#TGIFshared: Apa itu “Penyakit” Seksis? Dapatkah Kita Mencegahnya?

Sejak dahulu, ketika kita masih kecil, pasti di lingkungan keluarga dan pertemanan sering sekali diajarkan atau ditekankan bahwasanya perempuan itu harus rapih, bersih, cantik pakai pita warna-warni, pinter dandan, jago masak, dan sebagainya. Sedangkan laki-laki harus berani, tidak boleh cengeng, haram hukumnya pakai rok, harus kuat, harus bisa jadi pemimpin dan juga sebagainya. Sehingga stereotip seperti itu, semakin tertanam di benak kita dan sengaja tidak sengaja kita sendiri yang menyebarluaskan anggapan-anggapan tersebut dan semakin melanggengkan ‘penyakit’ seksis itu sendiri. Hal ini yang menjadi akar dari seksisme itu sendiri, dimana adanya stereotip gender di dalam masyarakat.

Tapi sebenarnya apakah itu seksis dan seksisme?

Seksisme merupakan salah satu bentuk diskriminasi, prasangka, penindasan, stereotip berdasarkan jenis kelamin atau gender atau keyakinan, yang beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi (superior) dari perempuan (inferior), sehingga dengan demikian bentuk diskriminasi ini dibenarkan. Keyakinan seperti itu dapat kita sadari atau tidak disadari, seperti contoh yang telah saya sebutkan diatas.

Bentuk diskriminasi seksis yang lebih sering dialami oleh kelompok perempuan dan anak perempuan ini merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaan laki-laki, yang sejak dahulu hingga kini dapat kita lihat dengan mudahnya hampir di setiap lini sektor diantaranya sektor ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

“Simple peck-order bullying is only the beginning of the kind of hierarchical behavior that can lead to racism, sexism, ethnocentrism, classism, and all the other ‘isms’ that cause so much suffering in the world.”

Octavia Butler

Apa saja yang termasuk kategori seksisme?

  1. Sikap, situasi atau ideologi seksis, termasuk diantaranya keyakinan, teori dan gagasan yang memegang satu kelompok (biasanya laki-laki) sebagai hal yang dilihat pantas menjadi lebih unggul dari kelompok lainnya (biasanya perempuan). Disamping itu, mereka juga membenarkan adanya penindasan kelompok lain atas dasar jenis kelamin atau gender.
  2. Adanya praktik-praktik dan institusi seksis, salah satu cara dimana biasanya penindasan terjadi. Biasanya hal ini terjadi tanpa disadari karena sudah terbiasa dan didukung oleh suatu sistem yang sudah ada sejak dahulu.

Apa hubungannya dengan feminisme?

Kata seksisme dikenal secara luas sejak Gerakan Pembebasan Perempuan (Women’s Liberation Movement) pada tahun 1960an. Saat itu, teoritisi feminis menjelaskan bahwa penindasan terhadap wanita tersebar luas hampir di seluruh lini masyarakat. Sejak saat itu mereka mulai berbicara mengenai seksisme yang mengacu pada perilaku kolektif yang mencerminkan masyarakat secara keseluruhan. Seksisme jugalah yang menjadi bentuk pertama penindasan dan diskriminasi yang saat itu selalu mengarah pada kelompok perempuan.

Pada gerakan feminis tahun 1960 – 1970an (Gelombang Kedua Feminisme), banyak perempuan yang kemudian menyadari bahwa seksisme juga hadir dan sering terjadi di ranah pekerjaan mereka yang menyoal tidak adanya keadilan sosial bagi perempuan. Dari situlah, banyak dari mereka yang saat itu berbicara atas nama para pekerja, orang miskin dan kelompok berdasarkan rasial.

Sama seperti rasisme, seksisme juga terjadi secara sistemik. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai kodrat yang diperkuat oleh praktik, aturan, kebijakan dan Undang-undang di suatu Negara yang seringkali terlihat seakan biasa saja, tetapi pada kenyataannya banyak merugikan dan tidak berpihak kepada perempuan.

Seksisme juga erat hubungannya dengan rasisme, classism, heteroseksisme dan penindasan lainnya terhadap individu, ini yang dikenal dengan intersectionality.

Lalu, apakah perempuan juga bisa menjadi seksis?

Perempuan dapat menjadi kolaborator baik secara sadar maupun tidak sadar dalam melakukan tindakan tersebut, jika mereka diam, menerima dan menganggap perilaku seksisme ini adalah hal yang biasa dan normal terjadi. Terlebih ketika perempuan, menerima bahwa laki-laki memang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih daripada perempuan.

Seksisme oleh perempuan terhadap laki-laki hanya akan mungkin terjadi dalam suatu sistem, dimana keseimbangan kekuatan atau kekuasaan sosial, politik, budaya dan ekonomi berada di tangan perempuan, which is a situation that does not exist today.

Apa yang bisa perempuan lakukan untuk mencegah seksisme?

Kalau menurut saya pribadi, penting bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Namun, juga tidak merasa dirinya lebih unggul dari perempuan lain atau kategori gender lainnya, sehingga saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lainnya.

Selain itu, memilih penggunaan bahasa yang baik yang tidak mengandung unsur-unsur kekerasan, mendiskriminasi, menyinggung, merendahkan sehingga menimbulkan sikap seksisme juga tak kalah penting.

Tidak sungkan dan berani untuk berbicara dan membela dirinya sendiri maupun membela perempuan lainnya, jika mengetahui adanya perlakuan seksisme di sekeliling kita.

But first thing first, mungkin kita harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, bahwa kita berharga dan memiliki kemampuan, memiliki hak dalam berpendapat dimana pun dan kapan pun yang setara dengan lainnya, tidak peduli apa pun gender kita.

Diolah berdasarkan sumber: ThoughtCo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.