  2. Fotokopi halaman stempel imigrasi Perancis (yang biasanya diberikan ketika masuk wilayah Perancis)
  3. Fotokopi halaman visa long stay
  4. Fotokopi livret de famille

Kirimkan semua dokumen diatas dengan Formulaire de Demande d’Attestation OFII yang sudah di isi seluruh informasi mengenai data pribadi kamu. Setelah itu OFII akan mengirimkan bukti tanda terima bahwa file sudah diterima dengan baik. Waktu itu tanda terima ini dikirimkan setelah 4 (empat) hari saya dan suami mengirim semua dokumen diatas.

Ingat, waktu lama atau tidaknya, bisa tergantung dari kantor OFII di daerah kalian ya.

Lalu, sekitar 3-4 minggu setelah menerima surat tanda bukti tersebut, saya mendapatkan surat panggilan dari OFII untuk melengkapi file, undangan untuk melakukan pemeriksaan medis dan radiologi, dan juga pertemuan pengantar (visite d’accueil).

Nah, pada pertemuan ini, kalian kembali diwajibkan untuk membawa dokumen-dokumen seperti; paspor, foto ukuran paspor (menghadap ke depan tanpa penutup kepala), bukti tempat tinggal di Perancis (tanda terima sewa, listrik, gas, air atau tagihan telepon rumah dengan nama kamu), hasil sertifikat medis, dan biaya pajak yang harus dibayarkan kepada OFII by online berupa stamp/timbre. Untuk ini, kamu bisa membayar dan mendapatkan stamp tersebut disini. Setelah itu mereka akan memberikan stempel bukti melalui email, stempel inilah yang harus dilampirkan dan dibawa saat pertemuan tersebut.

Tarif OFII ini berbeda-beda tergantung maksud dan tujuan kita tinggal di Perancis:

Pengunjung : 250EUR –> istri WN Perancis masuk ke dalam kategori ini

Pelajar & Trainee : 60 EUR

Profesional kerja : 250 EUR

Seperti yang sudah saya informasikan diatas, nanti akan ada personal interview dengan pihak OFII, pertemuan ini bertujuan untuk:

  • Presentasi mengenai Republican Integration Contract;
  • Tes tertulis untuk menilai kemampuan bahasa Perancis;
  • Wawancara personal terkait dengan situasi sosial dan profesional, kemungkinan menggunakan bahasa Perancis, atau disediakan interpreter kalau tersedia;
  • Penandatanganan Republican Integration Contract

Kebetulan saya baru akan memulai pemeriksaan medis dan interview awal Maret depan. Deg-degan sih, tapi mudah-mudahan semuanya akan baik dan lancaaar.

Nah, yang saya ketahui dan hasil ngobrol dengan beberapa imigran atau WN lainnya, setelah melihat hasil tes tertulis kemampuan bahasa Perancis, OFII akan menentukan apakah kamu membutuhkan kursus bahasa Perancis lagi atau tidak. Jika iya, kamu akan mendapatkan kursus bahasa Perancis secara gratis!

Setelah semua formalitas ini dilaksanakan, pada proses akhir validasi, OFII akan memberikan izin untuk kamu tinggal yang tercatat sah secara hukum di Perancis berupa melampirkan stiker dan tanggal di paspor kamu, selama masa berlaku visa yang tercantum di paspor kamu.

Wajib diketahui: Karena penyelesain formalitas ini mungkin memakan waktu cukup lama, bisa sekitar 1 bulan, tergantung kantor OFII setempat. Kamu harus memulai proses pengiriman seluruh dokumen sesaat setelah ketibaan di Perancis, paling lambat di minggu pertama setibanya di Perancis.

Jika kamu gagal melakukannya dalam waktu 3 bulan di Perancis, berarti kamu tinggal secara ilegal di Perancis dan harus membayar biaya legalisasi lagi.

Huft, memang penuh pengorbanan dan uang ya, menikah dengan WNA itu.

Nah, bagi yang ingin memperpanjang izin tinggal di luar dari visa dan residence permit, kamu harus memperpanjang visa atau izin tinggal dalam waktu 2 bulan terakhir, sebelum masa berlaku visa kamu berakhir.

Kunjungi kantor Préfecture setempat di kota kamu melakukan aplikasi permohonan izin tinggal. Nanti kamu akan diberikan formulir yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri kamu. Kalau kamu gagal atau tidak cukup waktu untuk melakukan perpanjangan ini, akan mengakibatkan kamu harus kembali ke negara tempat tinggal untuk meminta visa baru.

Kedua, setiba di Perancis kalian wajib Lapor Diri dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) di negara tersebut. Kenapa? Supaya kamu tercatat di KBRI dan kalau ada apa-apa, KBRI siap membantu. Misalnya, kamu ingin memperpanjang paspor yang masa berlakunya sudah abis. Jadi, data diri kamu sudah ada di KBRI, gak perlu repot ke Indonesia, cuman perkara perpanjang paspor (bukan apa-apa, ongkosnya kan lumayan ya, gengs). Juga, urusan pekerjaan, perceraian, kematian dan lainnya.

Nah, saat ini Lapor Diri untungnya udah online! Jadi, sila klik ke website ini. Untuk melaporkan diri kamu, sebaiknya kamu pilih kolom Daftar. Di isi dengan lengkap ya informasi pribadinya, untuk memudahkan tracking data kamu nantinya. Setelah itu, persiapkan beberapa dokumen dalam bentuk jpg seperti diantara ini:

  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Paspor halaman data diri
  3. Visa VLS-CF
  4. Bukti tempat tinggal di Perancis (slip listrik, kontrak apartemen, slip telepon)
  5. Carte de séjour (jika sudah ada) atau Surat Bukti Tanda Terima sedang dalam proses validasi administrasi by OFII

Setelah selesai, nanti kamu akan mendapatkan nomor registrasi lapor diri. Beberapa hari setelah melakukan lapor diri online, akhirnya saya mendapatkan email langsung dari Konsuler KBRI Paris, kalau mereka sudah menerima pendaftaran dan data saya. Jika ada beberapa dokumen yang belum terverifikasi, mereka juga akan minta kirimkan by email.

Ketiga, untuk mengurus Caisse Primaire d’Assurance Maladie (CPAM) atau Sécurité Sociale. Hal ini yang selalu diingatkan oleh suami saya setelah kami mengurus dokumen dengan OFII. Karena warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Perancis harus mendaftarkan diri ke French social security untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah, termasuk tunjangan asuransi kesehatan. Sistem jaminan sosial yang lebih dikenal oleh orang-orang Perancis sebagai la Sécu ini ada beberapa kategorinya. Penting bagi WNA di Perancis untuk mendapatkan nomor social security ini untuk mendapatkan benefit yang ditawarkan oleh pemerintah Perancis.

Saya sendiri menyerahkan pengurusan ini kepada suami, karena suami yang paling ngerti soal ini, tapi untuk formulirnya sila download disini

Setelah mengisi formulir tersebut, kamu juga harus melampirkan:

  1. Fotokopi paspor yang berisikan data diri
  2. Fotokopi visa
  3. Fotokopi stempel dari imigrasi Perancis
  4. Fotokopi surat tanda terima OFII (bagi yang belum punya residence permit)
  5. Fotokopi akte kelahiran (yang harus diterjemahkan ke Bahasa Perancis, dengan penerjemah tersumpah di Perancis)
  6. Fotokopi akun bank (kalau belum punya bisa pakai akun bank suami dulu, tapi lampirkan surat pernyataan ya kalau kalian berdua sama-sama mengetahui dan setuju untuk menggunakan akun bank suami nantinya untuk menerima benefit tersebut)
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal

Setelah mengisi formulir diatas dan mengumpulkan semua dokumen, langsung dikirimkan ke kantor CPAM atau Sécurité Sociale di kota kamu tinggal.

Keempat, membuat nomor pajak dan akun rekening bank. Harusnya ini sudah bisa dibuat dari sejak kita pindah. Namun, biasanya untuk mengurus nomor pajak memakan waktu lebih lama, terlebih jika kamu belum mendapatkan residence permit dari pihak OFII. Jadi, karena urusan residence permit saya juga belum selesai, akhirnya kami memutuskan untuk membuat nomor pajak dan akun rekening bank setelah urusan residence permit selesai.

Jadi, kira-kira segitu dulu ya informasinya! Mudah-mudahan cukup membantu. Next time saya akan cerita bagian senang-senangnya ya, seperti traveling atau cerita pengalaman gimana rasanya hidup di Perancis sebagai pasangan atau istri orang Perancis.

Sila komen di bawah atau juga bisa kontak saya by email jika ada yang ingin ditanyakan ya.

Bisous,

Astrid

5 Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Menikah dengan WN Perancis

Nah, akhirnya saya baru bisa nih berbagi pengalaman lagi mengenai apa yang harus dilakukan oleh saya (atau kalian) sebagai warga negara Indonesia setelah menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia.

Bagi teman-teman yang terlewat informasi bagaimana syarat-syarat menikah antara WNI dan WN Perancis di Indonesia, sila cek di kedua post saya yang ini ya: Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 1)  dan Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 2)

Bagi yang masih kurang jelas bisa tanya di kolom komentar dua post diatas atau komen di bawah ini ya!

Nah, sekarang saya mau share langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menikah dengan WN Perancis, selain honeymoon tentunya ya! Hehe. Khususnya bagi kamu yang akan diboyong suami ikut ke Perancis, yaitu untuk membuat buku keluarga atau livret de famille.

Jadi, seminggu setelah menikah setidaknya terdapat 5 langkah yang harus kamu lakukan:

Pertama, bawa kedua buku nikah kamu ke KUA tempat dimana kamu menikah untuk dilegalisir oleh KUA. Sebelumnya cek seluruh data-data yang ada di buku nikah apakah sudah benar atau tidak, karena buku nikah ini nanti akan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis juga oleh penerjemah tersumpah. Untung saya beberapa kali berkomunikasi dengan Mas Subandi, penerjemah tersumpah, jadi beliau mengingatkan saya untuk memeriksa keseluruhan data yang tertulis di buku nikah, bahkan ia sempat bilang kalau seringkali ada kesalahan penulisan terkait kewarganegaraan suami. Dan benar aja loh gengs, di buku nikah saya tertulis kalau suami saya WN Indonesia. Padahal saat di KUA seluruh dokumen sudah diberikan bahkan ada data yang harus saya isi terkait dengan informasi saya pribadi dan suami beserta kedua orang tua kami, which is ada tulisan kalau suami saya WN Perancis, tapi tetap aja salah… DOH! Emang paling gak ngerti ya kenapa hal-hal begitu bisa salah, kalau minta duit aja cepet, pikir saya waktu itu.

Anyway, bagi kamu yang memiliki prenup, juga jangan lupa memberikan kopian dokumen asli prenup ke KUA untuk dilegalisir dan didaftarkan, prenup ini tidak perlu dibawa ke Pengadilan Negeri lagi, kalau sudah didaftarkan di KUA. KUA juga akan memberikan fotocopy buku nikah yang sudah dilegalisir. Waktu itu, karena mengurusnya ketika saya sedang berada di Yogyakarta, jadi Ibu dan kakak saya membantu proses ke KUA, tidak perlu surat kuasa untuk mengurus ini, tinggal bawa saja buku nikah yang aslinya.

Kedua, setelah proses dari KUA, kalian harus mengurus pengiriman beberapa dokumen kepada penerjemah tersumpah (sworn translator). Ada beberapa penerjemah tersumpah yang sudah terdaftar di Kedubes Perancis, tetapi saya masih menggunakan jasa Mas Subandi, karena lagi-lagi harganya yang masih terjangkau, kerjanya cepat dan terpercaya. Sila melihat kontak Mas Subandi di artikel ini.

Beberapa dokumen yang harus dikirim ke Mas Subandi sbb:

  1. 2 (dua) buku nikah asli
  2. Fc buku nikah yang dilegalisir oleh kepala KUA
  3. Fc KTP istri (untuk WNI)
  4. Fc pasport suami (untuk WNA)
  5. Fc surat izin menikah dari Kedutaan Besar (2 bahasa: Perancis dan Bahasa Indonesia)
  6. Surat mualaf, kecuali kalau muslim sejak lahir
  7. Akta cerai, jika status telah bercerai
  8. Fc prenuptial agreement (perjanjian pernikahan), jika ada

Seluruh dokumen diatas dapat dikirimkan by post atau by ojek online. Pastikan alamat yang penerima tidak salah ya! Nanti minta si penerjemah untuk menginformasikan ke kita, jika dokumen sudah diterima.

Ketiga, meminta legalisir buku nikah ke-3 Kementerian terkait, yaitu; Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Luar Negeri. Langkah ini tergantung apakah kamu mau mengurusnya sendiri atau meminta jasa penerjemah tersumpah juga untuk melakukannya. Biasanya mereka menawarkan jasa ini sudah paket dengan terjemahan buku nikah hingga memberikan dokumen-dokumen tersebut ke pihak Kedutaan Besar Perancis. Karena saya tidak mau repot, jadi saya meminta untuk sekalian saja diurus oleh Mas Subandi. Makanya untuk tarif, terbilang cukup pricey ya, waktu itu saya bayar sekitar 3 juta Rupiah all in! Sebenarnya untuk legalisir buku nikah di 3 Kementerian, terjemahan dan penyerahan ke Kedutaan Besar tarifnya 2 juta Rupiah, tapi karena saya memiliki prenuptial yang juga harus didaftarkan di dalam livret de famille untuk diketahui oleh otoritas Perancis, jadi tetap harus diterjemahkan. Jumlah halaman prenup sekitar 6 halaman, jadi untuk prenup saja sudah sekitar 1 juta Rupiah. Mahal yah nikah sama WNA, gengs, huhuhu..

Nah, setelah semua proses diatas selesai, Mas Subandi akan mengirimkan seluruh dokumen secara langsung ke Kedubes Perancis. Waktu itu cukup cepat, proses dari terima dokumen dari saya ke penerjemah tersumpah, lalu diterjemahkan dan dikirimkan ke pihak Kedubes ada sekitar 9-11 hari kerja.

Keempat, setelah bukti pengiriman ke pihak Kedubes sudah dikirimkan oleh Mas Subandi, tidak lama saya menerima email dari Ibu Cempaka dari Kedubes Perancis, bahwa dokumen sudah diterima dan suami saya harus mengisi dokumen Formulir Permohonan Transkrip, form nya dalam bahasa Perancis dan waktu itu diisi oleh suami saya akhirnya, lalu saya kirimkan kembali lagi ke Ibu Cempaka via email. Waktu untuk menunggu livret de famille ini selesai, sekitar 2 bulan lamanya. Kalau saya waktu itu 2 bulan 2 minggu karena ada keterlambatan dari pihak Kedubes.

Kalau kita sudah memiliki acte de marriage dan livret de famille ini, kita bisa langsung lanjut proses kelima yaitu, membuat visa long séjour (long stay visa). Sebenarnya kamu tetap bisa ke Perancis sebelum kedua dokumen ini selesai, tapi paling cuma bisa buat visa tourist aja untuk sebulan atau kurang dari 3 bulan, setelah itu harus balik lagi sampai 2 dokumen tersebut selesai. Setelah itu, langsung proses long stay visa yang saya sebutkan tadi, tapi karena memperhitungkan biaya yang pastinya mahal banget, jadi daripada buang-buang uang untuk tiket pesawat mending uangnya buat nabung kan gengs.

Untuk proses membuat visa, khusus negara Perancis dan Swiss, kita bisa memproses pembuatan visa di TLS Contact. Untuk proses pembuatan visa, kamu harus registrasi online dulu ya, supaya bisa langsung log in. Semua informasi lengkap ada di website TLS Contact, ingat… harus rajin-rajin baca dan bertanya ya, kalau memang sudah kepepet atau ada yang kurang jelas bisa langsung tanya via email ataupun telepon ke kantor mereka.

Visa tipe seperti apa yang dibutuhkan nih?

Jadi, setelah kalian buka websitenya, silahkan pilih ‘Documents and Visa Types’ >> lalu, kalian bisa melihat berbagai jenis visa yang dibutuhkan, lalu pilih ‘Family member of a French citizen or his/her purpose’ >> jangan bingung, setelah klik pilihan tersebut, ternyata masih banyak lagi kan jenis-jenis visa yang berbeda? Waktu itu saya pilih tipe visa yang ‘Spouse of a French citizen – Long stay (more than 90 days)‘.

Jangan syok ya kalau persyaratannya banyak, alhamdulillah karena saya sudah cukup berpengalaman membuat Schengen visa dan menurut saya, visa tipe ini merupakan aplikasi termudah! 3 kali sebelumnya, saya pun juga ‘tertolong’ buat visa, karena ketiga-tiganya saya diundang oleh organisasi/NGO internasional yang berada di salah satu negara Eropa untuk urusan pekerjaan. Mudahnya, karena mereka memberikan surat undangan dan pernyataan bahwa setiba di Eropa mereka akan menjamin hidup saya selama disana. Gak kebayang, beberapa teman sempat berkonsultasi, gimana caranya buat Schengen visa dan ternyata lumayan sulit juga kalau memang tujuannya untuk tourisme atau backpacker ya, harus ada jaminan dan copy jumlah uang di rekening bank yang minimum sekian juta, surat sponsor, de el el.

Lanjut lagi, jadi untuk aplikasi visa long stay ini ada beberapa hal yang saya bilang cukup menguntungkan, diantaranya; kita tidak perlu membayar visa alias FREE a.k.a GRATIS gengs (kecuali, kalau kamu mau premium service pada saat pembuatan aplikasi visa, harus tambah IDR 450.000 lagi ya!); terus kita tidak perlu atur waktu janji temu untuk interview, karena kita bisa datang langsung jam berapa pun (selama waktu operasional TLS contact). Another perks of having a French husband. Ketika kamu akan masuk ke dalam kantor TLS contact, kamu harus membawa si acte de marriage dan livret de famille.

Untuk persyaratan dokumen lengkapnya, beberapa yang harus dikumpulkan dan diberikan kepada pihak TLS Contact diantaranya;

  1. Formulir aplikasi long stay visa yang asli
  2. Formulir OFII (di isi dan dibawa saat proses aplikasi, form ini akan digunakan setelah tiba di Perancis untuk membuat residence permit)
  3. 2 lembar pasfoto berwarna, latar belakang putih, ukuran 3,5 cm x 4,5 cm (tidak lebih dari 6 bulan)
  4. Buku Keluarga (ingat ini livret de famille ya, yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Perancis)
  5. Fotokopi sertifikat menikah (acte de marriage, juga dari Kedubes Perancis)
  6. Fotokopi KTP pasangan WN Perancis atau Pasport biometrik WN Perancis
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal di Perancis
  8. Fotokopi Kartu Keluarga (WN Indonesia)
  9. Pasport (2 lembar fotokopi yang berisikan data dan pasport asli dibawa dan diserahkan kepada petugas visa, yang masa berlaku kurang dari 3 bulan dengan 2 halaman kolom kosong untuk visa stiker)
  10. Fotokopi pasport lama, terutama pada bagian visa dan personal data. Bawa juga pasport aslinya untuk jaga-jaga ya.

Saya baru tau, ternyata kalau apply visa via French embassy, mereka tidak pernah menanyakan soal travel insurance. Saya pun juga tidak diminta untuk melampirkan booking flight ticket, paling hanya ditanya ‘nanti berencana berangkat ke Perancis nya kapan ya?’.

Setelah semua proses dan dokumen sudah dicek, nanti kalian juga akan ditawarkan apa mau ambil visa nya langsung di TLS contact atau dikirim by JNE YES? Untuk kiriman by JNE, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 75.000,- karena rumah saya juga masih di daerah Jakarta Selatan, ya saya pilih langsung saya yang ambil dong jelas, meminimalisir hilang atau kerusakan juga saat pengiriman.

Setelah semua sudah selesai, siap-siap tinggal tunggu berangkat deh!

Nanti sesampainya di Perancis saya kabarin lagi ya, hal-hal apalagi yang harus saya (atau kamu lakukan) karena ada beberapa dokumen lagi yang harus dikerjakan setibanya di sana untuk membuat resident permit “Titre de séjour”.

Featured background picture from Pinterest.

WITT #30: A New Phase of Life, A Wife!

As you may already know or see my wedding pictures from my blog or my social networks channels, so we just got married on 11th of August, 2018 in my hometown Jakarta, Indonesia.

Yes, I am a wife from the lovely and kind-hearted man I’ve ever met.

I don’t mean to manipulate or exaggerate my words above, but it’s truly what I feel about him. He is the most amazing husband that I’ve ever had. Since the first time our relationship begins, he always keeps his promises and he is committed of what he said.

For some people, marriage can be a scary thing or even a strangest thing, but not for us. He is the most brave man I’ve ever met, even he is younger than me, but the way he thinks is even more mature than me. He is really respected with me who is still learning to be a feminist and wanted to have a healthy balance marriage.

When a lot of husbands out there, will demanding to change the family name after marriage …

He does not want to. He let me choose what I want, even my decision to keep my original and full name which is given by my parents.

Since we were in a relationship, I can be totally myself in front of him and that is the most important, so do him. For example, farting and burping can be the most impolite thing to do in front of people, but he is fine and always telling me “release your self …” ((LOL))

Or simply because he just wants to make me happy hahaha.

Marriage for us is something we hope, will keep as a teamwork, share each other feelings, be a good listener and a good adviser for each other, and a best friend for life. I know we both are still learning how the marriage works, what we have to do when things don’t work, or simply what we will cook for today. But what I knew, I found someone who never makes me question about my own self-worth, who supports me in the things that I really passionate about. And treat each other with an equality, someone who respects my heart, my family and my values. And I hope I do the same way to you.

I am not promising you that marriage life is easiest things to do, but it will be easier when we share everything, share our strength, weakness, communication, respect, love, passion, craziness and many more.

So bubz, let ’s enjoy the ride!

#ACIDIGORDAYONE : With the Besties

#acidigordayone : best friends since 2008 at Twin House Cafe, Cipete

No one can describe how much I feel very lucky to met these people in my teenager goes to quarter-life crisis. Thank you for contagious laughter and happiness you brought to my wedding.

We are forever grateful!

Loves,

ACID & IGOR

Susah gak sih menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia? (Part 2)

Nah, melanjutkan artikel sebelumnya, setelah memberikan semua dokumen ke Madame Cempaka, yang diantaranya:

Calon Pengantin Wanita:

  • Formulir CPW dan CPP (Renseignements Relatifs A Chacun des Futurs Epoux, Demande de Certificate de capacite a mariage);
  • Akte Kelahiran asli yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (untuk di fotokopi/di scan oleh Kedubes);
  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi N1, N2, N4

 Calon Pengantin Pria:

  • Akte Kelahiran terbaru (<3 bulan)
  • Fotokopi KTP Perancis
  • Fotokopi passport
  • Bukti tempat tinggal (fotokopi tagihan listrik)

Karena waktu itu, waktu sudah agak mepet dari deadline yang sudah kami buat, jadi, saya mengirimkan scanned copy Akte Kelahiran suami saya terlebih dahulu kepada pihak Kedubes. Namun, karena sudah prosedur baku dan wajib, pihak Kedubes baru akan memproses permintaan Surat Izin Menikah (certificat de capacité à mariage) dari Pemerintah Perancis. Pihak Kedubes mengirimkan surat notifikasi terkait dengan proses pernikahan yang akan dilaksanakan di Jakarta, Indonesia dengan didukung oleh seluruh dokumen lainnya. Waktu itu pihak Kedubes Perancis meminta saya untuk membawa Akte Kelahiran asli untuk ditunjukan sesaat proses verifikasi semua data. Setelah semua dokumen dikirimkan ke pihak Kedubes dan sudah terverifikasi, Madame Cempaka yang akan mengirimkan surat diplomatik kepada pemerintah setempat/balai kota dimana suami saya tinggal dan menetap saat ini. Setelah menerima notifikasi dari Kedubes, Balai Kota (La Mairie) akan menerbitkan atau mempublikasikan wedding ban kurang lebih selama 10-14 hari, hal ini untuk mengumumkan bahwa tidak ada pihak-pihak lain yang berkeberatan terhadap penyelenggaraan pernikahan kami yang akan diselenggarakan di Jakarta, Indonesia.

Sejujurnya sedikit tegang, karena Surat Izin Menikah ini yang menjadi penting ke depannya untuk kami mendaftarkan pernikahan secara legal di Indonesia melalui Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Catatan Sipil untuk Non-Muslim. Bersyukur sekali karena setelah menunggu hampir 1,5 bulan lebih lamanya, Surat Izin Menikah pun dikeluarkan oleh otoritas setempat Perancis dan Kedubes Perancis membuat versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia yang lalu di-stempel cap asli dari pihak Kedubes Perancis. Dokumen asli ini harus diberikan kepada pihak KUA sebagai berkas utama mereka nantinya saat pendaftaran pernikahan.

Keenam, untuk beberapa pasangan WNI dan WNA (pernikahan campuran) pasti tahu betul betapa pentingnya Perjanjian Pranikah (prenuptial agreement), khususnya bagi pihak WNI. Saya bersikeras untuk meyakinkan pasangan betapa pentingnya dokumen ini untuk kami buat, bukan lantaran kami bersiap akan resiko terburuk dalam suatu hubungan, namun ada yang jauh lebih penting dari itu, menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dan setelah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 yang mempertegas terkait hak milik properti ketika melakukan perkawinan campuran.

Selain itu, terkait hal ini juga diatur di dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UU Perkawinan) yang menjelaskan secara gamblang apakah yang dimaksud dengan perkawinan campuran. Menurut pasal tersebut, dalam perkawinan campuran seorang WNI menikah dengan seorang WNA, baik perkawinan itu dilakukan di Indonesia muapun di luar Indonesia. Dari segi kepemilikan tanah, khususnya bagi WNI, perkawinan campuran dapat mengakibatkan tanah milik WNI bercampur dalam harta bersama dengan WNA. Sebab itu, seorang WNI tidak dapat memiliki tanah dengan hak milik setelah menikah dengan WNA. Oleh karena itulah, pentingnya hal seperti ini diatur di dalam Perjanjian Pranikah sebelum kita sebagai WNI kehilangan hak atas properti kita di Indonesia. Prosesnya mudah namun terkadang bervariatif, begitu pula harganya, kamu bisa urus di kantor notaris yang memang biasa mengurus hal seperti itu. Walaupun beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia memperbolehkan untuk membuat postnuptial, tetapi ada baiknya kita persiapkan sebelum menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

Mungkin di blog post selanjutnya ada yang berminat supaya saya bisa berbagi bagaimana mekanisme pembuatan Perjanjian Pranikah? Komen di bawah artikel ini ya!

Lalu lanjut lagi, setelah Perjanjian Pernikahan selesai, dan kamu sudah menerima semua dokumen, termasuk sudah mengantongi Surat Izin Menikah dari pihak Kedubes Perancis selanjutnya langkah ketujuh adalah membawa semua kelengkapan dokumen yang dimiliki ke KUA, karena lokasi pernikahan saya berbeda dengan wilayah tempat saya tinggal, mau gak mau saya harus meminta Surat Rekomendasi Nikah. Syarat-syarat untuk meminta surat ini juga mudah dan langsung jadi, waktu itu saya cuma memakan waktu kurang dari 10 menit saja. Biaya? Awalnya sih bagian informasi bilang kalau tidak dipungut biaya apa pun, tapi entah begitu tau calon saya adalah WN Asing atau memang mereka suka meminta ‘pungli’, tetiba saya ‘ditodong’ untuk memberikan Infaq seikhlasnya. Karena memang tujuannya infaq yasudah saya kasih seadanya di dompet saya, yaitu 10 ribu rupiah. Harusnya mereka menyediakan kotak infaq eh gak taunya saya lihat sendiri uang itu diberikan ke bapak separuh baya yang semula mengetikan dan memberikan surat rekomendasi nikah saya, bahkan si bagian informasi agak manyun ketika saya hanya memberikan uang sebesar itu. Hmmm… agak mengecewakan sebenarnya ketika melihat praktik-praktik seperti ini masih berulang.

Well anyway… setelah surat rekomendasi nikah jadi, tetiba aja saya mendapat berita kalau sekarang untuk mendaftar nikah di KUA, dibutuhkan Sertifikat Layak Kawin yang dikeluarkan oleh Puskesmas setempat terkait dengan pemeriksaan cek kesehatan pranikah dan suntik tokso. Akhirnya saya segera meluncur ke Puskesmas domisili saya tinggal, ternyata bagi pemegang KTP Jakarta asli pendaftaran diberikan secara cuma-cuma atau GRATIS! Namun, tes kesehatan pranikah tersebut hanya diadakan setiap hari Selasa dan Kamis saja, saya kurang tahu apakah di Puskesmas lain juga memiliki kebijakan yang sama, oleh karena itu, banyak-banyaklah mencari informasi ya!

Jadilah, langkah ke delapan ini saya melakukan tes kesehatan pranikah, diambil darah untuk mengetahui rhesus golongan darah, suntik tokso (wajib untuk perempuan) dan tes HIV. Syukurlah, hasilnya memuaskan, selain hasil laboratorium yang lebih detil, kalian akan dibuatkan Sertifikat Layak Kawin seperti yang ada di bawah ini.

Dua minggu sebelum menikah, akhirnya suami saya datang! Karena saat itu ia masih berstatuskan non muslim, akhirnya begitu sampai di Jakarta, kami sekeluarga mendampingi suami saya ke Masjid Istiqlal untuk proses Pengislaman. Alhamdulillah, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, suami saya bersedia untuk melakukan itu. Proses terkait Pengislaman juga agak panjang, kalian bisa komen di bawah kalau memang mau tahu prosedur dan syaratnya seperti apa ya..

Selain itu. untuk mengurus ke KUA di lokasi tempat pernikahan saya berada, membutuhkan tanda tangan, data pribadi dan wawancara sedikit untuk calon pengantin pria saat itu. Jadilah, di langkah ke sembilan ini kami ke KUA lokasi pernikahan untuk mendaftarkan pernikahan kami. Apa syarat-syaratnya?

  1. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui 2 orang saksi. Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Akta Cerai/surat keterangan cerai yang asli;
  2. Foto copy piagam masuk Islam (khusus untuk yang mualaf);
  3. Foto copy Akte Kelahiran/Kenal Lahir/ID Card;
  4. Surat tanda melapor diri (STMD) dari kepolisian(ini hanya untuk WNA yang sudah menetap di Indonesia);
  5. Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil apabila yang bersangkutan menetap di Indonesia.
  6. Tanda lunas pajak bangsa asing (bagi yang bekerja di Indonesia).
  7. Keterangan izin masuk sementara (KIMS) dari Kantor Imigrasi atau foto copy visa(waktu itu karena suami saya masuk dengan Free Visa 30 hari, jadi saya hanya fotokopi cap/stempel yang diberikan petugas Imigrasi saat di bandara).
  8. Fotokopi passport;
  9. Surat Keterangan atau izin menikah dari Kedutaan/perwakilan Diplomatik yang bersangkutan;
  10. Semua surat-surat yang berbahasa asing harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah resmi dan tersumpah.

Nah, untuk poin ke-10 diatas, lumayan merogoh kocek lagi, jadi sebegitu saya dapat Akte Kelahiran aslinya, saya langsung kirimkan ke Penerjemah Tersumpah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri langsung menghubungi Mas Subandi, proses penerjemahan 2-3 hari kerja. Setelah mengirimkan scanned copy melalui email, melakukan transfer pembayaran, setelah selesai dokumen langsung dikirimkan ke alamat rumah. Untuk kontaknya, sila dihubungi melalui email ini: subanditrans@yahoo.com. Setelah survey ke beberapa penerjemah tersumpah lainnya, menurut saya Pak Subandi yang memang lumayan terjangkau harganya. Per lembar sekitar Rp 170.000, jika butuh dokumen asli untuk dikirimkan tinggal tambah untuk ongkos kirimnya saja (harga per bulan Juli 2018).

Langkah ke-sembilan ini juga tidak rumit, kalau semua dokumen sudah tersusun dan terjaga dengan baik. Jadi tinggal di-submit saja, waktu proses submit, kebetulan kami bertemu dengan Pak Penghulu nya, jadi deh kita dikasih wejangan atau nasihat pernikahan sebentar. Lalu ada beberapa dokumen yang harus di isi juga. Setelah itu, selesai dan tinggal atur jadwal aja sama Pak Penghulu nya. Setelah itu saya diantarkan ke bagian Tata Usaha di KUA tersebut untuk membayar beberapa biaya yang wajib dibayarkan.

Sebenarnya Pemerintah Indonesia telah menetapkan biaya sebesar Rp 600.000,- saat pendaftaran pernikahan, biaya ini sebenarnya sudah termasuk biaya transportasi penghulu, tetapi anehnya saat itu penghulu bilang biaya ini hanya untuk pendaftaran KUA saja, belum penghulu. Malahan saya diminta untuk membayar ‘denda/dispens’ karena pendaftaran nikah kurang dari 10 hari dari waktu pernikahan, biaya yang dikenakan Rp 50.000 dan langsung saya bayarkan di ruang Tata Usaha. Saat itu, karena tidak mau terlalu rumit untuk bolak-balik ke Bank untuk membayarkan biaya pendaftaran pernikahan, akhirnya saya memilih untuk membayar juga di bagian Tata Usaha. Eh, gak taunya saya lagi-lagi dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 20.000 oleh petugas. Sehari kemudian, petugas KUA menginformasikan by Whatsapp perihal biaya yang sudah dibayarkan untuk pendaftaran menikah, anehnya disitu hanya tertera Rp 600.000 saja, tidak ada jumlah Rp 50.000 dan Rp 20.000.

Aneh memang, tapi ya begitulah Indonesia, rumitnya birokrasi dan apa-apa ada tarifnya hehe.

Nah, kurang lebih seperti itu syarat-syarat dan langkah-langkahnya, kalau dibaca memang rumit tapi setelah dijalankan, ternyata gak sesulit yang orang-orang bicarakan dan bayangkan. Mungkin terasa lebih mudah juga buat saya, karena saya berdomisili di Jakarta, jadi memang kemana-mana aksesibelnya mudah, kantor saya kebetulan dekat sekali dengan Kedubes Perancis, jadi izin sesekali tidak menjadi masalah.

Bagi pembaca yang masih bingung dan mau tanya lebih lanjut, sila tinggalkan pertanyaan atau komentarnya di kolom bawah ini ya!

Best,

Astrid

Susah gak sih menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia? (Part 1)

Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan yang sangat umum yang ditanyakan oleh perempuan atau laki-laki Indonesia yang ingin menikah dengan Warga Negara Perancis (jadi, saya akan menjelaskan secara detail dokumen apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana prosesnya), karena kebetulan saya menikah dengan WN Perancis, tapi mungkin kurang-lebih dokumen yang dibutuhkan juga akan sama walaupun kamu menikah dengan WN lain. Pada dasarnya ada beberapa perbedaan mendasar dalam mengurus beberapa dokumen izin menikah dengan WN Asing, tergantung dari apakah calon WNA kamu saat ini menetap atau sedang tinggal di Indonesia atau hanya turis yang sedang berkunjung dan memiliki tujuan untuk menikah dengan WN Indonesia. Nah, kalau cerita saya, suami saya memang orang asli Perancis yang masih tinggal dan menetap di Perancis, jadi saat kesini, suami saya memang hanya menggunakan visa turis biasa saja.

Hal lain yang harus banget di-highlighted, jangan pernah lelah untuk Googling dan bertanya sebanyak-banyaknya kepada orang yang berpengalaman mengenai pernikahan dengan WN Asing. Banyak bertanya juga ke beberapa instansi pemerintah terkait, seperti; Kelurahan, Kecamatan, KUA dan lainnya. Tapi, siap-siap aja ya, karena birokrasi di Indonesia memang sangat sangat melelahkan dan merogoh kocek banyak untuk urusan pernikahan (at least, yang sudah saya alami). Kalau ada waktu dan kamu punya jadwal yang cukup sibuk dengan urusan kuliah maupun kerja, ada baiknya juga untuk membuat Timeline lengkap dengan dokumen yang dibutuhkan, waktu pengurusan dan deadline untuk membuat atau menyusun dokumen-dokumen tersebut, tapi itu pilihan sih sebenarnya, mungkin karena saya orangnya sudah terbiasa terorganisir sejak banyak bekerja menjadi event organizer, jadi apa-apa kalau bisa ada timeline-nya. Sebagai contoh, format timeline bisa dibuat dengan format sederhana yang bisa kalian unduh disini.

Sebelum memulai beberapa step di bawah ini, pastikan untuk fotokopi semua dokumen umum seperti fotokopi KTP pribadi, fotokopi KTP kedua orang tua, Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, juga siap-siap untuk membawa seluruh dokumen aslinya.

Nah, sekarang perhatikan baik-baik beberapa langkah berdasarkan yang sudah saya lakukan sesuai urutannya:

Pertama, persiapkan seluruh dokumen pendukung untuk pendaftaran pernikahan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum ya. Jadi, awalnya saya memulai dengan dokumen yang dikeluarkan oleh Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat. Dokumen tersebut diantaranya, Surat Pengantar dan Surat Pernyataan Belum Menikah. Keduanya nanti akan ditandatangani oleh Ketua RT dan RW, dengan diketahui oleh orang tua sebagai wali nikah.

Kedua, bawa semua dokumen pendukung seperti, fotokopi KTP pribadi, fotokopi KTP kedua orang tua, fotokopi Kartu Keluarga (KK), beserta Surat Pengantar dan Surat Surat Pernyataan Belum Menikah yang sudah ditandatangani oleh Ketua RT dan Ketua RW, dan sudah dibubuhi materai 6.000, ke kantor Kelurahan setempat untuk minta dibuatkan Surat N1, N2, dan N4, serta Surat Pengantar Menikah untuk dibawa ke Kecamatan.

Apa itu surat N1, N2, N4? Merupakan surat keterangan yang menjelaskan mengenai pernikahan (N1), surat keterangan asal usul (N2) dan surat keterangan tentang orang tua (N4). Saat proses ini, tidak dipungut biaya, tapi waktu itu di Kelurahan dimana saya tinggal, petugas menanyakan apakah mau melakukan infaq/sedekah seikhlasnya atau tidak.

Ketiga, bawa seluruh surat-surat diatas ke kantor Kecamatan dimana kalian tinggal. Ini untuk mendapatkan Surat Keterangan/Surat Pengantar yang ditandatangani oleh Camat. Surat ini berisikan bahwa calon pengantin akan mengadakan pernikahan di lokasi atau area yang diinginkan untuk ditujukan atau dibawa ke kantor KUA setempat. Berhubung waktu itu lokasi pernikahan kami berada di Kecamatan yang berbeda dengan wilayah tempat tinggal calon mempelai wanita, jadi saya harus mengurus Surat Numpang Menikah.

Keempat, mengurus atau meminta pasangan WN Perancis untuk mengurus Akte Kelahiran (Act de Naissance). Hal ini yang pada awalnya bikin tegang, berhubung suami saya tidak lahir di mainland Perancis, melainkan di Negara Bagian Perancis namun terletak di Benua Amerika, yaitu di kota Kourou, Guyane. Dan untuk meminta Akte Kelahiran ini biasanya memakan waktu sekitar 4-7 hari pengiriman sejak proses request oleh suami saya. Belum lagi untuk mengirimkan Akte Kelahiran asli tersebut ke Jakarta yang biasanya memakan waktu 7-10 hari. Hal-hal seperti ini harus diperhatikan dengan seksama, agar dapat selesai tepat waktu dan patut diperhatikan bahwa Akte Kelahiran ini hanya berlaku selama 3 bulan sebelum pernikahan berlangsung.

Kelima, step kali ini diperuntukan untuk calon suami/istri yang merupakan WN Asing yaitu mengurus dokumen di Kedutaan Besar. Mengurus dokumen pernikahan di Kedubes tidaklah mudah, tetapi juga tidak bisa dibilang sulit asalkan semua step nya diperhatikan dengan jelas dan seksama. Untungnya, pihak Kedutaan Besar Perancis juga sangat kooperatif dalam proses pengurusan dokumen. Bagi yang mengurus pernikahan di Kedubes Perancis pasti akan bertemu dengan Madame Cempaka. Beliau pun juga sempat wawancara awal terkait dengan calon saya waktu itu, mulai dari pertanyaan-pertanyaan seperti; sudah pernah bertemu dengan calon atau belum? Kalau sudah, kapan dan dimana bertemunya? Semua dijelaskan menjadi satu kronologis yang kemudian di record dan dicatat untuk menjadi informasi tambahan.

Mau tahu dokumen apa saja yang diberikan ke pihak Kedubes? Simak di Part 2 ya!

 

…to be continued

A Random Thoughts: Love Has No Border

I believe that love has no border. Who’s agree with me now?

Since I quite often to travel to some places, I realised about some things in life, that I actually never know if its exist or even growing faster than I thought.

Like, love.

I really like to daydream at the airport, the station and in the park, every time I travel. Looking at people were walking around, have a chit-chat or just simply sitting and enjoy the weather in the park with their partners. But then, there are some moments which make me think and realise that I saw there are a lot of mixed couples each time I travel.

Last time, I saw some couples who also waited for the next flight like I did, when I was at Suvarnabhumi Airport, Bangkok and Arlanda Airport, Stockholm. The first one, seems from somewhere in America Latin and European, the others seems from South Asian countries, Thailand with American/European and there was also from the Middle East with European. Of course, it wasn’t my first time to see such things at the airport. I’ve seen a lot of it before in some different places. And since then, it makes me realise something…

LOVE HAS NO BORDER

The border what I talked here, is not only because of the different continents and countries, it is about the age, the gender, the culture, the habits, the religion, the race, the time, the place, the colour, and so forth.

Some people I knew have said, “I don’t understand with people who is doing long-distance relationship + a mixed couple! I mean, the ‘normal-ish’ relationship itself is somehow difficult for some people who even have a chance to see each other often, then how come long distance relationship could work? And sometimes it’s already difficult for a couple who has a different culture even they’re coming from the same country.”

I always laughed if I heard about those things. Because I know that love is a miracle that we even can’t control it, we can’t control our feeling who we will be falling in love with, we never understand about love. It somehow makes us lose control, makes us happier, lives healthier, ups and downs and everything in between!

I have some friends which look so much happier and oh-so-in-love even they have the same-sex relationship. I also have seen many couples who has so much different in term of their age (like I do now), but they’re all seems happy. I saw many mixed couples these past few years, till I experienced it by myself, with some of the differences that I and my partner has, it doesn’t make us feel weird or annoying to each other, but it does make us even richer about everything, we share our common values, we share and trying to understand about our cultures, my religion, our daily lives, exchange ideas, and more respect each other’s perspectives.

As we all know, we live with many differences in our lives, so embrace the diversity! Just don’t ever change people just because their culture and perspectives are different from what you have and what you’ve wished for. Always see there is always beautiful things behind every differentiates.

Don’t ever see those differences are barriers in your life, but rather than to see them as your sources on pursuing your only happiness, love and live your life, even though you have to step beyond the borders.

Love, xoxo.

 

 

A Dream Came True (with the best partner)

Who’s never had a dream to visit the most beautiful and romantic city like Paris?

Well, the term of the most beautiful and romantic city can be different from each people’s perspectives. But for me, Paris is indeed the most romantic city in the world.

I’ve been to Paris two times, first was during autumn in 2015 and the last time was just last week! I love France since I was 8 years old, at first just because I love Zinedine Zidane, then I love the football team, the country and then starting to love all about Paris, France and Eiffel Tower. When I was a teenager, I always wonder…

“When I could make it happen to go to Paris? Will I have a chance to go there for FREE?”

Because what I know, if we want to go to European countries it will be very expensive for Indonesian people to afford it by themselves. So, I keep praying, dreaming and wishing. In every birthday, in one of my birthday wishes, I always pray that one day I will go to Paris, to see the Eiffel tower with my own eyes, to feel how does it feel to live and to walk like a Parisienne. I want to feel all of it!

And my dream, my wishes became true in Autumn, 2015. I went to Paris! I got to see the Eiffel tower! I went to Notre Dame! Walked to the Pont Alexandre III! I enjoyed the Museum de Louvre and took pictures with the pyramid glass! And I visited the Arc de Triomphe! Last but not least, I went to Gare de Lyon, which I knew and remembered it was the station that Mr. Bean used for his 2nd movie, Mr. Bean Holiday! Hahaha. But last time, I was thinking that Paris is full of the traffic jam, just like in Jakarta, but the different was only less bad pollution. And every touristic place, even like Eiffel tower was always crazy and full of visitors.

Ok, so that the short story, back in 2015 and I was thinking it will be my first and last time to go to Paris.

But… it was a mistake.

In fact, I had a chance to visit Paris again, just last week! And…. with someone that I truly adore, with the best human that I ever had, my best (and crazy) partner ever! We spent the holiday together for a week in Paris, we made an itinerary which always full of must-visit-destinations. Then with him, now I know and I truly understand and even feel it, that Paris is indeed a romantic city in the world if you spent it with the one that you truly loved! ❤

Luckily, he has cousins which live in the south part of Paris. So we “rent” her apartment and stayed there for a week. His cousins were super nice with us! And the location was actually very great, because it is close to the bus and metro station, so it’s easier for us to move around to the central.

Last time I went to Paris, I still remembered that I ever wonder, what if I am here with someone that I love? It must be very beautiful. Last time one of my wishes were to have a lunch or dinner in Le Consulat Cafe which located in Montmartre area, go to the Sacre Couer and take romantics pictures with my boyfriend/husband, one day!

So this is it…

 

See my happy face? It was just after we ate a very delicious omelette in Le Consulat!

Look who’s very hungry? ❤

Délicieux Omelette @ Le Consulat

Look our happy face in front of the Sacre Coeur!

Yes, and just after 2 years, all of that was fulfilled this month! I even can’t describe how I feel much grateful and happy about it. It’s indeed, that we never know God’s plan for our future. But what I know, He always heard all of our prayers. So, keep and never bored to wish and dreams, friends 😉

Oh, and we were lucky that we met with a professional photographer from Argentina, that we ever asked to took a picture of us in front of the Eiffel tower. We actually just need an amateur picture ones, but then he took A PROFESSIONAL AND GREAT ONE! Which we super-love!

Thank you, Sandra and Fabian, for great pictures! We ❤ it!

One thing that I always feel beyond happy in there, not only because of the cutest and handsome boyfriend that I have or the beautiful of Paris city lights, but also I can feel that I finally found my “home” that I’ve been looking for, I even feel that I have my new family and have a new Mom, which live in another part of the world. Thus, I can’t stop to say Alhamdulillah for the happiness and loves that I have until now.

Some of you may ever have a feeling that you even can’t describe, but you feel much better, much happier and you feel that comfortable feeling, which you never had before with someone else, than with someone you truly love. Like I do, now. A person that you can be a true version of yourself. A person that always make you happy by the small things that he did to you. A person that could give anything you need without you have to ask. A person who could receive you, just the way you are, without we need to change our-self for him.

You know who you are.

I love you more and more each day.

Even more than I love Paris and its Eiffel tower now.

Or even more, than the croissant, pain au chocolat, Starbucks caffe latte and Tropicana orange juice!

I love you my present and future!

xoxo