Beauty Diary #1: Kenapa banyak Mineral Thermal Water di Perancis?

Selain surganya produk perawatan kulit, mungkin sudah banyak juga yang tahu kalau ternyata Perancis adalah salah satu negara yang terkenal dengan produk perawatan kulit dan produk kecantikannya.

Bagi yang sudah pernah ke Perancis, pasti tahu betul kalau kalian masuk ke dalam sebuah toko obat atau pharmacy, pasti kalian dapat dengan mudahnya menemukan berbagai brands baik produk perawatan kulit, maupun produk kecantikan. Bahkan beberapa diantaranya sudah menembus Indonesian market dan menjadi produk yang terbilang “eksklusif” karena harganya yang cukup mahal. Dikarenakan barang-barang tersebut biasanya masih di import langsung dari Perancis.

Berbagai merk produk perawatan kulit dan kecantikan yang cukup terkenal dan banyak terjual di Perancis, diantaranya; Avène, Bioderma, La Roche Posay, Urage, Vichy dan sebagainya. Dimana beberapa diantaranya sudah ada yang masuk ke Indonesia. Aku tuh suka memerhatikan satu per satu produk diatas yang ada di pharmacy setiap kali berkunjung.

Setelah saya sadari, ternyata semua merk diatas sama-sama memiliki produk sejenis, yaitu sama-sama memiliki produk mineral thermal water spray, bahkan kandungan mineral thermal water hampir ada di setiap produk lainnya seperti moisturizer, cream, bahkan tabir surya.

Tapi sebenarnya awal-awal menggunakan kayak masih bingung, apa sih mineral thermal water ini? Khasiat dan manfaatnya apa saja?

Aku sendiri sebenarnya baru beberapa bulan ini menggunakan salah satu produk mineral thermal water, terutama sejak aku pindah ke Perancis. Soalnya sejak disini, ada aja permasalahan kulit yang timbul mulai dari yang awalnya seumur-umur engga pernah punya alergi tetiba aja ada alergi dong yang datang, namanya pollen allergy. Apalagi tuh pollen allergy? Jadi, ini semacam alergi yang datangnya dari serbuk sari yang ada baik di pohon maupun tanaman. Biasanya sering timbul dan terbang jatuh dari pohonnya diantara musim dingin dan musim semi. Rasanya super gatel dan timbul bintik-bintik di tangan, muka dan leher. Alergi ini memang terkenal banget di Perancis, aku engga tahu sih ya kalau di negara Eropa lain juga banyak yang mengalami alergi tersebut atau engga, tapi yang aku tahu memang di Perancis itu buanyaak banget yang kena alergi ini. Dan katanya, biasa dialami oleh anak-anak.

Loh, terus lo kok bisa kena juga?

Please, don’t ask me why, sejujurnya aku pun engga tahu kenapa bisa kena juga.

Sebelum pembahasan lebih lanjut terkait dengan manfaat mineral thermal water ini, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai mineral thermal water itu sendiri. Jadi, mineral thermal water ini berasal dari sumber mata air yang berada jauh di dalam tanah yang sudah terpendam sejak lama, oleh karena itu juga, sering disebut geothermal water (air panas bumi). Perbedaannya dengan air biasa pada umumnya adalah karakteristik kandungan fisik dan kimia yang berbeda. Banyak elemen mineral yang terkandung didalamnya yaitu diantaranya chlorides, sodium, potassium, calcium dan magnesium. Mulai dari suhunya, aliran airnya dan unsur lainnya yang terkenal sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit dan dapat menyembuhkan berbagai gangguan penyakit kulit.

Di Perancis sendiri surprisingly ternyata banyak banget titik daerah yang terkenal kaya akan mineral thermal water nya, rata-rata nama produk yang saya sebutkan diatas juga memiliki sumber mineral thermal water tersendiri dengan nama tempat yang sama dengan nama produknya. Seperti misalnya Avène yang memiliki tempat spa khusus bagi yang ingin melakukan perawatan kulit di pusat pemandian air panasnya yang terletak di desa Avène tepatnya di sepanjang sungai Orb. Sama seperti Avène, La Roche-Posay, Vichy, Uriage dan Evian masing-masing nama berasal dari tempat atau daerah dimana mineral thermal water tersebut berada. Semua berada di Perancis, kecuali Evian yang berada di danau Leman, Switzerland.

Khasiatnya memang buanyak banget untuk kulit. Sebenarnya aku sempat meremehkan fungsi dari soothing spray atau mineral thermal water spray dulunya. Abisan aku pikir, cuma air doang kenapa mahal banget sih harganya?!

Sampai akhirnya aku memiliki beberapa pengalaman dalam menggunakan spray ini, contohnya aja pada saat alergi waktu itu. Nah, untuk menghilangkan rasa gatel dan iritasinya aku menggunakan mineral thermal water spray, sambil mengkonsumsi obat dari dokter. No advertising, no paid promote ya, aku saat itu menggunakan Avène mineral thermal water spray. Emang kebantu menyegarkan dan buat kulit yang kena alergi jadi kalem banget sih dan meredakan peradangan saat kulit aku lagi alergi-alerginya. Mungkin juga karena dibantu dari obat yang aku minum, tapi pengobatan jadi terasa cepat karena aku juga memanfaatkan spray yang aku semprot ke beberapa bagian tubuh yang terkena alergi paling banyak.

Engga hanya pas alergi aja sebenernya aku pakai Avène mineral thermal water spray ini, tapi sejak saat itu jadi lebih seriiiiing banget. Sehari bisa nyemprotin 3 – 5 kali, pokoknya setelah bangun tidur, sehabis mandi itu wajib, sehabis maskeran wajib, abis keluar panas-panasan juga wajib. Soalnya, ternyata emang kulit muka aku gampang banget bermasalahnya sejak pakai air keran disini. Setelah cari tahu,

…memang air keran di Perancis yang biasa kita pakai untuk mandi dan minum ini, kandungan mineralnya sangat tinggi dan banyak dari penduduk di Perancis maupun imigran/pendatang merasa langsung engga cocok dengan airnya…

selalu ada aja masalah tiba-tiba beruntusan, jerawat gampang banget datengnya, bintik hitam juga makin banyak dan masalah lainnya. Itu yang setidaknya aku rasain selama 10 bulan tinggal di Perancis, masalah kulit terutama muka, jadi gampang banget bermunculan.

Akhirnya, cara mengatasinya, setiap mandi atau cuci muka dengan air keran, aku langsung semprotin Avène mineral thermal water spray ke seluruh wajah. Supaya menetralisir air keran yang aku pakai untuk cuci muka setelahnya. Setelah aku riset, memang ternyata si Avène inilah yang produknya memiliki kandungan mineral paling rendah kalau kita bandingkan dengan produk lain yang sudah aku sebutkan diatas. Makanya aman-aman aja untuk dipakai dan dimasukan ke dalam salah satu skincare produk wajib!

Selain itu, kalau misalnya kamu punya jerawat yang lagi matang-matangnya nih atau sekiranya besok bakalan membesar, biasanya aku semprot Avène ke kapas terus di tap-tap aja di bagian jerawat tersebut, paling engga bisa meredakan peradangan jerawatnya dan menghilangkan kemerahan. Waktu musim panas kemarin juga aku sering banget semprot ke muka, tangan dan badan yang agak kebakar karena matahari, aku semprot juga ke suami yang kulitnya gampang banget kemerahan karena terbakar, jadi rasanya lebih adem dan menenangkan.

Summer holiday holy grail

Ternyata sebanyak itu manfaat dan khasiatnya, bahkan masih ada khasiat lainnya sekalipun penyakit kulit yang kronis seperti eczema.

Sebenarnya buat yang ada di Indonesia, gak usah jauh-jauh dan mahal-mahal beli mineral thermal water spray, karena sebenarnya di Indonesia juga buanyaak banget yang beberapa diantaranya sangat terkenal seperti di Maribaya dan Ciater, makanya engga heran kalau disana banyak banget orang-orang yang ‘berobat’ atau hanya sekedar merasakan air panas disana. Karena di Jakarta mineral thermal water spray ini masih jadi barang yang agak mewah dikarenakan harganya yang cukup mahal. Sedangkan disini harganya sangat terjangkau, tapi kalau disini mendingan langsung beli botol besarnya aja, soalnya harganya dibanding dengan botol kecil hanya berbeda 40 – 50 cents aja, which is sayang bangetkan?

Kalau kalian ada pengalaman lain gak setelah menggunakan produk mineral thermal water spray? Boleh share di kolom komentar di bawah ini ya!

Perdebatan Seputar Pink Tax: Kenapa Ini Penting?

Beberapa dari kalian mungkin ada yang sudah notice atau paling tidak pernah mendengar istilah pink tax. Sebenarnya apa sih pink tax  itu sendiri? Terus dari mana istilah tersebut berasal? Dan mengapa pembahasan ini menjadi penting untuk diketahui? Perdebatan mengenai pink tax ini memang sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Istilah pink tax (pajak merah jambu) sendiri adalah fenomena perpajakan yang seringkali dikaitkan sebagai bentuk diskriminasi harga berbasis gender dan dikenakan khusus kepada perempuan untuk produk atau layanan tertentu. Menurut pengamatan sejauh ini, yang dimaksud adalah harga produk yang berwarna pink (which is identically dengan produk khusus perempuan dan anak-anak perempuan), harganya bisa 1-2 kali lipat lebih mahal dari harga produk lelaki atau gender netral.

Lalu, produk seperti apa yang dimaksud?

Teman-teman pasti pernah melihat bahkan membeli produk yang berkemasan pink dan diberikan label feminine?

Contoh paling simpel, produk pembalut (tampon pads) yang seringkali kita gunakan setiap bulannya di saat menstruasi, juga dibebankan pajak penjualan karena (entah bagaimana ceritanya) pembalut dianggap sebagai barang mewah (luxury items). Coba bayangkan ya, kita setiap bulan harus merintih kesakitan karena menstruasi, pengeluaran bulanan bertambah lantaran kita harus membeli pembalut atau tampons, dan harganya juga terbilang cukup mahal lagi, belum lagi pay gap gaji bulanan kita sebagai perempuan yang seringkali berbeda dengan kaum laki-laki, padahal jenis pekerjaannya sama.

Contoh lainnya, ketika kita ingin laundry pakaian, seringkali dengan bahan kemeja atau kaos yang sama dengan laki-laki, perempuan harus bayar lebih mahal hanya lantaran mereka membersihkannya dengan cara dry clean dimana kemeja/kaos laki-laki hanya dicuci dengan laundry normal. Padahal keduanya meminta untuk dicuci dengan laundry normal saja. Juga hal lain seperti, baju-baju berukuran besar (plus size), perempuan harus membayar lebih mahal, dibandingkan dengan laki-laki yang juga membeli baju ukuran besar.

pinktax3
Source: Boxed, from Pinterest

Sebagai pencinta warna pink saya pun benar-benar merasa tertampar, seringkali juga berpikir kenapa kemeja perempuan lebih mahal dibanding kemeja laki-laki padahal dari bahan sama, kualitas juga. Belum lagi harga shampoo dan sabun khusus perempuan yang juga cukup mahal jika dibandingkan dengan laki-laki.

Beberapa waktu lalu, The New York City Department of Consumer Affairs (DCA) mengeluarkan hasil studi perbandingan harga lebih dari 800 produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan perbedaan harga pembeli laki-laki dan perempuan ketika mereka membeli jenis barang yang sama. DCA memperoleh harga rata-rata untuk 35 jenis produk yang berbeda berdasarkan analisis 794 produk individual dan kemudian membandingkan harga produk laki-laki dan perempuan.

Hasilnya? Ternyata produk untuk perempuan atau anak-anak perempuan harganya 7% lebih dari produk yang sebanding untuk lelaki dan anak laki-laki dengan presentase berikut:

pinktax4

13% lebih banyak untuk produk perawatan pribadi

8% lebih untuk pakaian dewasa

7% lebih banyak untuk mainan dan aksesori

4% lebih banyak untuk pakaian anak-anak

Perbedaan harga yang diterapkan kepada gender yang berbeda ini, tentunya berdampak pada ketidaksetaraan ekonomi berbasis gender antara laki-laki dan perempuan .

Sederhananya, upah perempuan dibayar lebih sedikit untuk jenis pekerjaan yang sama, membayar lebih untuk produk yang sama dan dikenakan pajak atas produk yang tidak akan pernah dibeli oleh laki-laki.

Di Malaysia, akhirnya pemerintah akan menghapus Pink Tax pada produk menstruasi termasuk diantaranya panty liners dan pembalut wanita. Hal ini tertera di dalam website Departemen Bea Cukai (Customs Department) yang mengungkapkan pembalut dan tampon tidak dikenakan Pajak Penjualan dan Layanan (Sales and Service Tax) yang dahulu ditetapkan sekitar 5 hingga 10%. Bahkan, Wakil Direktur Jenderal Departemen Bea Cukai, Datuk Seri Subromaniam Tholasy telah mengeluarkan pernyataan oleh media pada tanggal 30 Agustus 2018, bahwa produk sanitasi adalah salah satu dari 5.443 barang umum yang bebas pajak.

Jauh sebelum Malaysia, pada tahun 2014 dikenal dengan sebutan Kampanye Georgette Sand, adalah campaign movement yang bergerak sangat cepat hampir di seluruh wilayah di Perancis. Terdapat lebih dari 40.000 orang menandatangani petisi untuk mendorong Kementerian Keuangan Perancis untuk mengadakan penyelidikan terhadap produk-produk kewanitaan.

Bulan Juli 2018 lalu, sekelompok perempuan di Korea Selatan memutuskan untuk berhenti menghabiskan uang setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya, sebagai langkah protes untuk melawan diskriminasi gender. Kampanye yang dimulai oleh group Facebook yang disebut Female Expenditure Strike dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran akan kerusakan yang dilakukan oleh iklan yang meremehkan perempuan, diskriminasi gender dan pink tax yang mengacu pada jumlah ekstra yang sering dibayarkan perempuan untuk membeli barang, dibandingkan dengan laki-laki. Pada tanggal 1 Juli 2018, sekelompok perempuan melakukan boikot untuk semua jenis pengeluaran, termasuk makanan dan transportasi. Kampanye ini bertujuan untuk menununjukan kepada masyarakat bahwa tanpa konsumen perempuan, industri maupun produsen akan mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar.

Beberapa bulan lalu, Burger King di USA juga turut serta menentang ketidaksetaraan gender dalam kampanye baru mereka. Di dalam videonya di bawah ini, mereka menjual Chick Fries dalam kemasan biru dan pink. Kemasan berwarna biru dengan harga $ 1.69 dan kemasan berwarna pink dengan harga $3.09, seluruh pengunjung perempuan sangat marah dan menolak perbedaan harga yang begitu jauh, dan salah satu pelayan mengucapkan “Chick fries ini keduanya produk yang sama, hanya kemasan saja yang berbeda dan untuk kemasan pink harganya jauh lebih mahal.” pembeli perempuan tetap kekeuh tidak mau membayar dan tetap protes karena perbedaan tersebut, lalu si pelayan menambahkan “Ketika kamu masuk ke dalam drugstore atau minimart dan kamu membayar harga $2 lebih untuk sebuah alat cukur, apakah kamu bisa berkata lain?” Disini Burger King berusaha untuk membuka mata para pembelinya akan adanya pink tax yang merugikan perempuan dan mengajak orang-orang untuk lebih pintar dalam memilih produk, juga untuk mendukung pencabutan Pink Tax Act.

Kalau kita tarik lagi dari awal sejarah, sejak dahulu memang sudah ada kritik feminisme lama terkait dengan budaya fashion dan kecantikan sebagai misoginis dan sangat patriarkis. Walaupun penetapan harga berbasis gender mungkin menjadi strategi bisnis bagi si pelaku industri, namun ada konsep diskriminatif yang mendasar yang diterapkan oleh pink tax. Terlepas dari berbagai stereotype umum jenis kelamin, gagasan bahwa wanita lebih konsumtif dan sebagainya, hal ini merupakan pandangan yang sangat berbahaya.

Awalnya memang pasti kita berpikir, “Masa iya sih? Ah, mungkin karena produk perempuan formulanya berbeda, lebih lembut, sensitive de el el…” ya itu juga seringkali dijadikan alasan bagi para produsen untuk membela kualitas dari produknya, tapi ternyata saya salah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir keadaan ini?

Dari hal-hal yang sederhana saja, kita bisa memulai dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyebarkan informasi baik melalui media sosial terkait dengan pink tax ini, jadi pergunakanlah media sosial untuk menyebarkan berita yang baik, bukan yang hoax ataupun sifatnya yang memprovokasi. Dengan cara ini, kita bisa membuka pikiran masyarakat agar lebih ‘melek’ dan bertanggung jawab atas barang-barang yang sedang atau akan dikonsumsi. Penting juga untuk mulai mencoba menghapus adanya stereotip negatif yang seringkali bias gender dimana pun kita berada.

Yuk, kita jadi konsumen yang bijak dalam memilih produk berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya. Mungkin dari sekarang saya juga mencoba untuk mengabaikan pemasaran produk yang cerdik dengan menjual produk dengan warna-warna yang terlihat ‘lucu’ dan mulai membeli produk berdasarkan harga dan kualitas produk. Jika memang produk laki-laki memiliki kualitas yang sama dengan produk perempuan dan memiliki harga yang lebih rendah, why not?

Jadi, selagi kita bisa, yuk hindari dan tolak membayar pink tax dimana pun kita berada.

Untuk melihat video lainnya mengenai pink tax, bisa dilihat di tautan ini.

Sumber:

A Study of Gender Pricing in New York City. From Cradle to Cane: The Cost of Being a Female Consumer, 2015 [Link: https://www1.nyc.gov/assets/dca/downloads/pdf/partners/Study-of-Gender-Pricing-in-NYC.pdf]

Which Retailers Charge the Largest ‘Pink Tax?, 2016 [Link: https://www.forbes.com/sites/whynot/2016/01/07/which-retailers-charge-the-largest-pink-tax/#57b6a9ef381b]

No More Pink Tax for menstrual products, 30 Agustus 2018 [Link: https://www.thestar.com.my/news/nation/2018/08/30/no-more-pink-tax-for-female-menstrual-products/]

Asia One. South Korean Women Boycott Spending First Sunday Every Month Protest against Pink Tax, 3 Juli 2018 [Link: http://www.asiaone.com/asia/south-korean-women-boycott-spending-first-sunday-every-month-protest-against-pink-tax]

[Review] Freeman Beauty Overnight Mask

FREEMAN — pertama mendengar produk ini saya pikir ini produk skincare untuk kaum lelaki di luar sana. Gak tau cuma saya aja atau kalian juga ada yang berpikir kalau Freeman ini brand nya agak maskulin ya? Eh, tapi setelah membaca berbagai review di beauty blogger dan nontonin Youtube channel-nya beberapa beauty vlogger, ternyata eh ternyata produk ini tidak semaskulin namanya. 

Awalnya tahu brand produk ini pas liat beberapa video di Youtube dari mulai video Skincare 101-nya Affi Assegaf di FemaleDaily sampai review-nya Suhay Salim. Bisa dibilang saya juga nekat banget sih nyoba-nyoba skincare, karena dari awal believe it or not, saya itu gak pernah yang namanya pake produk-produk perawatan kulit, kecuali pembersih wajah dan masker. Itu pun juga maskernya masih yang bubuk dan… ah sudahlah, I know you gaes really want to mocking me “Jaduuuul parah”.

But yes, I was that jadul, gaes.

Nah, setelah begitu banyak resources dan kecanggihan informasi jaman now, mata hati dan mata batin saya akhirnya terbuka juga! Hal ini dibuktikan dengan kepedulian saya terhadap perawatan kulit, khususnya kulit wajah saya. Sebenarnya kulit wajah saya terbilang sehat, beberapa masalah penting (at least for me) paling karena T-zone saya yang berminyak dan jerawat seringkali munculnya selalu di bagian-bagian tersebut aja, terus di bagian pipi dalam somehow I’ve seen it has quite large pores, dan kantung mata yang menghitam which is always disturbing!

Oh, sorry the last thing… freckles!

Pas baca-baca, Googling, nontonin YouTube semalam suntuk, ternyata produk per-skincare-an lagi happening banget! Buanyaaaknya produk kecantikan dan perawatan kulit yang membuat perempuan-perempuan Indonesia menjadi semakin konsumtif, yang salah satunya adalah saya sendiri. Tapi konsumtif disini dalam arti yang positif ya, karena menurut saya kita ini sudah mulai pintar memilah-milah produk yang memang sesuai kebutuhan.

Nah, karena udah banyak banget ya yang review soal produk Freeman Charcoal Mud Mask yang katanya ajaib dan bagus banget itu, jadi kali ini saya mau coba review produk lain dan terbaru dari Freeman yaitu, Beauty Infusion Brightening Overnight Mask.

IMG_20180612_203307
Suka banget sih sama packaging dan warnanya

Anyway, this is my first time writing a beauty product review, so please don’t judge me peeps! Karena basically saya mau coba untuk sharing pengalaman saya pakai produk ini dan apa yang saya rasakan dari khasiatnya produk ini.

Kandungan (Ingredients)

Nah, pastinya ini hal terpenting yang pasti akan kita lihat dan baca saat ingin memilih suatu produk kecantikan, apa khasiatnya dan apa efek yang akan ditimbulkan nanti. Pada dasarnya, kandungan utama Freeman Overnight Mask ini adalah Vitamin C yang berasal dari kembang sepatu (hibiscus vitamin c) yang fungsi utamanya; meningkatkan luminositas, memperbaiki warna kulit yang tidak merata dan mencerahkan kulit wajah. Selain itu, ada kandungan lain seperti, air, glycerin (melindungi kulit dari sinar matahari secara langsung, membersihkan kotoran dan sel kulit mati, menghaluskan kulit wajah yang kasar), isopropyl palmitate, camellia sinensis leaf extract white tea, paeonia albiflora root extract peony dan masih banyak lainnya.

Aturan Pemakaian (To Use)

Jujur, ini sih bagian yang paling saya suka ya, produk ini easy to use buat orang yang pernah jadul dan paham betul keribetan penggunaan masker bubuk sejak dulu, overnight mask ini JUARA! Karena tinggal dioleskan sebelum tidur ke seluruh bagian wajah dan leher, terus tinggal dibawa tidur deh! Awalnya kuatir emang akan lengket, ngerembes ke sarung bantal, but na’ah it’s not gonna happen dude. Tapi saran saya sih, sebelum tidur tunggu sampai sebagian wajah agak kering dan lembab aja dulu. Besokan paginya percayalah, kamu akan memuji wajah mu sendiri karena sebegitu khasiatnya, wajah jadi cerah banget dan kenyal pastinya. Penggunaannya itu bisa 2x seminggu atau sesering yang kamu butuhkan, according to their ‘how to use’ rules. Biasanya saya pakai 4-5 hari dalam seminggu dan it was fine! Gak ada efek samping yang gimanaa banget sih.

IMG_20180612_203359
Handy banget untuk dibawa kemana-mana

Saya gak tau apakah produk ini akan cocok dipakai untuk semua jenis skin types atau engga, but for me who has combination skin types and texture, this product always working well with me. Paling penting sih, masker ini juga hydrating banget, bikin kulit wajah super kenyal. Pas awal banget pakai ini, semacam ada feel perih-perih sedikit gitu di beberapa bagian wajah, tapi setelah beberapa kali pemakaian sih udah oke ya.

Banyak yang bilang produk Laneige yang overnight mask is still the best of all! Saya sih belum pernah coba ya karena harganya juga lumayan pricey, beda sama produk Freeman ini yang masih affordable. Dengan ukuran jar yang menurut ku gak kecil dan gak gede banget ini, masih oke banget kok untuk dibawa kemana-mana.

***

Price: Rp 160.000,- | Size: 4 oz/114 mL | Bought in: BeautyHaul Indo