Featured

#TGIFshared: Apa itu “Penyakit” Seksis? Dapatkah Kita Mencegahnya?

Sejak dahulu, ketika kita masih kecil, pasti di lingkungan keluarga dan pertemanan sering sekali diajarkan atau ditekankan bahwasanya perempuan itu harus rapih, bersih, cantik pakai pita warna-warni, pinter dandan, jago masak, dan sebagainya. Sedangkan laki-laki harus berani, tidak boleh cengeng, haram hukumnya pakai rok, harus kuat, harus bisa jadi pemimpin dan juga sebagainya. Sehingga stereotip seperti itu, semakin tertanam di benak kita dan sengaja tidak sengaja kita sendiri yang menyebarluaskan anggapan-anggapan tersebut dan semakin melanggengkan ‘penyakit’ seksis itu sendiri. Hal ini yang menjadi akar dari seksisme itu sendiri, dimana adanya stereotip gender di dalam masyarakat.

Tapi sebenarnya apakah itu seksis dan seksisme?

Seksisme merupakan salah satu bentuk diskriminasi, prasangka, penindasan, stereotip berdasarkan jenis kelamin atau gender atau keyakinan, yang beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi (superior) dari perempuan (inferior), sehingga dengan demikian bentuk diskriminasi ini dibenarkan. Keyakinan seperti itu dapat kita sadari atau tidak disadari, seperti contoh yang telah saya sebutkan diatas.

Bentuk diskriminasi seksis yang lebih sering dialami oleh kelompok perempuan dan anak perempuan ini merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaan laki-laki, yang sejak dahulu hingga kini dapat kita lihat dengan mudahnya hampir di setiap lini sektor diantaranya sektor ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

“Simple peck-order bullying is only the beginning of the kind of hierarchical behavior that can lead to racism, sexism, ethnocentrism, classism, and all the other ‘isms’ that cause so much suffering in the world.”

Octavia Butler

Apa saja yang termasuk kategori seksisme?

  1. Sikap, situasi atau ideologi seksis, termasuk diantaranya keyakinan, teori dan gagasan yang memegang satu kelompok (biasanya laki-laki) sebagai hal yang dilihat pantas menjadi lebih unggul dari kelompok lainnya (biasanya perempuan). Disamping itu, mereka juga membenarkan adanya penindasan kelompok lain atas dasar jenis kelamin atau gender.
  2. Adanya praktik-praktik dan institusi seksis, salah satu cara dimana biasanya penindasan terjadi. Biasanya hal ini terjadi tanpa disadari karena sudah terbiasa dan didukung oleh suatu sistem yang sudah ada sejak dahulu.

Apa hubungannya dengan feminisme?

Kata seksisme dikenal secara luas sejak Gerakan Pembebasan Perempuan (Women’s Liberation Movement) pada tahun 1960an. Saat itu, teoritisi feminis menjelaskan bahwa penindasan terhadap wanita tersebar luas hampir di seluruh lini masyarakat. Sejak saat itu mereka mulai berbicara mengenai seksisme yang mengacu pada perilaku kolektif yang mencerminkan masyarakat secara keseluruhan. Seksisme jugalah yang menjadi bentuk pertama penindasan dan diskriminasi yang saat itu selalu mengarah pada kelompok perempuan.

Pada gerakan feminis tahun 1960 – 1970an (Gelombang Kedua Feminisme), banyak perempuan yang kemudian menyadari bahwa seksisme juga hadir dan sering terjadi di ranah pekerjaan mereka yang menyoal tidak adanya keadilan sosial bagi perempuan. Dari situlah, banyak dari mereka yang saat itu berbicara atas nama para pekerja, orang miskin dan kelompok berdasarkan rasial.

Sama seperti rasisme, seksisme juga terjadi secara sistemik. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai kodrat yang diperkuat oleh praktik, aturan, kebijakan dan Undang-undang di suatu Negara yang seringkali terlihat seakan biasa saja, tetapi pada kenyataannya banyak merugikan dan tidak berpihak kepada perempuan.

Seksisme juga erat hubungannya dengan rasisme, classism, heteroseksisme dan penindasan lainnya terhadap individu, ini yang dikenal dengan intersectionality.

Lalu, apakah perempuan juga bisa menjadi seksis?

Perempuan dapat menjadi kolaborator baik secara sadar maupun tidak sadar dalam melakukan tindakan tersebut, jika mereka diam, menerima dan menganggap perilaku seksisme ini adalah hal yang biasa dan normal terjadi. Terlebih ketika perempuan, menerima bahwa laki-laki memang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih daripada perempuan.

Seksisme oleh perempuan terhadap laki-laki hanya akan mungkin terjadi dalam suatu sistem, dimana keseimbangan kekuatan atau kekuasaan sosial, politik, budaya dan ekonomi berada di tangan perempuan, which is a situation that does not exist today.

Apa yang bisa perempuan lakukan untuk mencegah seksisme?

Kalau menurut saya pribadi, penting bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Namun, juga tidak merasa dirinya lebih unggul dari perempuan lain atau kategori gender lainnya, sehingga saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lainnya.

Selain itu, memilih penggunaan bahasa yang baik yang tidak mengandung unsur-unsur kekerasan, mendiskriminasi, menyinggung, merendahkan sehingga menimbulkan sikap seksisme juga tak kalah penting.

Tidak sungkan dan berani untuk berbicara dan membela dirinya sendiri maupun membela perempuan lainnya, jika mengetahui adanya perlakuan seksisme di sekeliling kita.

But first thing first, mungkin kita harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, bahwa kita berharga dan memiliki kemampuan, memiliki hak dalam berpendapat dimana pun dan kapan pun yang setara dengan lainnya, tidak peduli apa pun gender kita.

Diolah berdasarkan sumber: ThoughtCo

Featured

5 Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Menikah dengan WN Perancis

Nah, akhirnya saya baru bisa nih berbagi pengalaman lagi mengenai apa yang harus dilakukan oleh saya (atau kalian) sebagai warga negara Indonesia setelah menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia.

Bagi teman-teman yang terlewat informasi bagaimana syarat-syarat menikah antara WNI dan WN Perancis di Indonesia, sila cek di kedua post saya yang ini ya: Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 1)  dan Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 2)

Bagi yang masih kurang jelas bisa tanya di kolom komentar dua post diatas atau komen di bawah ini ya!

Nah, sekarang saya mau share langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menikah dengan WN Perancis, selain honeymoon tentunya ya! Hehe. Khususnya bagi kamu yang akan diboyong suami ikut ke Perancis, yaitu untuk membuat buku keluarga atau livret de famille.

Jadi, seminggu setelah menikah setidaknya terdapat 5 langkah yang harus kamu lakukan:

Pertama, bawa kedua buku nikah kamu ke KUA tempat dimana kamu menikah untuk dilegalisir oleh KUA. Sebelumnya cek seluruh data-data yang ada di buku nikah apakah sudah benar atau tidak, karena buku nikah ini nanti akan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis juga oleh penerjemah tersumpah. Untung saya beberapa kali berkomunikasi dengan Mas Subandi, penerjemah tersumpah, jadi beliau mengingatkan saya untuk memeriksa keseluruhan data yang tertulis di buku nikah, bahkan ia sempat bilang kalau seringkali ada kesalahan penulisan terkait kewarganegaraan suami. Dan benar aja loh gengs, di buku nikah saya tertulis kalau suami saya WN Indonesia. Padahal saat di KUA seluruh dokumen sudah diberikan bahkan ada data yang harus saya isi terkait dengan informasi saya pribadi dan suami beserta kedua orang tua kami, which is ada tulisan kalau suami saya WN Perancis, tapi tetap aja salah… DOH! Emang paling gak ngerti ya kenapa hal-hal begitu bisa salah, kalau minta duit aja cepet, pikir saya waktu itu.

Anyway, bagi kamu yang memiliki prenup, juga jangan lupa memberikan kopian dokumen asli prenup ke KUA untuk dilegalisir dan didaftarkan, prenup ini tidak perlu dibawa ke Pengadilan Negeri lagi, kalau sudah didaftarkan di KUA. KUA juga akan memberikan fotocopy buku nikah yang sudah dilegalisir. Waktu itu, karena mengurusnya ketika saya sedang berada di Yogyakarta, jadi Ibu dan kakak saya membantu proses ke KUA, tidak perlu surat kuasa untuk mengurus ini, tinggal bawa saja buku nikah yang aslinya.

Kedua, setelah proses dari KUA, kalian harus mengurus pengiriman beberapa dokumen kepada penerjemah tersumpah (sworn translator). Ada beberapa penerjemah tersumpah yang sudah terdaftar di Kedubes Perancis, tetapi saya masih menggunakan jasa Mas Subandi, karena lagi-lagi harganya yang masih terjangkau, kerjanya cepat dan terpercaya. Sila melihat kontak Mas Subandi di artikel ini.

Beberapa dokumen yang harus dikirim ke Mas Subandi sbb:

  1. 2 (dua) buku nikah asli
  2. Fc buku nikah yang dilegalisir oleh kepala KUA
  3. Fc KTP istri (untuk WNI)
  4. Fc pasport suami (untuk WNA)
  5. Fc surat izin menikah dari Kedutaan Besar (2 bahasa: Perancis dan Bahasa Indonesia)
  6. Surat mualaf, kecuali kalau muslim sejak lahir
  7. Akta cerai, jika status telah bercerai
  8. Fc prenuptial agreement (perjanjian pernikahan), jika ada

Seluruh dokumen diatas dapat dikirimkan by post atau by ojek online. Pastikan alamat yang penerima tidak salah ya! Nanti minta si penerjemah untuk menginformasikan ke kita, jika dokumen sudah diterima.

Ketiga, meminta legalisir buku nikah ke-3 Kementerian terkait, yaitu; Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Luar Negeri. Langkah ini tergantung apakah kamu mau mengurusnya sendiri atau meminta jasa penerjemah tersumpah juga untuk melakukannya. Biasanya mereka menawarkan jasa ini sudah paket dengan terjemahan buku nikah hingga memberikan dokumen-dokumen tersebut ke pihak Kedutaan Besar Perancis. Karena saya tidak mau repot, jadi saya meminta untuk sekalian saja diurus oleh Mas Subandi. Makanya untuk tarif, terbilang cukup pricey ya, waktu itu saya bayar sekitar 3 juta Rupiah all in! Sebenarnya untuk legalisir buku nikah di 3 Kementerian, terjemahan dan penyerahan ke Kedutaan Besar tarifnya 2 juta Rupiah, tapi karena saya memiliki prenuptial yang juga harus didaftarkan di dalam livret de famille untuk diketahui oleh otoritas Perancis, jadi tetap harus diterjemahkan. Jumlah halaman prenup sekitar 6 halaman, jadi untuk prenup saja sudah sekitar 1 juta Rupiah. Mahal yah nikah sama WNA, gengs, huhuhu..

Nah, setelah semua proses diatas selesai, Mas Subandi akan mengirimkan seluruh dokumen secara langsung ke Kedubes Perancis. Waktu itu cukup cepat, proses dari terima dokumen dari saya ke penerjemah tersumpah, lalu diterjemahkan dan dikirimkan ke pihak Kedubes ada sekitar 9-11 hari kerja.

Keempat, setelah bukti pengiriman ke pihak Kedubes sudah dikirimkan oleh Mas Subandi, tidak lama saya menerima email dari Ibu Cempaka dari Kedubes Perancis, bahwa dokumen sudah diterima dan suami saya harus mengisi dokumen Formulir Permohonan Transkrip, form nya dalam bahasa Perancis dan waktu itu diisi oleh suami saya akhirnya, lalu saya kirimkan kembali lagi ke Ibu Cempaka via email. Waktu untuk menunggu livret de famille ini selesai, sekitar 2 bulan lamanya. Kalau saya waktu itu 2 bulan 2 minggu karena ada keterlambatan dari pihak Kedubes.

Kalau kita sudah memiliki acte de marriage dan livret de famille ini, kita bisa langsung lanjut proses kelima yaitu, membuat visa long séjour (long stay visa). Sebenarnya kamu tetap bisa ke Perancis sebelum kedua dokumen ini selesai, tapi paling cuma bisa buat visa tourist aja untuk sebulan atau kurang dari 3 bulan, setelah itu harus balik lagi sampai 2 dokumen tersebut selesai. Setelah itu, langsung proses long stay visa yang saya sebutkan tadi, tapi karena memperhitungkan biaya yang pastinya mahal banget, jadi daripada buang-buang uang untuk tiket pesawat mending uangnya buat nabung kan gengs.

Untuk proses membuat visa, khusus negara Perancis dan Swiss, kita bisa memproses pembuatan visa di TLS Contact. Untuk proses pembuatan visa, kamu harus registrasi online dulu ya, supaya bisa langsung log in. Semua informasi lengkap ada di website TLS Contact, ingat… harus rajin-rajin baca dan bertanya ya, kalau memang sudah kepepet atau ada yang kurang jelas bisa langsung tanya via email ataupun telepon ke kantor mereka.

Visa tipe seperti apa yang dibutuhkan nih?

Jadi, setelah kalian buka websitenya, silahkan pilih ‘Documents and Visa Types’ >> lalu, kalian bisa melihat berbagai jenis visa yang dibutuhkan, lalu pilih ‘Family member of a French citizen or his/her purpose’ >> jangan bingung, setelah klik pilihan tersebut, ternyata masih banyak lagi kan jenis-jenis visa yang berbeda? Waktu itu saya pilih tipe visa yang ‘Spouse of a French citizen – Long stay (more than 90 days)‘.

Jangan syok ya kalau persyaratannya banyak, alhamdulillah karena saya sudah cukup berpengalaman membuat Schengen visa dan menurut saya, visa tipe ini merupakan aplikasi termudah! 3 kali sebelumnya, saya pun juga ‘tertolong’ buat visa, karena ketiga-tiganya saya diundang oleh organisasi/NGO internasional yang berada di salah satu negara Eropa untuk urusan pekerjaan. Mudahnya, karena mereka memberikan surat undangan dan pernyataan bahwa setiba di Eropa mereka akan menjamin hidup saya selama disana. Gak kebayang, beberapa teman sempat berkonsultasi, gimana caranya buat Schengen visa dan ternyata lumayan sulit juga kalau memang tujuannya untuk tourisme atau backpacker ya, harus ada jaminan dan copy jumlah uang di rekening bank yang minimum sekian juta, surat sponsor, de el el.

Lanjut lagi, jadi untuk aplikasi visa long stay ini ada beberapa hal yang saya bilang cukup menguntungkan, diantaranya; kita tidak perlu membayar visa alias FREE a.k.a GRATIS gengs (kecuali, kalau kamu mau premium service pada saat pembuatan aplikasi visa, harus tambah IDR 450.000 lagi ya!); terus kita tidak perlu atur waktu janji temu untuk interview, karena kita bisa datang langsung jam berapa pun (selama waktu operasional TLS contact). Another perks of having a French husband. Ketika kamu akan masuk ke dalam kantor TLS contact, kamu harus membawa si acte de marriage dan livret de famille.

Untuk persyaratan dokumen lengkapnya, beberapa yang harus dikumpulkan dan diberikan kepada pihak TLS Contact diantaranya;

  1. Formulir aplikasi long stay visa yang asli
  2. Formulir OFII (di isi dan dibawa saat proses aplikasi, form ini akan digunakan setelah tiba di Perancis untuk membuat residence permit)
  3. 2 lembar pasfoto berwarna, latar belakang putih, ukuran 3,5 cm x 4,5 cm (tidak lebih dari 6 bulan)
  4. Buku Keluarga (ingat ini livret de famille ya, yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Perancis)
  5. Fotokopi sertifikat menikah (acte de marriage, juga dari Kedubes Perancis)
  6. Fotokopi KTP pasangan WN Perancis atau Pasport biometrik WN Perancis
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal di Perancis
  8. Fotokopi Kartu Keluarga (WN Indonesia)
  9. Pasport (2 lembar fotokopi yang berisikan data dan pasport asli dibawa dan diserahkan kepada petugas visa, yang masa berlaku kurang dari 3 bulan dengan 2 halaman kolom kosong untuk visa stiker)
  10. Fotokopi pasport lama, terutama pada bagian visa dan personal data. Bawa juga pasport aslinya untuk jaga-jaga ya.

Saya baru tau, ternyata kalau apply visa via French embassy, mereka tidak pernah menanyakan soal travel insurance. Saya pun juga tidak diminta untuk melampirkan booking flight ticket, paling hanya ditanya ‘nanti berencana berangkat ke Perancis nya kapan ya?’.

Setelah semua proses dan dokumen sudah dicek, nanti kalian juga akan ditawarkan apa mau ambil visa nya langsung di TLS contact atau dikirim by JNE YES? Untuk kiriman by JNE, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 75.000,- karena rumah saya juga masih di daerah Jakarta Selatan, ya saya pilih langsung saya yang ambil dong jelas, meminimalisir hilang atau kerusakan juga saat pengiriman.

Setelah semua sudah selesai, siap-siap tinggal tunggu berangkat deh!

Nanti sesampainya di Perancis saya kabarin lagi ya, hal-hal apalagi yang harus saya (atau kamu lakukan) karena ada beberapa dokumen lagi yang harus dikerjakan setibanya di sana untuk membuat resident permit “Titre de séjour”.

Featured background picture from Pinterest.

Featured

9 Tips Jalan-jalan ke Versailles, Paris di Perancis

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi pacar (sekarang sih udah jadi suami, hehe) di kota Paris. Sebenarnya, suami saya tidak tinggal di Paris nya, tapi lebih ke selatan dari Paris, namanya kota Orléans. Jaraknya sekitar 130 kilometer, kalau naik kereta intercity sekitar 1 jam dari Paris. Tapi waktu itu kita nebeng di apartemen sepupunya yang berada di kota Paris, jadi biar kemana-mana juga lebih dekat. Semenjak pertama kali ke Paris tahun 2015 lalu, emang sebenarnya udah pengen banget ke Versailles, ya udah ada di bucket list banget deh intinya. Tapi waktu itu karena waktunya juga gak banyak, cuma 2 malam di Paris, jadi ya skipped dulu deh sambil harap-harap bisa berkesempatan lagi untuk balik ke Paris.

Dan, alhamdulillah, ternyata benar-benar dikasih kesempatan dan rezeki lagi, sama orang tersayang pula kesananya! Ihiy. Akhirnya saya membuat itinerary perjalanan selama di Paris selama seminggu lengkap dengan catatan, transportasi, waktu dan semacam what to do selama berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Salah satunya, saya bilang saya pengin banget ke istana Versailles!

Apa sih Versailles? Itu dimana? Ada apa aja disana? Terus apa aja yang menarik?

Sebegitu cantiknya ya ❤ Foto dari Pinterest

Sabar, sabar gengs, saya coba jelaskan satu per satu ya.

Bagi yang belum tahu, belum pernah kesana, atau sekadar baru denger soal Versailles. Jadi, Versailles ini dulunya istana dan kediaman utama kerajaan Perancis sejak tahun 1682 di bawah Louis XIV hingga awal Revolusi Perancis pada tahun 1789 di bawah Louis XVI. Dan istana ini menjadi saksi adanya Revolusi Perancis pada zaman itu, dimana Marie Antoinette menjadi salah satu tokoh yang cukup terkenal dan berpengaruh saat itu.

Versailles kini menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO. Biasanya, istana ini digunakan untuk acara-acara penting, seperti; upacara-upacara, Royal Opera dan apartemen kerajaan; untuk apartemen kerajaan seperti Grand Trianon dan Petit Trianon yang terletak di dalam taman; ada juga pedesaan kecil yang dahulu kala sengaja dibuat untuk Marie Antoinette tinggal dan Taman Versailles yang sangat luas dan dilengkapi dengan air mancur, kanal dan kerbun berbunga. Luas seluruh area istana ini sekitar 1.000 hektar. Pokoknya bagi yang pencinta sejarah Eropa, Perancis khususnya, pasti bakalan suka banget sih sama tempat ini! 100% guaranteed.

Look at those ceiling details ❤

Setiap ruangan gaya dan warna wallpapernya beda-beda dan penuh warna, juga dominasi gold. Keren banget ya

The golden gate of Château de Versailles

Nah, jadi di post kali ini, saya mau coba kasih beberapa tips ke teman-teman yang pengin banget ke Paris, tapi bosen kalau cuma stay di kota nya aja, jadi kali ini kita main-main ke Versailles dulu ya. Sebelumnya, ada beberapa hal yang harus diketahui terlebih dahulu:

1. Pilih musim dan waktu yang tepat untuk berkunjung

Musim terbaik untuk mengunjungi Versailles sebenarnya pada musim semi dan panas, karena bunga-bunga bermekaran dan pepohonan akan terlihat sangat cerah dan penuh warna. Walaupun juga harus siap-siap dengan ramainya pengunjung yang datang dari berbagai belahan dunia. Di musim dan waktu tertentu biasanya, area fountain dan taman memiliki beberapa events tersendiri yang bisa di cek disini. Web Versailles, events.

Catat ya, istana Versailles ini tutup setiap hari Senin, Christmas dan Tahun Baru.

The best place to hide, isn’t it? 😀

 2. Baca dan pahami dulu sejarahnya

Lebih baik sebelum kesana ketahui dulu sedikit mengenai latar belakang dan sejarah istana Versailles, jadi semakin bisa meresapi suasana dan cerita dari setiap ruangan di dalam istana. Minimal bisa Googling mengenai sejarahnya, baca beberapa buku, nonton beberapa film yang memang menceritakan atau menyinggung soal sejarah Perancis, berlatarbelakangkan istana Versailles, seperti; Marie Antoinette.

The Hall of Mirrors, galeri pusat istana Versailles yang sempat difungsikan sebagai aula untuk beberapa acara penting keluarga kerajaan

 3. Berangkat pagi atau menginap di kota Versailles?

Sebenarnya ke Versailles itu lebih baik berangkat pagi sekitar jam 7 atau 8 pagi dari Paris, untuk menghindari antrian yang panjang dan udara juga masih sejuk. Terlebih kalau tempat menginap kamu agak jauh dan di pinggir kota Paris, karena waktu tempuh bisa sekitar 1 jam sampai ke Stasiun Versailles Château Rive Gauche.

Atau, kalau memang masih banyak waktu, dan mau mengunjungi istana Versailles dan sekitarnya, bisa menginap 1-2 malam di Versailles village. Suasananya beda banget sama di Paris, kita seperti kembali ke masa lalu, kotanya super indah. Dan ada beberapa pilihan hotel untuk menginap dengan kisaran harga EUR 85/night, kalau mau ada juga kok Air BnB disana dengan harga yang jauh lebih murah di mulai dari EUR 50/night.

Kota Versailles itu emang bagus banget sih, kalau next time ada waktu lebih banyak juga kayaknya saya pengin coba menginap dan eksplor kota kecil ini, di luar dari istana nya yang maha megah.

 

4. Kenakan baju dan sepatu yang nyaman + gak ribet

Ini juga hal yang penting banget sih, kalau kamu berencana untuk summer kesini, pakai kaos simpel dan jeans udah paling juara. Karena panasnya Paris dan sekitarnya itu juga gak beda jauh sama Jakarta, bedanya less pollution aja sih paling. Terus, karena kalian pasti akan banyak jalan kaki dari stasiun ke istana dan keliling taman Versailles, paling the best ya pakai sneakers! Untuk perempuan-perempuan, I definitely will say no to high heels, stiletto, even flat shoes or whatever it is. Karena secapek itu gengs jalannya, percayalah Versailles gedeeeeeee banget.

Berjalan di sepanjang labirin ini. Kalo ada yang nonton film Parfume, pasti familiar sama labirin ini?

5. Naik RER C, pilihan terbaik dan termurah

Terletak di departemen Yvelines, sekitar 20 kilometer (12 miles) barat daya dari pusat kota Paris, untuk ke Versailles sebenarnya mudah banget! Kalian bisa dengan mudahnya mengakses dengan menggunakan kereta RER C. Untuk mengetahui rute dan stasiunnya dimana saja, bisa dilihat disini. Kereta RER C ini berbeda dengan jalur Metro, jadi pastikan untuk beli tiket di vending machine yang ada di stasiun. Kalau gak salah, tarifnya sekitar 7 euro (PP) dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Saya sarankan sih lebih baik untuk beli langsung PP dari Paris, untuk menghindari antrian lagi saat pulang dari Versailles. Karena biasanya saat menuju kembali ke Paris, di stasiun akhir Versailles Château Rive Gauche itu rame banget, apalagi kalau high season.

 

6. Jangan lupa bawa bekel makanan dan minuman

Sebenarnya ada restoran, kafe dan tea room yang menjual makanan di istana Versailles, tapi percayalah, mendingan kalian siap-siap untuk bawa beberapa makanan kecil atau mungkin seperti sandwich, croissant, buah, roti atau lainnya yang mudah dibawa dan dikonsumsi disana. Karena banyak sekali orang-orang yang akhirnya duduk-duduk di tangga bahkan di taman untuk sekadar ‘piknik’ dan menikmati udara yang bersih di Versailles sambil makan siang.

Bassin d’Apollon (French) or Fountain of Apollo (English) di sekitar sinilah rata-rata pengunjung membuat area “piknik” dadakan, sebenarnya ada juga bagian taman lainnya

 7. Jam buka? Tiketnya berapa? Beli Dimana?

Istana mulai dibuka pukul 9 pag dan tutup jam 6.30 sore, tetapi untuk Grand Trianon dan Galeri hanya buka pada siang hari saja. Kalau mau jalan-jalan ke taman dan kebun buka setiap harinya, dan bebas biaya, kecuali jika ada acara Musical Fountain Shows dan Musical Gardens.

Begitu kamu memasuki area istana, di sebelah kiri ada kantor penjualan tiket ada yang namanya Ministers’ South Wing (letaknya di sebelah kiri lapangan The Cour d’Honneur ya!) harga tiketnya EUR 20 untuk semua area, dan EUR 27 kalau kamu mau nonton Musical Fountain Shows atau Musical Garden. Kalau kamu hanya ingin berkunjung ke istana aja dan area taman, harganya EUR 18.

Nah, kalau menurut kamu sehari gak cukup untuk ke Versailles, mereka juga menjual tiket yang berlaku selama 2 hari berturut-turut dengan harga EUR 25 dan EUR 30, kalau kamu mau nonton acara Musical Fountain Shows. Selain bisa beli on the spot, kamu juga bisa beli tiketnya secara online di websitenya ini, untuk menghindari antrian.

 

8. Persiapkan dan charge semua smartphone, kamera, iPad dll

Lagi-lagi ini menjadi salah satu hal yang penting buat saya dan mungkin juga buat kalian. Karena Versailles memang seindah itu geng dan sayang untuk kita lewatkan. Jadi, jangan lupa untuk mengisi batere gadget dan kamera kamu sampai full ya!

 

9. Tips khusus: bagi yang mau bawa anak-anak

Ini penting banget buat orang tua atau keluarga yang ingin bawa anak-anak. Istana Versailles mungkin bagus banget kalau kita mau mengedukasi anak-anak mengenai sejarah Perancis dan mencoba untuk memperlihatkan suasana yang ada di sana maupun hanya untuk bermain-main di taman, tapi coba pikirkan dua kali ya kalau kamu mau membawa anak-anak kecil yang usianya masih di bawah 5 tahun. Karena selain tempatnya luas banget, takutnya anak-anak udah terlalu capek dan keburu merengek mau pulang. Belum lagi, ada peraturan di Versailles yang melarang pengunjung untuk membawa stroller, baby chair, pushchair atau gendongan bayi yang ada kandungan metalnya. Kalau kamu membawanya, kamu harus menitipkan barang-barang tersebut di free left luggage yang sudah mereka sediakan disana.

Sebagai bonus, kalau kamu masih merasa capek setelah muter-muter di istana Versailles dan mau ngopi-ngopi atau snacking atau juga mau makan malam sebelum balik ke Paris, tenang aja, gak jauh dari stasiun Versailles Château Rive Gauche, kamu akan menemukan beberapa pilihan kafe dan restoran ala Perancis yang juga bisa memuaskan lidah dan perut kamu lho!

Nah ini pedestrian nya, asri banget ya ❤

Oh guys, satu lagi! Di Versailles juga ada toko oleh-oleh yang sayang untuk ditinggalkan, soalnya barang-barangnya lucu banget buat dijadikan oleh-oleh atau kenang-kenangan, harga dan barangnya bervariasi, mereka menjual kartu pos, alat tulis, mainan anak, cokelat, permen, sabun, tas dan sebagainya, desainnya ala ala oldies klasik gitu!

ini cokelat yang dijual di dalam toko souvenirnya 🙂

Kira-kira itulah beberapa hal yang penting dan harus kalian perhatikan ya kalau kalian ingin berkunjung ke Istana Versailles.

Bagaimana gengs kira-kira? Masih ragu untuk melihat secara langsung keindahan istana yang luar biasa cantik ini?

Featured

Honeymoon Series #6 : Nge-Hitz di ‘Cafe In Hit Coffee Shop’, Labuan Bajo

Finally, here is another recommended place for you to hang out in Labuan Bajo, Flores!

Jadi, hari terakhir di Labuan Bajo, setelah 3 hari 2 malam living on board, kita (khususnya saya) pengennya cuma mau leha-leha aja deh! Jadilah, akhirnya ngopi adalah our top priority untuk berleha-leha di Labuan Bajo. Selain karena, sepengen itu minum kopi asli Flores, sejujurnya di otak saya waktu itu bawaannya pengen nulis dan nulis melulu. Karena banyaaak yang mau dibagi setelah liburan ke Yogyakarta dan Labuan Bajo bersama (ehem!) suami tercinta.

“I just really need an iced cappuccino and maybe bit writing on my laptop!” that was exactly my answer, when he asked what do you want to do today.

Emang ya, dasar orang INFJ, emang cuma paling bisa curhat lewat tulisan-tulisan. Siapa yang setuju?

Acung!!!

Untungnya suami juga sama-sama INFJ, walaupun dia sebenarnya lebih ke tipe more into adventures sih, jadi ya dia setuju aja kalau hari itu kita akan ngopi-ngopi di kafe tok!

Setelah Googling coffee shop atau tempat nongkrong apa yang cozy dan kopinya enak, juga lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel. Akhirnya, jatuhlah pada pilihan ngopi di Cafe In Hit Coffee Shop. Tempatnya emang enak banget, cocok sih buat yang emang mau ngopi sekaligus hangout atau hanya sembari ‘kerja’ di depan laptop. Dekorasinya lebih menggunakan semen concrete dan industrial, which is emang kekinian dan sesuai namanya, hitz banget! (gimana gaes bahasanya udah anak Selatan banget belum?! Hahaha)

P1080589_edited
Barista-nya ramah-ramah & bersedia sharing cerita soal kopi

Oh iya, kalau kalian beruntung, kalian juga bisa nemuin buku bacaan favorit kalian di kafe ini. Lihat aja koleksi buku disini, lumayan banyak kan? Mereka sengaja menyediakan buku-buku untuk bacaan para pengunjungnya, yang sengaja dikumpulkan dari hasil sumbangan para turis yang datang di kafe maupun yang memang gak sengaja ketinggalan di kafe.

P1080592_edited
Koleksi buku-bukunya yang juga membuat dekorasinya menjadi lebih artsy. Mereka juga jual kopi asli Flores dan sekitarnya loh, baik yang sudah berbentuk powder maupun masih biji kopi

P1080593_edited
Suami yang setia banget nungguin nulis sambil baca buku kesukaannya yang dia temukan di display. Laaavv ❤

P1080594_edited
Area toilet tepat di atas tangga. The quotes pun ❤

Untuk soal minuman, variasi menu yang ditawarkan juga lumayan banyak, mulai dari black coffee hingga beragam pilihan minuman frappe. Selain minuman, mereka juga menjual light meal seperti; sandwich, banana cake, muesli, salad, dan sebagainya. Waktu itu saya dan suami sempat mencoba Ice Cappucinno, Ice Coffee Machiato, dan Ice Green Tea Frappe!

Ice cappucinno nya aja udah bedaaaa banget rasanya sama cappucinno yang biasa kita minum di Starbucks ataupun di coffee shop lain di Jakarta. Rasa kopinya…. DUH! Sampe gak bisa berkata-kata lagi deh.. pas ditanya, ternyata kopi yang dipakai kopi Flores dan Manggarai.

Untuk harga sih, relatif sama ya dengan harga kopi-kopi di Jakarta, sekitar 30.000-an keatas, tapi soal kualitas kopi? Gak diragukan lagi deh. No perez ya, ini honest review…

Kalau soal suasana, asik dan lagu-lagunya juga top 40s punya. Untuk area kafe terbagi 2, ada yang indoor area juga outdoor, sayangnya gak terlalu banyak kursi yang disediakan di dalam, karena lokasi baristanya aja udah lumayan memakan tempat. Walaupun tidak terlalu besar, sebenarnya lumayan banget untuk nongkrong sama teman, keluarga atau pasangan yang emang cuma mau sekadar ngopi sambil chit-chat!

P1080597_edited
All you need is love and a good cup of coffee, indeed.

P1080591_edited
Notes dan testimony yang dituliskan oleh pengunjung

P1080595_edited
We are in a paradise, wifi is just a bonus

Jadilah, kita lumayan lama banget stay disana, bahkan sampai hampir sunset! Suami saya asik tenggelam dengan buku yang dia temukan di kafe tersebut, saya juga udah asik sendiri dengan laptop. Dari awalnya kita duduk-duduk di dalam, karena ber-AC dan lumayan untuk ngadem dari panasnya matahari di Labuan Bajo, sampai akhirnya sore-sore kita pindah keluar sekalian cari angin dan ganti suasana.

Oh ya, lokasinya pun berada tepat di sebelah Le Pirate Hotel dan Restaurant yang sudah sempat saya review juga.

P1080598_edited

P1080599_edited

Baca juga: Honeymoon Series #2: Le Pirate Restaurant, Labuan Bajo, Flores – Indonesia (Review)

Address: Jl. Soekarno Hatta, Labuan Bajo, Flores 86554 

Opening Hours: 6.30 AM – 10.00 PM

Estimated price: 20.000 – 70.000 IDR

Featured

Honeymoon Series #5 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 3 – FIN)

Yaaay, finally the last day!

So, early in the morning, we sail our boat to Taka Makassar! Once we parked the boat, I was surprised when I saw another beautiful crystal water, white and pinkish beach sands, a lot of fishes and corals.

Look at this beauty…

P1080300_edited
The real Vitamin Sea ❤

P1080304_edited
Welcome to the island of sands

The name has no connection with Makassar region in Sulawesi, but Taka Makassar means the island of the sand. It has clear turquoise water and swallows water, which makes big boats aren’t able to get near to the island, that is why they usually ride a smaller boat either from Manta point or Komodo island.

P1080297_edited
Who doesn’t love to be here?

Me and my husband had to swim from our boat to the small island, it is very small even smaller than basketball field. It was very good to swim in there because of the wave quite stable, compare to the pink beach yesterday. We were with Italian tourists when we were there and they found giant sea-turtle nearby Taka Makassar.

On this island, I met and got to know with another tour guide which originally coming from Flores. She was very nice and very informative! We shared a lot of things about Labuan Bajo and Flores, include what was happened that time in Labuan Bajo. She told me, she and her friends joined with a demonstration in the centre to fight the construction of big and luxury hotels on Rinca and Padar islands. She looked very stressful because she doesn’t want people ‘destroy’ the real beauty of Labuan Bajo and other islands. But people who have the power, only thinking about their business, how to build a luxurious hotel so they’ll gain more profit without thinking about the impact of it.

“Imagine, if Komodo dragons will lost their ‘comfort’ and origin habitat?” she said.

I nodded but suddenly my mind was full with her voice.

I just cannot imagine what if it really happens.

Deep sighs

Well anyway, after spent a few hours in Taka Makassar, we went back to the boat and went to Manta point which located quite close from Taka Makassar. We had to find a spot in a deep blue sea water to see Manta, and guessed… we found it! I was not brave enough to go to underwater anymore to see the Manta closer, but my husband who always curious to hunt all Mantas we found.

P1080331
Look at this big Manta ❤

p1080334.jpg
He tried to see the Manta closer

Finally, after we saw around 4-5 mantas, we went directly to our very last destination, before back to Labuan Bajo harbour, the Angel Island (Pulau Bidadari). This is a private island which located 20 minutes by boat from Labuan Bajo. It surrounded with beautiful white beach sand and one of a good place to do snorkelling and diving.

P1080502
Our Garuda boat, view from Angel Island, Labuan Bajo

P1080503
Angel Island, Labuan Bajo – Flores

Surprisingly, when I sat on the beach sands, I saw very clear there was a baby shark swim in the seashore. And after, my husband was curious, so he hunts the baby shark on the other side of the seashore and finally, he found it!

P1080497_edited
Baby shark dudu~duu

It was not that big. And our tour guide told us, they also have many sharks on this beach, that is why no wonder if we found few baby sharks in there.

Finally… we went back to Labuan Bajo’s harbour and picked up by the driver, then they dropped us at the hotel.

Well, that could sum-up our honeymoon stories. It might not a romantic one like in a movie, but we really enjoy every moment that we spent together. Even our skin got burnt, 3-days with the smell of salty hair and all over our body, but we enjoyed a lot the beauty of Labuan Bajo and other islands has offered to us! For those who want to have a romantic, fancy and luxury honeymoon, maybe Bali and Lombok will be a better choice. But, for those who want a real life-adventure, full of challenges, build a ‘teamwork’, and lay down in the rooftop under the million stars… We definitely recommend Labuan Bajo is the best choice!

P1080114_edited
There’s no sunset as beautiful as in Komodo island ❤

Additional information:

We booked our trips with PERAMA Tours and we chose “Explore Komodo National Park 3D2N” for a private boat, so last time only me, my husband, the tour guide and the boat crew on board. The price for each person IDR 4.000.000 (USD$ 280), so last time we paid for IDR 8.336.000 (USD$ 642, include the administration fee). It was not cheap for me, because actually there is a lot of tour and travel agency who offered a less expensive tour than the price we’ve got, (maybe) also with better facilities. But, we feel good with our tour guide, which we called Mas Goi! He is very nice, smiley, good French (even better than me), helpful and has the talent to take pictures, of course! Hahaha

The Garuda boat was very clean, the boat crew was very nice and helpful, our tour guide was very kind and very informative, oh yes, I almost forgot, the food was delicioussss and rich with Indonesian-taste! ❤

IMG_20180820_123312_edited
Bon appétit

Featured

Honeymoon Series #4 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 2)

Born in a big city like Jakarta, has shaped me into who I am today. Living well, went to a decent school and university, got a decent job with… ya, I could say, enough salary. I even don’t have to cross to another island by the boat or to hike another hill only for a living. I am not trying to underestimate people who are doing that way, I even really appreciate what they do.

At least, that’s what I thought last time when I was on Padar island, one of the big islands in Labuan Bajo, Flores. I really appreciate people who are starting to make money in there, that is why no wonder if the price in Labuan Bajo and surrounding island, not much different compared to Jakarta. In some things, the price even higher. As we know, it might not easy for them to get some of the food products in their area, because lack of accessibility and availability to get all of the food products.

IMG_20180820_093746_edited

The first night we stayed in the small boat, with limited electricity, no AC or fan, no wifi, even worse no phone signal, makes me realize two things. First, how hard my life was if I have to do it for 7 days without those things. And the last, the positive sides, me and my husband tried to live with those limitations with our own way, we talked and laughed more, we shared stories.

He was the one who always gave me his spirit to support and cheers me up. For example, last time when we hike in long and high stairs in Padar island, he kept patiently support me. He always told me that I can do it to the summit, even I am the one who wasn’t feeling that way. For those who already went to Padar island, I am sure you know how it feels. The hills have a lot of stairs till the peak, some even only have stones step. Our tour guide even told us, a few years ago they even did not have the stairs, so people had to hike with little bit steep and slippery land.

IMG_20180820_093311_edited_edited
The struggle was real right?

As you can see, the island is mostly savanna-covered, surreal landscape fringed by bright green-capped mountains. It’s all surrounded by three turquoise bays and each one of the bay’s beaches has different coloured sands; one is more pearly white (the right one), the other is charcoal black and the third is a baby pink one. Which makes it a very rare combination, yet makes it a very unique island.

IMG_20180820_100751_edited
Our journey is still long, but can we always hold on to each other hands, no matter what will happen in front of us?

The second day actually was my favourite day! Simply because I finally could see the Pink beach. The pink beach was already in our bucket list, even before we got married. And I can’t believe, after 2 years made the bucket list together, we finally made it there! I was speechless and happy at the same time, I feel like I don’t want to leave the beach. After snorkelling for 15 minutes, then I just sat on the beach, felt the pink sands and the sea water on my skin. That was very PINKISH! The wave was a bit strong at that time, which made me and my husband were carried by the waves a few times.

P1070847_edited
Happiest kid on earth ❤

PSX_20180917_145305
Pink beach, salty hair, tanned skin

P1070835_edited
Every August is my parents’ birthday months, so here we wrote birthday wishes for them ❤

Well, finally I had to face the reality that we had limited times to stay in the pink beach, so we went back to our boat and continued our journey to the Komodo island.

P1070914_edited
The road which connects the Komodo harbour to the Komodo National Park entrance gate

P1070918_edited
The Komodo National Park entrance gate

For me Rinca island looked wilder than in Komodo island itself, they also have a seashore, I don’t really know if its allowed and safe to swim in the seashore, but I saw there are few foreigners who swim in there in late afternoon. We can also easily found reindeer, monkey, wild boar, and beautiful birds on this island.

Actually, our tour guide already mentioned that we can’t expect to see Komodo dragons a lot in here, because many of foreigners complained that quite rare they could see Komodo dragons in this island.

Because last time it was already a bit late in the afternoon, like around 3 or 4 pm, we decided to take the short trek one. After 5 minutes walk, we found at least 3-4 Komodo dragons which were in the middle of the forest. Foreign tourists were gathered with their groups and exchange to take pictures with the Komodo.

So we did too!

P1070977_edited
With a huge Komodo dragon

The sun slowly sets, after accompanying my husband to buy some Komodo souvenirs, then we back to the boat to enjoy our last night in our Garuda boat. We were so lucky that we had a brand new boat with 2 nice crew boat and a very good captain! When we parked our boat on the other side of Komodo island in which a place where the house of villagers lived in, all of sudden came two little kiddos who paddled their ‘boat’ which was only made of thick styrofoam, came close to our boat.

P1080248
Look at how they paddled their ‘boat’!

P1080239

Yes, they came to our boat to sell their souvenirs. They brought small Komodo dragons, pin and magnetic refrigerator. I was very amazed yet feel pity with them at the same time. After school, they have had to help their parents making money for their lives. With very limited English that they have, they tried to persuade my husband to buy their souvenirs.

When I looked at them, I suddenly had mixed feelings. I still feel so lucky, blessed, grateful with my life but at the same time, amazed by them. They really inspired me to live my life even we have to face many difficulties, obstacles and challenges. I really wish they will always be healthy, growing as smart kids and enjoy their childhood while they can.

Can I get some ‘amin’…?

(to be continued)

 

Featured

Honeymoon Series #3 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 1)

Yaaay… finally, my motivation to write about our honeymoon experiences in Labuan Bajo has come! Actually, we went to Labuan Bajo on last August 2018, exactly the same day as the Opening Ceremony of Asian Games 2018. Well, just a week after our wedding day.

So we took a flight from Yogyakarta to Labuan Bajo by NAM Airlines, I still remember clearly it was very early in the morning like around 6 or 6.30 am and then we had transit in Ngurah Rai Airport, Bali for about 1-2 hours. The flight ticket price was around 2 million Rupiah each person. It was a little bit expensive because we bought the ticket probably like 2 weeks prior to departure.

Finally, after 45 minutes flight from Yogyakarta to Ngurah Rai Airport, Bali, then transit for an hour and continued our flight to Labuan Bajo for 45-60 minutes where I was one of few Indonesian among the seas of foreigners in the plane, we finally arrived in one of our dream islands to visit!

We were very excited as we arrived at the airport, moreover my husband! Because to visit Komodo Island is one of his biggest dreams since he was a kid, we really don’t know if its coincidence or fate, but seeing him looked so amazed only by the Komodo big sticker at the airport, I felt beyond happy too.

IMG_20180818_115050_edited
My bubz’ happy face ❤

Once we arrived and got our baggage at the airport, we went directly outside to find transportation to the hotel we booked. You will easily find a lot of taxi drivers who will be waiting for either you want to go to your hotel, harbour, central and other spots in Labuan Bajo. The price will depend on your destination, but the driver will ask where do you want to go and the address. If you want to go to the hotel or cafe or harbour, it is located in the centre so the price will be around 50.000 Rupiah/one way.

We booked a hotel room in Soekarno-Hatta street, which still located in the central part of Labuan Bajo, named Beta Bajo Hotel. First, we booked for a night, because the next day in the morning we lived on board, which was my first experience. The first day in Labuan Bajo, we spent half-day at the hotel and in the afternoon we explore the centre and to see the sunset, had early dinner in Le Pirate cafe and after had our ‘dessert’ in one of Le Creperie in town! Yummmz

Read: Honeymoon Series #2: Le Pirate Restaurant, Labuan Bajo, Flores – Indonesia (Review)

The day after, at 09.00 in the morning our tourist guide picked up us at the hotel then we went directly to the harbour by car.

P1070051_edited.jpg
Our ‘Garuda’ boat

So this is our private boat, that we booked through Perama tours. We had cabin bedroom with bunkbed. They also have one bathroom, other bunkbed room, deck bedroom, very small kitchen area and a dining place.

We were very happy and very enthusiast to explore some islands in Flores. At the first time, I felt a bit worried because I ever got nausea in a boat a long time ago when I went to the Thousand Islands. But surprisingly I did not really feel that way, but just because it was very windy and I still feel sleepy, so I decided to sleep in our bedroom.

Oh ya, we saw few dolphins swim on our way to Kanawa island before!

When we arrived at our first destination, Kanawa Island, I feel like “OMG, I never saw the sea which very clear, clean and full of beautiful corals and fishes!”. We spent a few hours on this island, that time was a bit crowd already, but more with foreigner tourists than Indonesian people. The waves were not that much, so it was easy to swim around the island. Last time, we found a lot of colourful starfishes, that’s why we have to be more careful to not step on those starfishes.

P1070148
Corals and crystal clear water

So far, Kanawa island is one of our favourite spots to do snorkelling in Indonesia!

PSX_20180908_130106
Kanawa island pier

After we prepared, they brought us to explore Loh Buaya or well-known as Rinca Island. It is the largest Komodo dragon habitat in Indonesia. Last time, it was a little bit confusing when I bought the ticket in the ticket office because they have 8 ticket papers, which for me such a waste and not effective at all. Here are the price lists we paid:

  • Entrance ticket at the Komodo National Park (weekend): IDR 7.500
  • Entrance ticket to Rinca island (foreigner on weekend): IDR 225.000
  • Entrance ticket to Rinca island (Indonesian on weekend): IDR 50.000 + IDR 20.000 = IDR 70.000
  • Ranger fee ticket in Rinca island: IDR 80.000
  • Activity ticket for trekking on Rinca island: IDR 5.000 x 2 person = IDR 10.000
  • Activity ticket for observation the wildlife: IDR 10.000 x 2 person = IDR 20.000

See? In total, we paid for IDR 412.500 for 2 person or equal to EUR 23. If you go there on the weekdays, the price could be cheaper than written above. The ticket price applies to both islands, Rinca and Komodo (in case you go to this two-island on the same day). You definitely can choose whether you want to try the short, the medium or the long track one which will take around 2 hours or more.

PSX_20180906_163124
Loh Buaya pier

PSX_20180906_162624
The entrance of Loh Buaya, Rinca island in the Komodo National Park. P.S: Don’t ever buy a coconut in there, the price was 2-3 times higher than the normal price. We deeply regretted, haha

P1070327_edited
Hope my face explain everything, lolz

In this island, beside Komodo dragons, you also will see a beautiful scenery with big hills, dry grasses, trees, wild reindeer, monkeys and birds. This island located 3 hours by boat from Labuan Bajo. It is better to go there in the morning or afternoon around (3 – 4 pm) to avoid the strong sunny day. From our guide and the ranger information, Rinca island has a lot of Komodo dragons than in the real Komodo island itself. We found around 9 – 12 Komodo dragons in Rinca island. Last time, because it was already in the afternoon around 3 pm, so we chose the medium trek. I was almost lost my breath when we hike the hill because it was very high and steep at the same time. But we glad that we made it to the top of the hills!

PSX_20180906_162832
Preggo female komodo

P1070345_edited
This wild reindeer waiting to be eaten by Komodo dragons

P1070452_edited
Standing among high hills at Rinca island

After finished our trek in Rinca island, then we went directly to the boat to continue our final destination in Kalong island, where we stopped before evening to see flies kalong or bats above the sunset skies. We feel amazed by all the kalongs which flew above us but it was a wonderful experience to see such beautiful landscape during the sunset with all those flying bats!

P1070575
Peaceful yet beautiful sunset in Kalong island

P1070597_edited
Hope this blurred picture will give you all the vision how we feel amazed by those flying bats

Do you want to know where we went on the second days?

The story will be uploaded next week, so stay tuned and ‘follow’ my blog to get the notification!

Honeymoon Series #1: First Impression being a Vegan in Loving Hut, Yogyakarta (Review)

Well, I was in Yogyakarta last month during the familymoon with my husband and his French family. We basically visited some touristic places when we were there, some good cafe and restaurants, as well as did some adventure at Mount Merapi in Yogyakarta. That was 2nd times visit for me and my husband, the first one was just last year. And just last month we have seen quite a lot of changes in Yogyakarta, such as the big pedestrian walk that they built in Malioboro area as well as other new cafe and restaurant. Who does not love to walk in Malioboro? Many street foods, shopping places, souvenir shops, street art performance, etc.

This year, since we visited with his family, we tried to visit a vegan restaurant because they are a true-vegan! Well, I am not a vegetarian nor a vegan, but in this post, I will try to recommend you one of the best vegan restaurant in Yogyakarta (at least from my experience). This vegan restaurant was recommended by my mother-in-law.

The restaurant called, Loving Hut. It is a vegan restaurant, which absolutely not using any animal products. As a human who is basically eat everything (you can call me an omnivore, lol), that was my first time to eat in such kind of restaurant. We went to the Loving Hut Express, the place quite small not like any other restaurant in Yogyakarta, but the location was well located just in the central part of Yogyakarta.

A little bit about the history of this vegan restaurant, since the first restaurant has been established and founded in Taiwan in 2008, the restaurant has been successfully dominating the vegan restaurants in some of the European and Asian countries. Currently, the restaurant has the franchise which spread to 23 countries with more than 155 outlets, including in Indonesia. They also have its franchise in the United States, Canada, Panama, Germany, France, Spain, England, Czech, Austria, Australia, China, Taiwan, Hong Kong, Mongolia, Korea, Japan, Thailand, Malaysia and Singapore.

I was thinking to be a vegetarian or vegan is the scariest and impossible thing to do. Because I just can’t imagine my life without egg, chicken, seafood, cheese, milk, and any animal product (BRB, CRYYY). But since my husband and his family is a vegetarian or even a vegan, so I gave a try to this resto.

WHICH WAS SOOOOOO DELICIEUX….

I have some preference for vegetables and fruits that I usually eat and only some of the vegetables that I can eat it raw, which the rest should be well cooked. And in here, we can choose both the raw or cooked. They even have a cabinet glass which there are so many foods that you can choose for yourself, which for me more like Nasi Campur or Nasi Rames, but still contain vegan products.

I was very curious about the Burger that they have in this restaurant so I ordered it. OMG, when I took the first bite, I feel like I was in a Burger King!

No, it wasn’t exaggerated feeling!

Because the size was quite big and surprisingly the “HAM” was almost exactly the same as in there. Look at this… Sooooo YUMMMMZ!

IMG_20180816_203249 (2)
Sorry I did not take a proper picture for this, coz its YUMMM

I can be a vegan every day if all the food I eat would be like this.

I was not tried a lot of food in here, but my mother-in-law also loved the salad and juice they have it there, it was all fresh and delicious, as she said! My husband loves the vegan kwetiau and the Seven Seas delight, which contain seitan kind of meat, vegetables and rice.

Here, you can definitely choose and order some kind of food like vegan meatballs, vegan satay, vegan kwetiau and basically almost everything, you name it, they sell the best vegan food with Indonesian taste.

Image result for loving hut yogyakarta vegan review
Image from Google

It was not more like a restaurant but more like a small cafe or warung, since the place is not really big so you have to come earlier or just after dining time or you will have to wait to get the table. The price also very affordable for a good quality and healthy food!

So, for those of you who will come to visit Yogyakarta, you should try to eat in Loving Hut Express!

Location
Loving Hut Express
Jl. Moses Gatotkaca No A18
Gejayan Mrican Yogyakarta
Telp. 0274-562959

Book Review # 3 – Just call me Kartini

Book Title: Panggil Aku Kartini

Writer: Pramoedya Ananta Toer

Genre: Biography and History

Year: 1962 (12th Printed in January 2018)

Published by: Lentera Dipantara

Pages: 291 pages

 

Panggil Aku Kartini Saja (Just Call Me Kartini) is one of a masterpiece which wrote by Pramoedya Ananta Toer. Who does not know him? An Indonesian author of novels, essays, stories which was not only talking about the struggle of Indonesia until the independence, the Dutch and Japan colonialism but his writings talked everything about his life, his experiences in the prison and how bad our former Indonesian Government treated him back then.

He got imprisoned several times, he was caught up, he got censored, he got branded as a communist just because of his political criticisms on his writings, although he was very vocal as well against the colonialism, racism and corruption of the Government. But he never stops to write, he never stops to criticize what was wrong with the Government. The man was born on February 6, 1925, in Blora, Java was the toughest and the most intelligent human I ever knew.

Indonesia should be very proud to have him as a great writer as well as one of the witnesses in Indonesia’s history.

Among of his works, that I would like to explore more on this 3rd book review on my blog is a book which revealed who is Kartini and how she could live and ‘survived’ during the Dutch colonialism era.

We definitely saw movies and read all the books and biographies that talked about Kartini, the Indonesian national hero as well as a feminist woman who was fighting for gender equality and women’s rights in Indonesia. As one of a daughter of the Regent of Jepara, made her have had a chance to go to the school, unlike any other Indonesian women.

Kartini - Heroine Pramoedya Ananta Toer- traitor
Source: Pinterest

In this book, Pram, which often called by this nickname, tried to describe the history of Kartini, her family roots, the situation of the Dutch colonialism and the Javanese culture itself. Born as a half-native and half-aristocratic Javanese family with a strong intellectual tradition made her allowed by her family to attend school until she was 12 years old.

Her name was allegedly given by her biological mother, Ngasirah. According to the wayang (Indonesian puppet) tradition, a father only gave names to his sons and there is no name left for girls at that time. And this wayang stories could not be separated from the way of Javanese living and even often became a framework of thinking, moral and psychological patterns.

Furthermore, this book also explained how the Javanese traditional culture was shaped Kartini during her childhood, whereas she had through all customary ceremonies. And for Javanese people at that time, there were very important steps of life that cannot be allowed to pass without an official ceremony, such as; birth, maturity, marriage and death (pg. 53).

As she turned 6 years old, her father gave her privileges as embroidery lessons and occasional appearances in public for special events, she even went to Dutch School. The school such an eye opener for her about the Western culture which far different from hers.

“The girl who entered the school was the biggest betrayal of the Javanese customs and culture at that time.”

In particular, feudal girls and middle-class girls found It most difficult to leave their homes, where ordinary girls had to leave their homes to help their parents to work in a market and rice fields. But she always reminds all Indonesian girls that “We (as girls) have a right not to be stupid!” this quotes who always inspire Indonesian girls and women to prioritize their education above anything else.

Raden Ajeng Kartini, the pioneer for women's rights
Source: Pinterest

Kartini was always very excited to go to school and outside the house, but the discrimination against women did not stop there, Kartini was also received discriminatory treatment in her school which she received even from her teachers, such as the differentiation of her skin colour in her class. But at the age of 12 years, Kartini must enter pingitan (a period of seclusion), this pingitan started when a noblewoman started their menstruation and continued until a nobleman asked to marry her. She felt very down and sad as she cannot continue her school both in Batavia or even in the Netherlands. But she kept and continued to learn by herself. Her father was the only one that she can relay on almost about everything, she always respected him and her ancestors. Her father, Raden Mas (male nobility) Adipati Ario Sosroningrat was one of the 4 Regent in all of Java at that time who were educated in Europe.

The one and only thing she can do to keep herself productive was only by writing letters to her friend, Stella. She shared almost everything that she felt, more about her daily life. She also wrote a letter to Marie Ovink-Soer during her struggle to accept her seclusion, she was protesting the gender inequality in Javanese traditions such as women being forced to marry at a young age and denied from freedom to pursue an education. Hence, she got acquainted with Estell (Stella) Helena Zeehandelaar who eventually became her regular penpal.

She shared an overview to Stella how manners and politeness work in her family. For example, Kartini’s younger siblings cannot walk or run in front of her, except moving by using their knees position. If Kartini passed by her younger brothers and sisters were sitting in chairs, they have to come off the chair, sitting on the floor until their older sister walked away.

Kartini was always very close and had some Dutch friends ever since she was a kid. She was always eager and encourage herself to learn more about the European literature, especially to advance herself to understand more about the Western culture. Not merely because she wanted to be one of them, but she believed to be strong like a Westerner, she must hold what the European also controlled which among of them were science and knowledge. The Dutch language she learned, she used it as a tool to reach the European civilization. Kartini thought that Europe at that time was a reality, a strength, and a big potential that determines the history of mankind itself.

Besides learned the Dutch language, she and her two younger siblings, Kardinah and Rukmini, also learned French and Germany languages through several book writers, such as; Servas de Buijn, Moderne Maagden atau Perawan-perawan Modern wrote by Marcel Provost, a famous French romance author and drama about love and marital conflicts among the French bourgeoisie. Besides, a book about the women’s emancipation from Prevost’s book, Kartini also learned books that had never been abandoned in discussing the history of women’s emancipation, namely De Wapens Neergelegd (Die Wapen Nieder) or Sarungkan Senjata by Bertha von Suttner, a book about the struggle to win social peace in particular and a world peace in general.

Kartini was not only concern in the area of the gender equality for women but also problems of her society. Kartini felt and saw that the struggle for Indonesian women to obtain their freedom was very real.

Unfortunately, she had to cancel her scholarship to continue to study in the Netherlands, because her parents arranged her marriage to Joyodiningrat, the Regent of Rembang who already had three wives and 12 kids. She did that just because she was very respected with her father and also her husband fulfilled her promises to supported her desire to develop the woodcarving industry in Jepara and the school for native women in Rembang.

But all of her dreams came to an end, just because of her death due to complication after giving a birth to her only children, Raden Mas Soesalit. She died at a very young age of 25 years. Since then, all of her struggles to defend and promote a better education for all girls and women in Indonesia has started and she is well-known as a pioneer of women’s emancipation in Indonesia.

Another culture (which involve the customs, traditions and religion) that became the most basic and main problem of Indonesian women nowadays is where the oppression against the Indonesia women. For example, the matter of ‘forced marriage’ and the issue of polygamy which Kartini must undergo, which also comes from the Javanese traditional culture that had existed a long time before the Islam came in Indonesia. Polygamy is one of the links of women’s suffering, since long time ago until today. Kartini was one of the witnesses which the mixed practices have been carried out by her father and her own husband.

After her death, now every 21st of April, we all celebrate Kartini’s Day to commemorate her struggle to defend all Indonesian women who are still struggling to get a better education, to be more equal in front of the men.

In this book, Pramoedya has successfully brought us to Kartini’s world and felt her strong energy and strength which he brings to their loyal readers. He even very well explained all the historical background even before Kartini was born, feudalism experienced by Indonesian people, Kartini’s anxieties, Kartini’s letters and literary works which have completed with Kartini’s paintings, to Kartini’s mental condition and her love.

Perdebatan Seputar Pink Tax: Kenapa Ini Penting?

Beberapa dari kalian mungkin ada yang sudah notice atau paling tidak pernah mendengar istilah pink tax. Sebenarnya apa sih pink tax  itu sendiri? Terus dari mana istilah tersebut berasal? Dan mengapa pembahasan ini menjadi penting untuk diketahui? Perdebatan mengenai pink tax ini memang sudah ada sejak beberapa tahun silam.

Istilah pink tax (pajak merah jambu) sendiri adalah fenomena perpajakan yang seringkali dikaitkan sebagai bentuk diskriminasi harga berbasis gender dan dikenakan khusus kepada perempuan untuk produk atau layanan tertentu. Menurut pengamatan sejauh ini, yang dimaksud adalah harga produk yang berwarna pink (which is identically dengan produk khusus perempuan dan anak-anak perempuan), harganya bisa 1-2 kali lipat lebih mahal dari harga produk lelaki atau gender netral.

Lalu, produk seperti apa yang dimaksud?

Teman-teman pasti pernah melihat bahkan membeli produk yang berkemasan pink dan diberikan label feminine?

Contoh paling simpel, produk pembalut (tampon pads) yang seringkali kita gunakan setiap bulannya di saat menstruasi, juga dibebankan pajak penjualan karena (entah bagaimana ceritanya) pembalut dianggap sebagai barang mewah (luxury items). Coba bayangkan ya, kita setiap bulan harus merintih kesakitan karena menstruasi, pengeluaran bulanan bertambah lantaran kita harus membeli pembalut atau tampons, dan harganya juga terbilang cukup mahal lagi, belum lagi pay gap gaji bulanan kita sebagai perempuan yang seringkali berbeda dengan kaum laki-laki, padahal jenis pekerjaannya sama.

Contoh lainnya, ketika kita ingin laundry pakaian, seringkali dengan bahan kemeja atau kaos yang sama dengan laki-laki, perempuan harus bayar lebih mahal hanya lantaran mereka membersihkannya dengan cara dry clean dimana kemeja/kaos laki-laki hanya dicuci dengan laundry normal. Padahal keduanya meminta untuk dicuci dengan laundry normal saja. Juga hal lain seperti, baju-baju berukuran besar (plus size), perempuan harus membayar lebih mahal, dibandingkan dengan laki-laki yang juga membeli baju ukuran besar.

pinktax3
Source: Boxed, from Pinterest

Sebagai pencinta warna pink saya pun benar-benar merasa tertampar, seringkali juga berpikir kenapa kemeja perempuan lebih mahal dibanding kemeja laki-laki padahal dari bahan sama, kualitas juga. Belum lagi harga shampoo dan sabun khusus perempuan yang juga cukup mahal jika dibandingkan dengan laki-laki.

Beberapa waktu lalu, The New York City Department of Consumer Affairs (DCA) mengeluarkan hasil studi perbandingan harga lebih dari 800 produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan perbedaan harga pembeli laki-laki dan perempuan ketika mereka membeli jenis barang yang sama. DCA memperoleh harga rata-rata untuk 35 jenis produk yang berbeda berdasarkan analisis 794 produk individual dan kemudian membandingkan harga produk laki-laki dan perempuan.

Hasilnya? Ternyata produk untuk perempuan atau anak-anak perempuan harganya 7% lebih dari produk yang sebanding untuk lelaki dan anak laki-laki dengan presentase berikut:

pinktax4

13% lebih banyak untuk produk perawatan pribadi

8% lebih untuk pakaian dewasa

7% lebih banyak untuk mainan dan aksesori

4% lebih banyak untuk pakaian anak-anak

Perbedaan harga yang diterapkan kepada gender yang berbeda ini, tentunya berdampak pada ketidaksetaraan ekonomi berbasis gender antara laki-laki dan perempuan .

Sederhananya, upah perempuan dibayar lebih sedikit untuk jenis pekerjaan yang sama, membayar lebih untuk produk yang sama dan dikenakan pajak atas produk yang tidak akan pernah dibeli oleh laki-laki.

Di Malaysia, akhirnya pemerintah akan menghapus Pink Tax pada produk menstruasi termasuk diantaranya panty liners dan pembalut wanita. Hal ini tertera di dalam website Departemen Bea Cukai (Customs Department) yang mengungkapkan pembalut dan tampon tidak dikenakan Pajak Penjualan dan Layanan (Sales and Service Tax) yang dahulu ditetapkan sekitar 5 hingga 10%. Bahkan, Wakil Direktur Jenderal Departemen Bea Cukai, Datuk Seri Subromaniam Tholasy telah mengeluarkan pernyataan oleh media pada tanggal 30 Agustus 2018, bahwa produk sanitasi adalah salah satu dari 5.443 barang umum yang bebas pajak.

Jauh sebelum Malaysia, pada tahun 2014 dikenal dengan sebutan Kampanye Georgette Sand, adalah campaign movement yang bergerak sangat cepat hampir di seluruh wilayah di Perancis. Terdapat lebih dari 40.000 orang menandatangani petisi untuk mendorong Kementerian Keuangan Perancis untuk mengadakan penyelidikan terhadap produk-produk kewanitaan.

Bulan Juli 2018 lalu, sekelompok perempuan di Korea Selatan memutuskan untuk berhenti menghabiskan uang setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya, sebagai langkah protes untuk melawan diskriminasi gender. Kampanye yang dimulai oleh group Facebook yang disebut Female Expenditure Strike dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran akan kerusakan yang dilakukan oleh iklan yang meremehkan perempuan, diskriminasi gender dan pink tax yang mengacu pada jumlah ekstra yang sering dibayarkan perempuan untuk membeli barang, dibandingkan dengan laki-laki. Pada tanggal 1 Juli 2018, sekelompok perempuan melakukan boikot untuk semua jenis pengeluaran, termasuk makanan dan transportasi. Kampanye ini bertujuan untuk menununjukan kepada masyarakat bahwa tanpa konsumen perempuan, industri maupun produsen akan mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar.

Beberapa bulan lalu, Burger King di USA juga turut serta menentang ketidaksetaraan gender dalam kampanye baru mereka. Di dalam videonya di bawah ini, mereka menjual Chick Fries dalam kemasan biru dan pink. Kemasan berwarna biru dengan harga $ 1.69 dan kemasan berwarna pink dengan harga $3.09, seluruh pengunjung perempuan sangat marah dan menolak perbedaan harga yang begitu jauh, dan salah satu pelayan mengucapkan “Chick fries ini keduanya produk yang sama, hanya kemasan saja yang berbeda dan untuk kemasan pink harganya jauh lebih mahal.” pembeli perempuan tetap kekeuh tidak mau membayar dan tetap protes karena perbedaan tersebut, lalu si pelayan menambahkan “Ketika kamu masuk ke dalam drugstore atau minimart dan kamu membayar harga $2 lebih untuk sebuah alat cukur, apakah kamu bisa berkata lain?” Disini Burger King berusaha untuk membuka mata para pembelinya akan adanya pink tax yang merugikan perempuan dan mengajak orang-orang untuk lebih pintar dalam memilih produk, juga untuk mendukung pencabutan Pink Tax Act.

Kalau kita tarik lagi dari awal sejarah, sejak dahulu memang sudah ada kritik feminisme lama terkait dengan budaya fashion dan kecantikan sebagai misoginis dan sangat patriarkis. Walaupun penetapan harga berbasis gender mungkin menjadi strategi bisnis bagi si pelaku industri, namun ada konsep diskriminatif yang mendasar yang diterapkan oleh pink tax. Terlepas dari berbagai stereotype umum jenis kelamin, gagasan bahwa wanita lebih konsumtif dan sebagainya, hal ini merupakan pandangan yang sangat berbahaya.

Awalnya memang pasti kita berpikir, “Masa iya sih? Ah, mungkin karena produk perempuan formulanya berbeda, lebih lembut, sensitive de el el…” ya itu juga seringkali dijadikan alasan bagi para produsen untuk membela kualitas dari produknya, tapi ternyata saya salah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir keadaan ini?

Dari hal-hal yang sederhana saja, kita bisa memulai dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat dan menyebarkan informasi baik melalui media sosial terkait dengan pink tax ini, jadi pergunakanlah media sosial untuk menyebarkan berita yang baik, bukan yang hoax ataupun sifatnya yang memprovokasi. Dengan cara ini, kita bisa membuka pikiran masyarakat agar lebih ‘melek’ dan bertanggung jawab atas barang-barang yang sedang atau akan dikonsumsi. Penting juga untuk mulai mencoba menghapus adanya stereotip negatif yang seringkali bias gender dimana pun kita berada.

Yuk, kita jadi konsumen yang bijak dalam memilih produk berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya. Mungkin dari sekarang saya juga mencoba untuk mengabaikan pemasaran produk yang cerdik dengan menjual produk dengan warna-warna yang terlihat ‘lucu’ dan mulai membeli produk berdasarkan harga dan kualitas produk. Jika memang produk laki-laki memiliki kualitas yang sama dengan produk perempuan dan memiliki harga yang lebih rendah, why not?

Jadi, selagi kita bisa, yuk hindari dan tolak membayar pink tax dimana pun kita berada.

Untuk melihat video lainnya mengenai pink tax, bisa dilihat di tautan ini.

Sumber:

A Study of Gender Pricing in New York City. From Cradle to Cane: The Cost of Being a Female Consumer, 2015 [Link: https://www1.nyc.gov/assets/dca/downloads/pdf/partners/Study-of-Gender-Pricing-in-NYC.pdf]

Which Retailers Charge the Largest ‘Pink Tax?, 2016 [Link: https://www.forbes.com/sites/whynot/2016/01/07/which-retailers-charge-the-largest-pink-tax/#57b6a9ef381b]

No More Pink Tax for menstrual products, 30 Agustus 2018 [Link: https://www.thestar.com.my/news/nation/2018/08/30/no-more-pink-tax-for-female-menstrual-products/]

Asia One. South Korean Women Boycott Spending First Sunday Every Month Protest against Pink Tax, 3 Juli 2018 [Link: http://www.asiaone.com/asia/south-korean-women-boycott-spending-first-sunday-every-month-protest-against-pink-tax]