Susah gak sih menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia? (Part 2)

Nah, melanjutkan artikel sebelumnya, setelah memberikan semua dokumen ke Madame Cempaka, yang diantaranya:

Calon Pengantin Wanita:

  • Formulir CPW dan CPP (Renseignements Relatifs A Chacun des Futurs Epoux, Demande de Certificate de capacite a mariage);
  • Akte Kelahiran asli yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (untuk di fotokopi/di scan oleh Kedubes);
  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi N1, N2, N4

 Calon Pengantin Pria:

  • Akte Kelahiran terbaru (<3 bulan)
  • Fotokopi KTP Perancis
  • Fotokopi passport
  • Bukti tempat tinggal (fotokopi tagihan listrik)

Karena waktu itu, waktu sudah agak mepet dari deadline yang sudah kami buat, jadi, saya mengirimkan scanned copy Akte Kelahiran suami saya terlebih dahulu kepada pihak Kedubes. Namun, karena sudah prosedur baku dan wajib, pihak Kedubes baru akan memproses permintaan Surat Izin Menikah (certificat de capacité à mariage) dari Pemerintah Perancis. Pihak Kedubes mengirimkan surat notifikasi terkait dengan proses pernikahan yang akan dilaksanakan di Jakarta, Indonesia dengan didukung oleh seluruh dokumen lainnya. Waktu itu pihak Kedubes Perancis meminta saya untuk membawa Akte Kelahiran asli untuk ditunjukan sesaat proses verifikasi semua data. Setelah semua dokumen dikirimkan ke pihak Kedubes dan sudah terverifikasi, Madame Cempaka yang akan mengirimkan surat diplomatik kepada pemerintah setempat/balai kota dimana suami saya tinggal dan menetap saat ini. Setelah menerima notifikasi dari Kedubes, Balai Kota (La Mairie) akan menerbitkan atau mempublikasikan wedding ban kurang lebih selama 10-14 hari, hal ini untuk mengumumkan bahwa tidak ada pihak-pihak lain yang berkeberatan terhadap penyelenggaraan pernikahan kami yang akan diselenggarakan di Jakarta, Indonesia.

Sejujurnya sedikit tegang, karena Surat Izin Menikah ini yang menjadi penting ke depannya untuk kami mendaftarkan pernikahan secara legal di Indonesia melalui Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Catatan Sipil untuk Non-Muslim. Bersyukur sekali karena setelah menunggu hampir 1,5 bulan lebih lamanya, Surat Izin Menikah pun dikeluarkan oleh otoritas setempat Perancis dan Kedubes Perancis membuat versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia yang lalu di-stempel cap asli dari pihak Kedubes Perancis. Dokumen asli ini harus diberikan kepada pihak KUA sebagai berkas utama mereka nantinya saat pendaftaran pernikahan.

Keenam, untuk beberapa pasangan WNI dan WNA (pernikahan campuran) pasti tahu betul betapa pentingnya Perjanjian Pranikah (prenuptial agreement), khususnya bagi pihak WNI. Saya bersikeras untuk meyakinkan pasangan betapa pentingnya dokumen ini untuk kami buat, bukan lantaran kami bersiap akan resiko terburuk dalam suatu hubungan, namun ada yang jauh lebih penting dari itu, menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dan setelah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 yang mempertegas terkait hak milik properti ketika melakukan perkawinan campuran.

Selain itu, terkait hal ini juga diatur di dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (UU Perkawinan) yang menjelaskan secara gamblang apakah yang dimaksud dengan perkawinan campuran. Menurut pasal tersebut, dalam perkawinan campuran seorang WNI menikah dengan seorang WNA, baik perkawinan itu dilakukan di Indonesia muapun di luar Indonesia. Dari segi kepemilikan tanah, khususnya bagi WNI, perkawinan campuran dapat mengakibatkan tanah milik WNI bercampur dalam harta bersama dengan WNA. Sebab itu, seorang WNI tidak dapat memiliki tanah dengan hak milik setelah menikah dengan WNA. Oleh karena itulah, pentingnya hal seperti ini diatur di dalam Perjanjian Pranikah sebelum kita sebagai WNI kehilangan hak atas properti kita di Indonesia. Prosesnya mudah namun terkadang bervariatif, begitu pula harganya, kamu bisa urus di kantor notaris yang memang biasa mengurus hal seperti itu. Walaupun beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia memperbolehkan untuk membuat postnuptial, tetapi ada baiknya kita persiapkan sebelum menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

Mungkin di blog post selanjutnya ada yang berminat supaya saya bisa berbagi bagaimana mekanisme pembuatan Perjanjian Pranikah? Komen di bawah artikel ini ya!

Lalu lanjut lagi, setelah Perjanjian Pernikahan selesai, dan kamu sudah menerima semua dokumen, termasuk sudah mengantongi Surat Izin Menikah dari pihak Kedubes Perancis selanjutnya langkah ketujuh adalah membawa semua kelengkapan dokumen yang dimiliki ke KUA, karena lokasi pernikahan saya berbeda dengan wilayah tempat saya tinggal, mau gak mau saya harus meminta Surat Rekomendasi Nikah. Syarat-syarat untuk meminta surat ini juga mudah dan langsung jadi, waktu itu saya cuma memakan waktu kurang dari 10 menit saja. Biaya? Awalnya sih bagian informasi bilang kalau tidak dipungut biaya apa pun, tapi entah begitu tau calon saya adalah WN Asing atau memang mereka suka meminta ‘pungli’, tetiba saya ‘ditodong’ untuk memberikan Infaq seikhlasnya. Karena memang tujuannya infaq yasudah saya kasih seadanya di dompet saya, yaitu 10 ribu rupiah. Harusnya mereka menyediakan kotak infaq eh gak taunya saya lihat sendiri uang itu diberikan ke bapak separuh baya yang semula mengetikan dan memberikan surat rekomendasi nikah saya, bahkan si bagian informasi agak manyun ketika saya hanya memberikan uang sebesar itu. Hmmm… agak mengecewakan sebenarnya ketika melihat praktik-praktik seperti ini masih berulang.

Well anyway… setelah surat rekomendasi nikah jadi, tetiba aja saya mendapat berita kalau sekarang untuk mendaftar nikah di KUA, dibutuhkan Sertifikat Layak Kawin yang dikeluarkan oleh Puskesmas setempat terkait dengan pemeriksaan cek kesehatan pranikah dan suntik tokso. Akhirnya saya segera meluncur ke Puskesmas domisili saya tinggal, ternyata bagi pemegang KTP Jakarta asli pendaftaran diberikan secara cuma-cuma atau GRATIS! Namun, tes kesehatan pranikah tersebut hanya diadakan setiap hari Selasa dan Kamis saja, saya kurang tahu apakah di Puskesmas lain juga memiliki kebijakan yang sama, oleh karena itu, banyak-banyaklah mencari informasi ya!

Jadilah, langkah ke delapan ini saya melakukan tes kesehatan pranikah, diambil darah untuk mengetahui rhesus golongan darah, suntik tokso (wajib untuk perempuan) dan tes HIV. Syukurlah, hasilnya memuaskan, selain hasil laboratorium yang lebih detil, kalian akan dibuatkan Sertifikat Layak Kawin seperti yang ada di bawah ini.

Dua minggu sebelum menikah, akhirnya suami saya datang! Karena saat itu ia masih berstatuskan non muslim, akhirnya begitu sampai di Jakarta, kami sekeluarga mendampingi suami saya ke Masjid Istiqlal untuk proses Pengislaman. Alhamdulillah, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, suami saya bersedia untuk melakukan itu. Proses terkait Pengislaman juga agak panjang, kalian bisa komen di bawah kalau memang mau tahu prosedur dan syaratnya seperti apa ya..

Selain itu. untuk mengurus ke KUA di lokasi tempat pernikahan saya berada, membutuhkan tanda tangan, data pribadi dan wawancara sedikit untuk calon pengantin pria saat itu. Jadilah, di langkah ke sembilan ini kami ke KUA lokasi pernikahan untuk mendaftarkan pernikahan kami. Apa syarat-syaratnya?

  1. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui 2 orang saksi. Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Akta Cerai/surat keterangan cerai yang asli;
  2. Foto copy piagam masuk Islam (khusus untuk yang mualaf);
  3. Foto copy Akte Kelahiran/Kenal Lahir/ID Card;
  4. Surat tanda melapor diri (STMD) dari kepolisian(ini hanya untuk WNA yang sudah menetap di Indonesia);
  5. Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil apabila yang bersangkutan menetap di Indonesia.
  6. Tanda lunas pajak bangsa asing (bagi yang bekerja di Indonesia).
  7. Keterangan izin masuk sementara (KIMS) dari Kantor Imigrasi atau foto copy visa(waktu itu karena suami saya masuk dengan Free Visa 30 hari, jadi saya hanya fotokopi cap/stempel yang diberikan petugas Imigrasi saat di bandara).
  8. Fotokopi passport;
  9. Surat Keterangan atau izin menikah dari Kedutaan/perwakilan Diplomatik yang bersangkutan;
  10. Semua surat-surat yang berbahasa asing harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah resmi dan tersumpah.

Nah, untuk poin ke-10 diatas, lumayan merogoh kocek lagi, jadi sebegitu saya dapat Akte Kelahiran aslinya, saya langsung kirimkan ke Penerjemah Tersumpah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri langsung menghubungi Mas Subandi, proses penerjemahan 2-3 hari kerja. Setelah mengirimkan scanned copy melalui email, melakukan transfer pembayaran, setelah selesai dokumen langsung dikirimkan ke alamat rumah. Untuk kontaknya, sila dihubungi melalui email ini: subanditrans@yahoo.com. Setelah survey ke beberapa penerjemah tersumpah lainnya, menurut saya Pak Subandi yang memang lumayan terjangkau harganya. Per lembar sekitar Rp 170.000, jika butuh dokumen asli untuk dikirimkan tinggal tambah untuk ongkos kirimnya saja (harga per bulan Juli 2018).

Langkah ke-sembilan ini juga tidak rumit, kalau semua dokumen sudah tersusun dan terjaga dengan baik. Jadi tinggal di-submit saja, waktu proses submit, kebetulan kami bertemu dengan Pak Penghulu nya, jadi deh kita dikasih wejangan atau nasihat pernikahan sebentar. Lalu ada beberapa dokumen yang harus di isi juga. Setelah itu, selesai dan tinggal atur jadwal aja sama Pak Penghulu nya. Setelah itu saya diantarkan ke bagian Tata Usaha di KUA tersebut untuk membayar beberapa biaya yang wajib dibayarkan.

Sebenarnya Pemerintah Indonesia telah menetapkan biaya sebesar Rp 600.000,- saat pendaftaran pernikahan, biaya ini sebenarnya sudah termasuk biaya transportasi penghulu, tetapi anehnya saat itu penghulu bilang biaya ini hanya untuk pendaftaran KUA saja, belum penghulu. Malahan saya diminta untuk membayar ‘denda/dispens’ karena pendaftaran nikah kurang dari 10 hari dari waktu pernikahan, biaya yang dikenakan Rp 50.000 dan langsung saya bayarkan di ruang Tata Usaha. Saat itu, karena tidak mau terlalu rumit untuk bolak-balik ke Bank untuk membayarkan biaya pendaftaran pernikahan, akhirnya saya memilih untuk membayar juga di bagian Tata Usaha. Eh, gak taunya saya lagi-lagi dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 20.000 oleh petugas. Sehari kemudian, petugas KUA menginformasikan by Whatsapp perihal biaya yang sudah dibayarkan untuk pendaftaran menikah, anehnya disitu hanya tertera Rp 600.000 saja, tidak ada jumlah Rp 50.000 dan Rp 20.000.

Aneh memang, tapi ya begitulah Indonesia, rumitnya birokrasi dan apa-apa ada tarifnya hehe.

Nah, kurang lebih seperti itu syarat-syarat dan langkah-langkahnya, kalau dibaca memang rumit tapi setelah dijalankan, ternyata gak sesulit yang orang-orang bicarakan dan bayangkan. Mungkin terasa lebih mudah juga buat saya, karena saya berdomisili di Jakarta, jadi memang kemana-mana aksesibelnya mudah, kantor saya kebetulan dekat sekali dengan Kedubes Perancis, jadi izin sesekali tidak menjadi masalah.

Bagi pembaca yang masih bingung dan mau tanya lebih lanjut, sila tinggalkan pertanyaan atau komentarnya di kolom bawah ini ya!

Best,

Astrid

11 thoughts on “Susah gak sih menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia? (Part 2)

  1. Hello Astrid,
    Makasih udh share pengalaman kamu dan info2 penting disini, krn saya tertolong sekali nih 🙂
    By the way, saya mau nanya, untuk syarat WNI ke kedutaan itu apakah Akta Kelahiran Asli terbitan terbaru atau Akta Kelahiran asli yg sdh kita punya (dgn bhs inggris) ?
    Krn sya baca artikel tetangga sebelah, dia menikah di Perancis bukan di Indonesia maka harus buat terbitan akta lahir terbaru. Saya dan calon suami sih akan melangsungkan pernikahan di Indonesia.
    Lalu, untuk proses mualaf di mesjid istiqlal apakah nanti harus ada proses Sunat terlebih dahulu?
    Mohon petunjuknya Astrid, thank you 🙂

    Like

    1. Hello De..
      Senang bisa membantu yang lg proses mau menikah dengan WN Perancis! 🙂
      Kalau mau nikah di Indonesia, cukup dengan akte kelahiran yang sudah disahkan oleh Disdukcapil. Kalo kamu berdomisili di Jakarta dan langsung ke Kedubes saat penyerahan semua dokumen pernikahan, jangan lupa dibawa akte kelahiran aslinya ya, karena akan dicek langsung sama Bu Cempaka nanti.
      Untuk proses mualaf di Istiqlal, pasti akan ditanya apakah sudah disunat atau belum (tapi gak sampai di cek), alhamdulillah pasangan saya sudah disunat sejak kecil.
      Jadi, tidak ada hambatan saat proses tsb. Mungkin, kalau belum, setelah mualaf akan disarankan oleh pihak Istiqlal utk baiknya disunat terlebih dahulu. Atau, kamu bisa telefon dulu aja ke Istiqlal yaa..

      Semangat untuk urus pernikahannya! Semoga lancar yaa..

      Like

      1. Makasih Astrid infonya 🙂 noted buat akta dan info mualafnya. Lalu stlh nikah nanti, untuk urus livret de famille apakah hrs ada suami mendampingi sampe kita urus visa? Atau bisa sendiri (saya) ? Thanks again loh 😁seneng bgt bisa nemuin artikelnya Astrid

        Like

      2. Iya sama2. Aku waktu itu juga sempet kebingungan karena bbrp artikel gak terlalu lengkap. Jadi, aku berniar utk share setelah semua proses pendaftaran nikah sudah aku jalanin. Untuk proses setelah menikah, aku juga sudah tulis di artikel ini: https://herloveabout.wordpress.com/2018/11/19/5-langkah-yang-harus-dilakukan-setelah-menikah-dengan-wn-perancis/
        Intinya, kita bisa urus sendiri utk livret de famille dan visa.

        Semoga membantu lagi ya..

        Like

  2. Hi, Astrid, saya mau tanya. Untuk mengurus N1, N2 DAN N4, dokumen pendukungnya hanya dokumen dari kita (WNI) atau harus melampirkan dokumen dari Calon (WNA) juga? Karena saya akan menikah di Balikpapan, dan dokumen pendukung harus melampirkan fotocopy KK yang bersangkutan, fotocopy KTP yang bersangkutan, fotocopy akta kelahiran & ijazah yang bersangkutan. Merci 😊

    Like

  3. Hallo kak, sharing yang sangat bermanfaat sekali terimakasih 😊 Saya ingin tanya mengenai prenuptial agreement yang kakak share di atas, kira-kira berapa hari proses pengajuannya dan apa calon yg WNA harus juga hadir secara fisik pada saat tandatangan? Juga mengenai prenup tsb yg nantinya bahasa Indonesia, apakah perlu diterjemahkan ke bahasa Perancis atau harus minta ke notarisnya? Merci beaucoup

    Like

    1. Hallo Endah, terima kasih juga sudah membaca artikelnya.
      Kalau untuk prenuptial agreement, kamu baiknya menghubungi dan bertemu langsung dulu dengan notarisnya, karena disitu kamu akan ditanya hal-hal seperti apa yang kamu mau tuliskan di dalam perjanjian (hal ini juga harus didiskusikan dengan pasangan ya). Lalu, nanti notaris akan membuat draft (walaupun sebenarnya, kalau yang sudah biasa membuat prenup, mereka pasti sudah punya draft umum) tapi kan kembali lagi mereka harus tau tujuan untuk membuat prenupnya itu apa basisnya.

      Untuk penandatanganan, kalau pasangan tidak bisa hadir, paling tidak ada foto sebagai pendukung kalau memang benar ia yang menandatangani dokumen prenup. Waktu itu aku tunggu suami ku datang ke Jakarta dan dia baru ttd 2 minggu sebelum pernikahan kami. Prenup akan berbahasa Indonesia dan nanti HARUS tercatat baik di KUA maupun di dalam livret de famille yang akan kamu buat setelah menikah. Karena aku gak mau repot, waktu itu yang melegalisir buku nikah ke 3 Kementerian, memberikan semua dokumen pernikahan dan buku nikah (yang juga buku nikah harus di terjemahkan) aku kirim langsung ke Penerjemah Tersumpah. Setelah semua selesai diterjemah, mereka akan mengirimkan langsung ke Ibu Cempaka.

      Semoga membantu ya!

      Liked by 1 person

  4. Halo Astrid.
    Gak sengaja nemu artikel ini.
    Banyak memberi informasi buat saya.
    Kebetulan Oktober 2019 mendatang saya melangsungkan pernikahan dg WN Perancis di daerah saya, Kupang NTT.
    Dan rencana lgsg ke Jakarta utk mengurus Akta Perkawinan + Livret de famille. Karna keterbatasan informasi, awalnya rencana saya langsung mw bikin visa dan lgsg ikut suami ke FR. Tp ternyata tdk bs tanpa 2 dokumen tsb. Jd sesuai informasi dr Ibu Cempaka saya berencana akan kembali lagi ke Jakarta pertengahan Desember 2019 utk mengambil lgsg 2 dokumen tsb di Dubes dan lgsg membuat long visa.
    Yg menjadi pertanyaan saya apa perlu membuat janji temu jauh2 hr dg pihak TLS utk membuat long visa?? Saya kawatir sudah jauh2 ke Jakarta dan ditolak pihak TLS krn tdk membuat janji temu secara online di website TLS.
    Mohon info dan terima kasih ya artikelnya benar2 membantu!!!

    Chindy, Kupang NTT

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.