Featured

Living in Rouen #1 : Jadi Stay-Home-Wife, bisa ngapain aja?

Ternyata sudah hampir 3 bulan sejak aku pindah ke Rouen, Perancis. Masih beradaptasi banget sih, sama lingkungan baru, bahasa baru, teman-teman baru, termasuk cuaca juga. Walaupun ini kedua kalinya aku merantau ke negeri orang, tetapi kali ini gak ngerasa kesepian banget, soalnya ada suami yang menemani.

Kalau dulu kan masih single, cieee…

Awalnya sempat berpikir, ternyata begini ya memulai hidup yang benar-benar baru di negara yang baru juga. Aku yang biasanya manja banget di Jakarta, makan tinggal makan, belanja ada yang nemenin, mau beli makanan tinggal beli di depan komplek rumah, mau bakso tinggal panggil abang-abang yang lewat, males keluar naik bis tinggal pesen ojek online, mau pesen makanan tapi jauh tinggal pake ojek online, disini semuanya berubah 180 derajat.

Sekarang tiap mau makan, udah harus mikirin dari seminggu sebelumnya, minggu depan mau masak apa aja ya kira-kira? Suami suka makanan apa ya? Besok mau coba resep baru apalagi ya? Belum lagi kalau tiba-tiba ngidam sama masakan Indonesia, yang belum pernah dibuat sebelumnya. Otomatis langsung Googling atau gak, tinggal andelin Youtube deh!

Walaupun sebenarnya suami udah mandiri dan lebih jago masak (khususnya baking sih) daripada aku, karena dia udah jauh lebih lama hidup mandiri daripada aku sendiri. Dan, aku benar-benar bersyukur untuk hal satu itu. Jadi, sering juga kita gonta-gantian masak atau kadang aku yang masak menu utama, suami yang baking kue untuk pencuci mulut setelah makan.

Disitu aku tersadar, kehidupan rumah tangga itu memang SEHARUSNYA seimbang.

Walaupun suami sibuk dengan pekerjaan dan studinya dari pagi hingga sore hari, tapi dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami. Dia gak gengsi untuk turut bebenah di apartemen dan bantu untuk mencuci piring kotor, masak, juga sebagainya.

Okay, next.

Selain itu, aku yang sejak tahun 2011 sudah kerja dan berpenghasilan sendiri, merasa lebih aneh ketika harus tinggal di apartemen aja tanpa melakukan rutinitas kerja seperti biasanya. Ya, walaupun kegiatan blogging ini ku anggap sebagai pekerjaan sih, walaupun memang belum menghasilkan uang. Dari dulu, memang aku senang menulis dan mempelajari hal-hal baru, tapi emang anaknya juga gampang bosenan.

Sorry, I am a truly geminian. No wonder dong ya.

Semenjak tinggal disini banyak juga yang tanya kayak…

Gimana tinggal disana? Enak gak? Terus kegiatannya ngapain aja sekarang? Gimana bahasa Perancis-nya? Kapan program punya anak? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kadang, aku jawab sekenanya aja.

Beberapa teman dekat dan keluarga ku pasti udah tau banget, kalau tinggal di Perancis adalah salah satu mimpi aku dari kecil. Jadi, kalau ditanya enak gak tinggal di Perancis? Pasti aku akan jawab alhamdulillah enak dan nyaman. Udara dan ambience disini benar-benar bikin aku lebih produktif dibanding saat di Jakarta. Di Jakarta, mungkin kita seringkali mengeluh perkara polusi udara, suhu yang panas dan lembab, macet, banjir dan sebagainya.

Alhamdulillah semenjak disini, keluhan yang biasa aku lontarkan sewaktu di Jakarta hilang mendadak, karena disini aku bersyukur banget udaranya lebih fresh, jauh dari polusi udara, suhunya cukup dingin sih untuk orang tropis macam aku ini, disini masih macet sih kadang, tapi kita bisa dengan mudahnya jalan kaki walaupun agak jauh lokasinya, karena trotoar dan pengendara mobil maupun motor disini sangat tertib! Ada trotoar khusus untuk pejalan kaki juga untuk pengguna sepeda. Disini menjadi pejalan kaki memiliki privilege khusus, kenapa? Karena kalau kita jalan kaki dan menyeberangi zebra cross, khususnya yang gak ada traffic light untuk pejalan kaki, mau sekencang apapun kendaraan, mereka akan berhenti dan wajib mendahului pejalan kaki untuk menyeberang. Mereka akan benar-benar menunggu sampai kita selama di trotoar, baru mereka akan melanjutkan perjalanan. Segitu high respect nya sama pedestrian!

Terus kegiatannya apa aja di Perancis?

Disini aku melanjutkan sekolah bahasa Perancis di salah satu pusat bahasa di Universitas di kota ini. Satu kampus sih sama suami, jadi enaknya suka pulang bareng, walaupun aku kelasnya sore sampai malam. Bahasa Perancis itu emang selalu jadi bahasa ketiga yang pengen banget aku pelajarin dari jaman SMP or SMA. Jadi, ketika mempelajari bahasa Perancis sekarang lebih jadi kewajiban dan prioritas utama, rasanya seneeeng banget! Walaupun aku akui, bahasa Perancis itu susah banget, mungkin tetap lebih sulit mempelajari bahasa China, tapi buat aku ini aja sudah menguras pikiran banget, hehe.

Kenapa menjadi prioritas? Soalnya disini kalau mau survive tinggal dan hidup di Perancis, harus bisa bahasa Perancis, minimal bahasa atau kata-kata yang sifatnya sehari-hari. Makanya syarat untuk kerja dan kuliah itu, kalau gak salah, minimum A2 hingga B2.

Next…

Tentunya, standard pekerjaan rumah tangga kayak masak, bersihin apartemen, cuci baju dan sebagainya. Dulu aku selalu beranggapan remeh banget dengan semua pekerjaan tersebut, tapi begitu semua harus aku kerjakan sendiri, jadi baru tau kalau pekerjaan ini juga penting dan mungkin gak semudah itu bagi beberapa orang. Aku merasa aku jadi lebih disiplin, lebih menjaga kebersihan, sangat memerhatikan hal-hal yang buat diri sendiri dan suami merasa nyaman untuk tinggal di apartemen.

Selain itu, aku punya waktu yang lebih banyak untuk baca buku-buku favorit plus merasa lebih bisa mengeksplor kemampuan lain dari diri aku sendiri.

Hah maksudnya?

Iya jadi bisa banyak belajar hal-hal lain yang dari dulu pengen banget aku pelajarin tapi selalu gak ada waktunya.

Cliché banget kan alasannya?

Aku juga bisa belajar masak ini itu lebih banyak disini, bahkan masak-masakan yang belum pernah dimasak sebelumnya sewaktu masih tinggal di Jakarta. Buat yang penasaran aku udah masak apa aja, bisa diintip di highlight Instagram stories aku disini (boleh banget sekalian di follow Instagram-nya hehe). Untungnya suami rela jadi kelinci percobaan dari setiap makanan yang ku masak, hihi!

Terus aku jadi bisa editing video untuk vlog iseng-iseng yang aku dan suami buat! Masih basic banget juga sih, buat yang mau nonton bisa di subscribe dulu di Youtube channel aku, hehe.

Selain itu, jadi merasa lebih produktif nulis untuk blog juga. Soalnya jadi banyak pengalaman baru yang dirasain selama tinggal disini, jadi pengen berbagi pengalaman juga.

Oh iya, terus sekarang juga lagi coba-coba belajar handlettering. Nah, ini salah satu hal yang pengen banget aku pelajarin dari beberapa tahun lalu. Aku udah sedikit-sedikit beli stationeries kit untuk handlettering. Pengennya sih merambah dunia bullet journal juga, soalnya aku follow banyak banget bullet journal Instagram profile yang hasilnya tuh lucu-lucu dan keren-keren banget, selain itu mereka juga bisa banget menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan mereka. Dulu waktu di Jakarta, sempet nyobain, tapi kayak ya udah hilang-timbul aja!

baby steps

Jadi, sekarang mau mulai belajar handlettering dulu aja, sebelum serius bullet journaling. Doakan yaaa gengs!

Tapi aku yakin banget masing-masing dari kita tuh sebenarnya ada bakat tersendiri, bahkan memiliki semacam hidden talent yang baru kelihatan ketika kita benar-benar melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Salah satu cara mengetahuinya, ya dengan mengeksplor kemampuan diri sendiri lebih banyak aja, banyak mendengar apa yang hati dan pikiran kamu mau dan merasa nyaman untuk melakukan itu.

So, menurut aku untuk menjadi stay-home-wife or stay-home-mom juga sebenarnya bukan pekerjaan yang santai-santai aja di rumah sambil nonton drama, tapi ada tanggung jawab dan pekerjaan lainnya yang dimana, untuk melakukan semua hal tersebut dalam satu waktu, juga belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Jadi, jangan pernah mendeskriditkan orang-orang, khususnya perempuan, yang memilih untuk fokus merawat keluarga di rumah, begitu juga dengan perempuan yang memilih bekerja 9-to-5 sekaligus merawat anak dan keluarganya.

Sebagai penutup, sekali lagi aku ucapkan selamat hari perempuan sedunia untuk perempuan-perempuan hebat diluar sana! Kalian semua hebat, tangguh dan berhak menerima pendidikan dan pekerjaan yang layak sama seperti orang-orang lainnya.

So, tetap semangat!

Featured

Tiba di Perancis: Dokumen yang wajib diurus!

Salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan akhirnya datang juga! Bertemu kembali dengan suami, setelah long distance marriage (LDM), yaitu memulai hidup baru bersama di Perancis. Bagi WNI yang sudah melewati berbagai macam prosedur menikah dengan WN Perancis, memenuhi syarat keberangkatan dan pindahan ke Perancis, pasti senang sekali ketika akhirnya menerima visa long séjour dari pihak Kedubes Perancis.

But wait, you just passed one of all administrations.

Yang artinya, masih ada rentetan administrasi lainnya yang harus kamu urus nanti setibanya di Perancis. Berikut ini saya coba akan berbagi pengalaman, tips dan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan setibanya di Perancis.

Attention: ini yang saya dan suami lakukan di Perancis ya. Untuk yang berbeda negara, mungkin bisa Googling artikel lain terkait prosedur di negara tersebut. Karena saya yakin tiap negara pasti berbeda prosedur dan juga peraturannya.

So, mungkin saya bisa mulai terlebih dahulu menjelaskan mengenai Visa Long Séjour (visa long stay). Jadi, kalau kamu ingin menetap untuk waktu yang lama di Perancis, kamu diharapkan untuk membuat visa tipe ini. Namun, sebenarnya ada beberapa kategori terkait dengan visa long stay (visa jangka panjang) diantaranya;

  1. menetap untuk beberapa periode untuk liburan atau alasan pribadi
  2. profesional kerja
  3. pendidikan (sekolah, kuliah, kursus dll)
  4. bergabung dengan anggota keluarga.

Dalam kasus saya, tentu saya memilih alasan yang terakhir, yaitu untuk bergabung dengan suami saya dan menetap di Perancis.

Jaman saya beberapa waktu lalu, untuk urusan visa kita masih bisa melakukannya di TLS Contact website. Tapi terhitung sejak November 2018 lalu, kita harus ke website France Visa.

Jadi, setelah pilih di menu bar: Coming to France for >> Family purpose >> He/She is French >> Spouse of French national.

Untuk persyaratan seperti dokumen pendukung apa saja yang harus disiapkan, tentu hal ini jauh lebih mudah dilakukan ketika kamu sudah menikah dengan pasangan WN Perancis kamu. Persyaratan lengkap untuk membuat long stay visa, sila untuk membaca di artikel ini.

Setelah semua urusan visa ini selesai dan kita bisa berangkat ke Perancis, tentu masih ada rentetan dokumen administrasi lainnya yang harus kita lakukan setibanya di Perancis. Jadi, walaupun visa kita untuk setahun, bukan berarti itu berlaku secara otomatis selama setahun, biasanya masa berlakunya sekitar 90 hari, visa tersebut baru bisa berlaku dan dipakai, ketika kita memiliki carte de séjour.

Hah, apalagi itu carte de séjour?

Sabar, sabar ya. Jangan stress dulu, kamu dan pasangan kamu harus yakin kalau dengan dukungan satu sama lain, kalian pasti bisa melalui semua urusan administrasi ini dengan baik (cieee..). Jadi, tetap semangaaat ya!

Catatan penting: kalian harus membawa semua dokumen penting pribadi dan dokumen pernikahan ke Perancis (misal, akte kelahiran asli, fotokopi KK, ijazah pendidikan, transkrip, buku nikah, dll).

Supaya sesampainya di Perancis, gak kelimpungan cari-cari dokumen dan malah merepotkan keluarga di Jakarta untuk kirim dokumen-dokumen tersebut.

Oke, lanjut.

Pertama, carte de séjour atau residence permit adalah izin tinggal di Perancis untuk pendatang yang akan tinggal di Perancis hingga satu tahun maupun lebih. Beberapa kategorinya mengizinkan pemegang visa untuk tinggal selama 3 atau bahkan 4 tahun.

Untuk itu, biasanya bagi orang-orang yang baru tiba di wilayah Perancis, pemegang visa VLS-TS berkewajiban mengirimkan beberapa dokumen by post ke OFII kota dimana mereka tinggal, dengan melampirkan formulir aplikasi OFII yang telah diisi dan di stempel oleh pihak Kedubes Perancis sewaktu di Jakarta.

Dokumen lain yang juga harus dikirimkan kepada OFII diantaranya;

  1. Fotokopi halaman depan paspor yang berisikan identitas pribadi dan validitas paspor
  2. Fotokopi halaman stempel imigrasi Perancis (yang biasanya diberikan ketika masuk wilayah Perancis)
  3. Fotokopi halaman visa long stay
  4. Fotokopi livret de famille

Kirimkan semua dokumen diatas dengan Formulaire de Demande d’Attestation OFII yang sudah di isi seluruh informasi mengenai data pribadi kamu. Setelah itu OFII akan mengirimkan bukti tanda terima bahwa file sudah diterima dengan baik. Waktu itu tanda terima ini dikirimkan setelah 4 (empat) hari saya dan suami mengirim semua dokumen diatas.

Ingat, waktu lama atau tidaknya, bisa tergantung dari kantor OFII di daerah kalian ya.

Lalu, sekitar 3-4 minggu setelah menerima surat tanda bukti tersebut, saya mendapatkan surat panggilan dari OFII untuk melengkapi file, undangan untuk melakukan pemeriksaan medis dan radiologi, dan juga pertemuan pengantar (visite d’accueil).

Nah, pada pertemuan ini, kalian kembali diwajibkan untuk membawa dokumen-dokumen seperti; paspor, foto ukuran paspor (menghadap ke depan tanpa penutup kepala), bukti tempat tinggal di Perancis (tanda terima sewa, listrik, gas, air atau tagihan telepon rumah dengan nama kamu), hasil sertifikat medis, dan biaya pajak yang harus dibayarkan kepada OFII by online berupa stamp/timbre. Untuk ini, kamu bisa membayar dan mendapatkan stamp tersebut disini. Setelah itu mereka akan memberikan stempel bukti melalui email, stempel inilah yang harus dilampirkan dan dibawa saat pertemuan tersebut.

Tarif OFII ini berbeda-beda tergantung maksud dan tujuan kita tinggal di Perancis:

Pengunjung : 250EUR –> istri WN Perancis masuk ke dalam kategori ini

Pelajar & Trainee : 60 EUR

Profesional kerja : 250 EUR

Seperti yang sudah saya informasikan diatas, nanti akan ada personal interview dengan pihak OFII, pertemuan ini bertujuan untuk:

  • Presentasi mengenai Republican Integration Contract;
  • Tes tertulis untuk menilai kemampuan bahasa Perancis;
  • Wawancara personal terkait dengan situasi sosial dan profesional, kemungkinan menggunakan bahasa Perancis, atau disediakan interpreter kalau tersedia;
  • Penandatanganan Republican Integration Contract

Kebetulan saya baru akan memulai pemeriksaan medis dan interview awal Maret depan. Deg-degan sih, tapi mudah-mudahan semuanya akan baik dan lancaaar.

Nah, yang saya ketahui dan hasil ngobrol dengan beberapa imigran atau WN lainnya, setelah melihat hasil tes tertulis kemampuan bahasa Perancis, OFII akan menentukan apakah kamu membutuhkan kursus bahasa Perancis lagi atau tidak. Jika iya, kamu akan mendapatkan kursus bahasa Perancis secara gratis!

Setelah semua formalitas ini dilaksanakan, pada proses akhir validasi, OFII akan memberikan izin untuk kamu tinggal yang tercatat sah secara hukum di Perancis berupa melampirkan stiker dan tanggal di paspor kamu, selama masa berlaku visa yang tercantum di paspor kamu.

Wajib diketahui: Karena penyelesain formalitas ini mungkin memakan waktu cukup lama, bisa sekitar 1 bulan, tergantung kantor OFII setempat. Kamu harus memulai proses pengiriman seluruh dokumen sesaat setelah ketibaan di Perancis, paling lambat di minggu pertama setibanya di Perancis.

Jika kamu gagal melakukannya dalam waktu 3 bulan di Perancis, berarti kamu tinggal secara ilegal di Perancis dan harus membayar biaya legalisasi lagi.

Huft, memang penuh pengorbanan dan uang ya, menikah dengan WNA itu.

Nah, bagi yang ingin memperpanjang izin tinggal di luar dari visa dan residence permit, kamu harus memperpanjang visa atau izin tinggal dalam waktu 2 bulan terakhir, sebelum masa berlaku visa kamu berakhir.

Kunjungi kantor Préfecture setempat di kota kamu melakukan aplikasi permohonan izin tinggal. Nanti kamu akan diberikan formulir yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri kamu. Kalau kamu gagal atau tidak cukup waktu untuk melakukan perpanjangan ini, akan mengakibatkan kamu harus kembali ke negara tempat tinggal untuk meminta visa baru.

Kedua, setiba di Perancis kalian wajib Lapor Diri dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) di negara tersebut. Kenapa? Supaya kamu tercatat di KBRI dan kalau ada apa-apa, KBRI siap membantu. Misalnya, kamu ingin memperpanjang paspor yang masa berlakunya sudah abis. Jadi, data diri kamu sudah ada di KBRI, gak perlu repot ke Indonesia, cuman perkara perpanjang paspor (bukan apa-apa, ongkosnya kan lumayan ya, gengs). Juga, urusan pekerjaan, perceraian, kematian dan lainnya.

Nah, saat ini Lapor Diri untungnya udah online! Jadi, sila klik ke website ini. Untuk melaporkan diri kamu, sebaiknya kamu pilih kolom Daftar. Di isi dengan lengkap ya informasi pribadinya, untuk memudahkan tracking data kamu nantinya. Setelah itu, persiapkan beberapa dokumen dalam bentuk jpg seperti diantara ini:

  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Paspor halaman data diri
  3. Visa VLS-CF
  4. Bukti tempat tinggal di Perancis (slip listrik, kontrak apartemen, slip telepon)
  5. Carte de séjour (jika sudah ada) atau Surat Bukti Tanda Terima sedang dalam proses validasi administrasi by OFII

Setelah selesai, nanti kamu akan mendapatkan nomor registrasi lapor diri. Beberapa hari setelah melakukan lapor diri online, akhirnya saya mendapatkan email langsung dari Konsuler KBRI Paris, kalau mereka sudah menerima pendaftaran dan data saya. Jika ada beberapa dokumen yang belum terverifikasi, mereka juga akan minta kirimkan by email.

Ketiga, untuk mengurus Caisse Primaire d’Assurance Maladie (CPAM) atau Sécurité Sociale. Hal ini yang selalu diingatkan oleh suami saya setelah kami mengurus dokumen dengan OFII. Karena warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Perancis harus mendaftarkan diri ke French social security untuk mendapatkan tunjangan dari pemerintah, termasuk tunjangan asuransi kesehatan. Sistem jaminan sosial yang lebih dikenal oleh orang-orang Perancis sebagai la Sécu ini ada beberapa kategorinya. Penting bagi WNA di Perancis untuk mendapatkan nomor social security ini untuk mendapatkan benefit yang ditawarkan oleh pemerintah Perancis.

Saya sendiri menyerahkan pengurusan ini kepada suami, karena suami yang paling ngerti soal ini, tapi untuk formulirnya sila download disini

Setelah mengisi formulir tersebut, kamu juga harus melampirkan:

  1. Fotokopi paspor yang berisikan data diri
  2. Fotokopi visa
  3. Fotokopi stempel dari imigrasi Perancis
  4. Fotokopi surat tanda terima OFII (bagi yang belum punya residence permit)
  5. Fotokopi akte kelahiran (yang harus diterjemahkan ke Bahasa Perancis, dengan penerjemah tersumpah di Perancis)
  6. Fotokopi akun bank (kalau belum punya bisa pakai akun bank suami dulu, tapi lampirkan surat pernyataan ya kalau kalian berdua sama-sama mengetahui dan setuju untuk menggunakan akun bank suami nantinya untuk menerima benefit tersebut)
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal

Setelah mengisi formulir diatas dan mengumpulkan semua dokumen, langsung dikirimkan ke kantor CPAM atau Sécurité Sociale di kota kamu tinggal.

Keempat, membuat nomor pajak dan akun rekening bank. Harusnya ini sudah bisa dibuat dari sejak kita pindah. Namun, biasanya untuk mengurus nomor pajak memakan waktu lebih lama, terlebih jika kamu belum mendapatkan residence permit dari pihak OFII. Jadi, karena urusan residence permit saya juga belum selesai, akhirnya kami memutuskan untuk membuat nomor pajak dan akun rekening bank setelah urusan residence permit selesai.

Jadi, kira-kira segitu dulu ya informasinya! Mudah-mudahan cukup membantu. Next time saya akan cerita bagian senang-senangnya ya, seperti traveling atau cerita pengalaman gimana rasanya hidup di Perancis sebagai pasangan atau istri orang Perancis.

Sila komen di bawah atau juga bisa kontak saya by email jika ada yang ingin ditanyakan ya.

Bisous,

Astrid

Featured

Berkunjung ke Istana Beauty & the Beast, Château de Chambord di Perancis

Liburan akhir tahun lalu, akhirnya kami memutuskan untuk ke salah satu istana yang letaknya tidak jauh dari kota Orléans, dimana mertua saya tinggal, yaitu Istana Chambord atau Château de Chambord. Paling suka kalau jalan-jalan di Eropa itu, mampir ke istana-istana, biar serasa kayak ada di film-film Disney Princess gitu.

Bagi yang belum tau, sebenarnya banyak istana di Perancis yang beberapa diantaranya dijadikan latar belakang untuk film-film kerajaan, bahkan hingga film animasi. Mungkin salah satunya yang tidak cukup banyak diketahui orang-orang adalah Istana Chambord ini. Awalnya, saya juga gak tau kalau istana ini dijadikan latar belakang film Beauty and the Beast, tapi memang saat berada disana, feel-nya beda banget, serasa balik ke masa itu.

Foto istana diambil dari pintu masuk

Istana ini merupakan istana terbesar yang terletak di lembah Loire, Perancis, dan sangat terkenal di seluruh dunia akan keindahan dan kemegahan arsitektur bergaya Renaissance Perancis yang sangat khas. Arsitektur istana ini memadukan bentuk abad pertengahan tradisional Perancis dengan struktur Renaissance klasik. Awalnya, istana ini dibangun hanya sebagai pondok atau destinasi liburan bagi Raja Francis I dan ketika ia ingin menyalurkan hobi berburunya.

Salah satu desain arsitekturnya yang paling terkenal di istana ini adalah dengan adanya tangga spiral terbuka ganda yang tricky banget dan menjadi pusat dari istana ini.

Lorong bawah dari tangga spiral yang khas di istana Chambord

Kalau ada yang inget di film Beauty and the Beast, ada bagian yang Belle lari-lari di lorong tangga yang melingkar? Nah, bagian itu terinspirasi dari tangga spiral karya Leonardo Da Vinci ini.

Ini juga tangga helix yang berada di bagian luar istana
My happy face in Chambord
Look at this beautiful roof

Jadi, ternyata memang desainer film tersebut niat banget mengunjungi istana Chambord ini untuk melakukan riset dan mencari inspirasi dalam merancang desain istana yang dimasukan ke dalam latar belakang di film tersebut.

Istana ini juga memiliki taman yang cukup luas dan dikelilingi oleh taman berhutan sekitar 52,5 kilometer persegi (13.000 hektar). Sayangnya, karena waktu itu kita datangnya sudah agak sore, sekitar jam 3 dan juga saat itu musim dingin, jadi kita hanya memiliki waktu sedikit untuk jalan mengelilingi seluruh taman di istana ini. Soalnya, jam 5 sore sudah mulai gelap dan semakin dingin. Sekarang agak nyesel gak sempat mengelilingi taman tersebut.

Terdapat beberapa raja yang sempat menempati maupun singgah di istana ini. Walaupun Raja Francis I yang pertama kali membangun istana ini pada tahun 1519, ia tidak sempat merasakan tinggal lama di istana tersebut, bahkan ia hanya sempat melihat beberapa bagian dari istana tersebut sampai akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 1547. Lalu, Gaston d’ Orléans singgah di istana ini bahkan menjadi orang pertama yang melakukan renovasi dan pemulihan di istana tersebut. Louis XIV kemudian memberikan sentuhan konstruksi terakhir di istana, juga melakukan kanalisasi sungai tersebut sekitar tahun 1660 dan pada tahun-tahun berikutnya ia menikmati berburu di Chambord.

Ayah mertua Raja Louis XV, raja Polandia, Stanislaw Leszczynski, saat diasingkan juga tinggal di istana Chambord. Saat musim panas tiba, wabah malaria memaksanya meninggalkan istana dan mencari perlindungan sementara di rumah-rumah terdekat (Blois, Saint-Dyé, château Saumery, château Ménars). Ingin membersihkan udara di Chambord, ia melanjutkan proyek kerja yang dilakukan oleh Louis XIV di sekitar istana. Kemudian pada tahun 1745, Maurice de Saxe, marshal dari Prancis, menerima istana Chambord dari tangan Louis XV sebagai hadiah untuk eksploitasi militernya.

Pada tahun 1821, setelah kampanye penggalangan dana nasional Henri, cucu Raja Charles X, menerima istana Chambord sebagai hadiah kelahirannya. Saat itu juga, untuk pertama kalinya istana ini dibuka untuk umum untuk memamerkan beberapa koleksi karya seni yang dipamerkan di istana tersebut. Namun, pada tahun 1883, Henri Duc de Bordeaux pun wafat, lalu memberikan istana kepada pewaris langsung, yaitu Raja Louis XIV.

Walaupun sudah didirikan sejak tahun 1519, istana ini baru selesai pembangunannya di bawah pemerintahan Louis XIV. Dan tahun 1930, istana dan tamannya telah menjadi milik negara. Lalu, sepuluh tahun setelah itu, tahun 1940, istana Chambord mulai terdaftar di Warisan Dunia UNESCO.

Kini di setiap ruangan yang ada di istana Chambord berisikan beberapa barang-barang pribadi milik raja-raja tersebut, lukisan istana Chambord di masa itu, juga beberapa koleksi seni lainnya.

Jika dibandingkan dengan Versailles, menurut saya, harga tiket masuk istana Chambord lebih murah. Waktu itu bulan Desember 2018, saya kesana bayar sekitar 13 EUR. Khusus untuk EU residents berusia di bawah 25 tahun, GRATIS! Untung dibayarin mertua, jadi gak syok-syok banget deh harus bayar segitu, karena kalau di rupiah-in harganya sekitar Rp 200.000.

Jadi, kalau teman-teman Her Love’s punya waktu lebih saat jalan-jalan di Perancis, saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke istana ini. Namun, untuk transportasi, alangkah baiknya untuk menggunakan mobil sendiri atau mobil sewaan, karena letaknya yang terpencil dan jauh dari akses transportasi publik.

Alamat: Château, 41250 Chambord

Featured

#TGIFshared: Apa itu “Penyakit” Seksis? Dapatkah Kita Mencegahnya?

Sejak dahulu, ketika kita masih kecil, pasti di lingkungan keluarga dan pertemanan sering sekali diajarkan atau ditekankan bahwasanya perempuan itu harus rapih, bersih, cantik pakai pita warna-warni, pinter dandan, jago masak, dan sebagainya. Sedangkan laki-laki harus berani, tidak boleh cengeng, haram hukumnya pakai rok, harus kuat, harus bisa jadi pemimpin dan juga sebagainya. Sehingga stereotip seperti itu, semakin tertanam di benak kita dan sengaja tidak sengaja kita sendiri yang menyebarluaskan anggapan-anggapan tersebut dan semakin melanggengkan ‘penyakit’ seksis itu sendiri. Hal ini yang menjadi akar dari seksisme itu sendiri, dimana adanya stereotip gender di dalam masyarakat.

Tapi sebenarnya apakah itu seksis dan seksisme?

Seksisme merupakan salah satu bentuk diskriminasi, prasangka, penindasan, stereotip berdasarkan jenis kelamin atau gender atau keyakinan, yang beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi (superior) dari perempuan (inferior), sehingga dengan demikian bentuk diskriminasi ini dibenarkan. Keyakinan seperti itu dapat kita sadari atau tidak disadari, seperti contoh yang telah saya sebutkan diatas.

Bentuk diskriminasi seksis yang lebih sering dialami oleh kelompok perempuan dan anak perempuan ini merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan dominasi dan kekuasaan laki-laki, yang sejak dahulu hingga kini dapat kita lihat dengan mudahnya hampir di setiap lini sektor diantaranya sektor ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

“Simple peck-order bullying is only the beginning of the kind of hierarchical behavior that can lead to racism, sexism, ethnocentrism, classism, and all the other ‘isms’ that cause so much suffering in the world.”

Octavia Butler

Apa saja yang termasuk kategori seksisme?

  1. Sikap, situasi atau ideologi seksis, termasuk diantaranya keyakinan, teori dan gagasan yang memegang satu kelompok (biasanya laki-laki) sebagai hal yang dilihat pantas menjadi lebih unggul dari kelompok lainnya (biasanya perempuan). Disamping itu, mereka juga membenarkan adanya penindasan kelompok lain atas dasar jenis kelamin atau gender.
  2. Adanya praktik-praktik dan institusi seksis, salah satu cara dimana biasanya penindasan terjadi. Biasanya hal ini terjadi tanpa disadari karena sudah terbiasa dan didukung oleh suatu sistem yang sudah ada sejak dahulu.

Apa hubungannya dengan feminisme?

Kata seksisme dikenal secara luas sejak Gerakan Pembebasan Perempuan (Women’s Liberation Movement) pada tahun 1960an. Saat itu, teoritisi feminis menjelaskan bahwa penindasan terhadap wanita tersebar luas hampir di seluruh lini masyarakat. Sejak saat itu mereka mulai berbicara mengenai seksisme yang mengacu pada perilaku kolektif yang mencerminkan masyarakat secara keseluruhan. Seksisme jugalah yang menjadi bentuk pertama penindasan dan diskriminasi yang saat itu selalu mengarah pada kelompok perempuan.

Pada gerakan feminis tahun 1960 – 1970an (Gelombang Kedua Feminisme), banyak perempuan yang kemudian menyadari bahwa seksisme juga hadir dan sering terjadi di ranah pekerjaan mereka yang menyoal tidak adanya keadilan sosial bagi perempuan. Dari situlah, banyak dari mereka yang saat itu berbicara atas nama para pekerja, orang miskin dan kelompok berdasarkan rasial.

Sama seperti rasisme, seksisme juga terjadi secara sistemik. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai kodrat yang diperkuat oleh praktik, aturan, kebijakan dan Undang-undang di suatu Negara yang seringkali terlihat seakan biasa saja, tetapi pada kenyataannya banyak merugikan dan tidak berpihak kepada perempuan.

Seksisme juga erat hubungannya dengan rasisme, classism, heteroseksisme dan penindasan lainnya terhadap individu, ini yang dikenal dengan intersectionality.

Lalu, apakah perempuan juga bisa menjadi seksis?

Perempuan dapat menjadi kolaborator baik secara sadar maupun tidak sadar dalam melakukan tindakan tersebut, jika mereka diam, menerima dan menganggap perilaku seksisme ini adalah hal yang biasa dan normal terjadi. Terlebih ketika perempuan, menerima bahwa laki-laki memang memiliki kekuatan dan kekuasaan lebih daripada perempuan.

Seksisme oleh perempuan terhadap laki-laki hanya akan mungkin terjadi dalam suatu sistem, dimana keseimbangan kekuatan atau kekuasaan sosial, politik, budaya dan ekonomi berada di tangan perempuan, which is a situation that does not exist today.

Apa yang bisa perempuan lakukan untuk mencegah seksisme?

Kalau menurut saya pribadi, penting bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Namun, juga tidak merasa dirinya lebih unggul dari perempuan lain atau kategori gender lainnya, sehingga saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lainnya.

Selain itu, memilih penggunaan bahasa yang baik yang tidak mengandung unsur-unsur kekerasan, mendiskriminasi, menyinggung, merendahkan sehingga menimbulkan sikap seksisme juga tak kalah penting.

Tidak sungkan dan berani untuk berbicara dan membela dirinya sendiri maupun membela perempuan lainnya, jika mengetahui adanya perlakuan seksisme di sekeliling kita.

But first thing first, mungkin kita harus meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, bahwa kita berharga dan memiliki kemampuan, memiliki hak dalam berpendapat dimana pun dan kapan pun yang setara dengan lainnya, tidak peduli apa pun gender kita.

Diolah berdasarkan sumber: ThoughtCo

Featured

5 Langkah yang Harus Dilakukan Setelah Menikah dengan WN Perancis

Nah, akhirnya saya baru bisa nih berbagi pengalaman lagi mengenai apa yang harus dilakukan oleh saya (atau kalian) sebagai warga negara Indonesia setelah menikah dengan Warga Negara Perancis di Indonesia.

Bagi teman-teman yang terlewat informasi bagaimana syarat-syarat menikah antara WNI dan WN Perancis di Indonesia, sila cek di kedua post saya yang ini ya: Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 1)  dan Susah gak sih menikah dengan WN Perancis di Indonesia? ( Part 2)

Bagi yang masih kurang jelas bisa tanya di kolom komentar dua post diatas atau komen di bawah ini ya!

Nah, sekarang saya mau share langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menikah dengan WN Perancis, selain honeymoon tentunya ya! Hehe. Khususnya bagi kamu yang akan diboyong suami ikut ke Perancis, yaitu untuk membuat buku keluarga atau livret de famille.

Jadi, seminggu setelah menikah setidaknya terdapat 5 langkah yang harus kamu lakukan:

Pertama, bawa kedua buku nikah kamu ke KUA tempat dimana kamu menikah untuk dilegalisir oleh KUA. Sebelumnya cek seluruh data-data yang ada di buku nikah apakah sudah benar atau tidak, karena buku nikah ini nanti akan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis juga oleh penerjemah tersumpah. Untung saya beberapa kali berkomunikasi dengan Mas Subandi, penerjemah tersumpah, jadi beliau mengingatkan saya untuk memeriksa keseluruhan data yang tertulis di buku nikah, bahkan ia sempat bilang kalau seringkali ada kesalahan penulisan terkait kewarganegaraan suami. Dan benar aja loh gengs, di buku nikah saya tertulis kalau suami saya WN Indonesia. Padahal saat di KUA seluruh dokumen sudah diberikan bahkan ada data yang harus saya isi terkait dengan informasi saya pribadi dan suami beserta kedua orang tua kami, which is ada tulisan kalau suami saya WN Perancis, tapi tetap aja salah… DOH! Emang paling gak ngerti ya kenapa hal-hal begitu bisa salah, kalau minta duit aja cepet, pikir saya waktu itu.

Anyway, bagi kamu yang memiliki prenup, juga jangan lupa memberikan kopian dokumen asli prenup ke KUA untuk dilegalisir dan didaftarkan, prenup ini tidak perlu dibawa ke Pengadilan Negeri lagi, kalau sudah didaftarkan di KUA. KUA juga akan memberikan fotocopy buku nikah yang sudah dilegalisir. Waktu itu, karena mengurusnya ketika saya sedang berada di Yogyakarta, jadi Ibu dan kakak saya membantu proses ke KUA, tidak perlu surat kuasa untuk mengurus ini, tinggal bawa saja buku nikah yang aslinya.

Kedua, setelah proses dari KUA, kalian harus mengurus pengiriman beberapa dokumen kepada penerjemah tersumpah (sworn translator). Ada beberapa penerjemah tersumpah yang sudah terdaftar di Kedubes Perancis, tetapi saya masih menggunakan jasa Mas Subandi, karena lagi-lagi harganya yang masih terjangkau, kerjanya cepat dan terpercaya. Sila melihat kontak Mas Subandi di artikel ini.

Beberapa dokumen yang harus dikirim ke Mas Subandi sbb:

  1. 2 (dua) buku nikah asli
  2. Fc buku nikah yang dilegalisir oleh kepala KUA
  3. Fc KTP istri (untuk WNI)
  4. Fc pasport suami (untuk WNA)
  5. Fc surat izin menikah dari Kedutaan Besar (2 bahasa: Perancis dan Bahasa Indonesia)
  6. Surat mualaf, kecuali kalau muslim sejak lahir
  7. Akta cerai, jika status telah bercerai
  8. Fc prenuptial agreement (perjanjian pernikahan), jika ada

Seluruh dokumen diatas dapat dikirimkan by post atau by ojek online. Pastikan alamat yang penerima tidak salah ya! Nanti minta si penerjemah untuk menginformasikan ke kita, jika dokumen sudah diterima.

Ketiga, meminta legalisir buku nikah ke-3 Kementerian terkait, yaitu; Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Luar Negeri. Langkah ini tergantung apakah kamu mau mengurusnya sendiri atau meminta jasa penerjemah tersumpah juga untuk melakukannya. Biasanya mereka menawarkan jasa ini sudah paket dengan terjemahan buku nikah hingga memberikan dokumen-dokumen tersebut ke pihak Kedutaan Besar Perancis. Karena saya tidak mau repot, jadi saya meminta untuk sekalian saja diurus oleh Mas Subandi. Makanya untuk tarif, terbilang cukup pricey ya, waktu itu saya bayar sekitar 3 juta Rupiah all in! Sebenarnya untuk legalisir buku nikah di 3 Kementerian, terjemahan dan penyerahan ke Kedutaan Besar tarifnya 2 juta Rupiah, tapi karena saya memiliki prenuptial yang juga harus didaftarkan di dalam livret de famille untuk diketahui oleh otoritas Perancis, jadi tetap harus diterjemahkan. Jumlah halaman prenup sekitar 6 halaman, jadi untuk prenup saja sudah sekitar 1 juta Rupiah. Mahal yah nikah sama WNA, gengs, huhuhu..

Nah, setelah semua proses diatas selesai, Mas Subandi akan mengirimkan seluruh dokumen secara langsung ke Kedubes Perancis. Waktu itu cukup cepat, proses dari terima dokumen dari saya ke penerjemah tersumpah, lalu diterjemahkan dan dikirimkan ke pihak Kedubes ada sekitar 9-11 hari kerja.

Keempat, setelah bukti pengiriman ke pihak Kedubes sudah dikirimkan oleh Mas Subandi, tidak lama saya menerima email dari Ibu Cempaka dari Kedubes Perancis, bahwa dokumen sudah diterima dan suami saya harus mengisi dokumen Formulir Permohonan Transkrip, form nya dalam bahasa Perancis dan waktu itu diisi oleh suami saya akhirnya, lalu saya kirimkan kembali lagi ke Ibu Cempaka via email. Waktu untuk menunggu livret de famille ini selesai, sekitar 2 bulan lamanya. Kalau saya waktu itu 2 bulan 2 minggu karena ada keterlambatan dari pihak Kedubes.

Kalau kita sudah memiliki acte de marriage dan livret de famille ini, kita bisa langsung lanjut proses kelima yaitu, membuat visa long séjour (long stay visa). Sebenarnya kamu tetap bisa ke Perancis sebelum kedua dokumen ini selesai, tapi paling cuma bisa buat visa tourist aja untuk sebulan atau kurang dari 3 bulan, setelah itu harus balik lagi sampai 2 dokumen tersebut selesai. Setelah itu, langsung proses long stay visa yang saya sebutkan tadi, tapi karena memperhitungkan biaya yang pastinya mahal banget, jadi daripada buang-buang uang untuk tiket pesawat mending uangnya buat nabung kan gengs.

Untuk proses membuat visa, khusus negara Perancis dan Swiss, kita bisa memproses pembuatan visa di TLS Contact. Untuk proses pembuatan visa, kamu harus registrasi online dulu ya, supaya bisa langsung log in. Semua informasi lengkap ada di website TLS Contact, ingat… harus rajin-rajin baca dan bertanya ya, kalau memang sudah kepepet atau ada yang kurang jelas bisa langsung tanya via email ataupun telepon ke kantor mereka.

Visa tipe seperti apa yang dibutuhkan nih?

Jadi, setelah kalian buka websitenya, silahkan pilih ‘Documents and Visa Types’ >> lalu, kalian bisa melihat berbagai jenis visa yang dibutuhkan, lalu pilih ‘Family member of a French citizen or his/her purpose’ >> jangan bingung, setelah klik pilihan tersebut, ternyata masih banyak lagi kan jenis-jenis visa yang berbeda? Waktu itu saya pilih tipe visa yang ‘Spouse of a French citizen – Long stay (more than 90 days)‘.

Jangan syok ya kalau persyaratannya banyak, alhamdulillah karena saya sudah cukup berpengalaman membuat Schengen visa dan menurut saya, visa tipe ini merupakan aplikasi termudah! 3 kali sebelumnya, saya pun juga ‘tertolong’ buat visa, karena ketiga-tiganya saya diundang oleh organisasi/NGO internasional yang berada di salah satu negara Eropa untuk urusan pekerjaan. Mudahnya, karena mereka memberikan surat undangan dan pernyataan bahwa setiba di Eropa mereka akan menjamin hidup saya selama disana. Gak kebayang, beberapa teman sempat berkonsultasi, gimana caranya buat Schengen visa dan ternyata lumayan sulit juga kalau memang tujuannya untuk tourisme atau backpacker ya, harus ada jaminan dan copy jumlah uang di rekening bank yang minimum sekian juta, surat sponsor, de el el.

Lanjut lagi, jadi untuk aplikasi visa long stay ini ada beberapa hal yang saya bilang cukup menguntungkan, diantaranya; kita tidak perlu membayar visa alias FREE a.k.a GRATIS gengs (kecuali, kalau kamu mau premium service pada saat pembuatan aplikasi visa, harus tambah IDR 450.000 lagi ya!); terus kita tidak perlu atur waktu janji temu untuk interview, karena kita bisa datang langsung jam berapa pun (selama waktu operasional TLS contact). Another perks of having a French husband. Ketika kamu akan masuk ke dalam kantor TLS contact, kamu harus membawa si acte de marriage dan livret de famille.

Untuk persyaratan dokumen lengkapnya, beberapa yang harus dikumpulkan dan diberikan kepada pihak TLS Contact diantaranya;

  1. Formulir aplikasi long stay visa yang asli
  2. Formulir OFII (di isi dan dibawa saat proses aplikasi, form ini akan digunakan setelah tiba di Perancis untuk membuat residence permit)
  3. 2 lembar pasfoto berwarna, latar belakang putih, ukuran 3,5 cm x 4,5 cm (tidak lebih dari 6 bulan)
  4. Buku Keluarga (ingat ini livret de famille ya, yang dikeluarkan secara resmi oleh Pemerintah Perancis)
  5. Fotokopi sertifikat menikah (acte de marriage, juga dari Kedubes Perancis)
  6. Fotokopi KTP pasangan WN Perancis atau Pasport biometrik WN Perancis
  7. Fotokopi bukti tempat tinggal di Perancis
  8. Fotokopi Kartu Keluarga (WN Indonesia)
  9. Pasport (2 lembar fotokopi yang berisikan data dan pasport asli dibawa dan diserahkan kepada petugas visa, yang masa berlaku kurang dari 3 bulan dengan 2 halaman kolom kosong untuk visa stiker)
  10. Fotokopi pasport lama, terutama pada bagian visa dan personal data. Bawa juga pasport aslinya untuk jaga-jaga ya.

Saya baru tau, ternyata kalau apply visa via French embassy, mereka tidak pernah menanyakan soal travel insurance. Saya pun juga tidak diminta untuk melampirkan booking flight ticket, paling hanya ditanya ‘nanti berencana berangkat ke Perancis nya kapan ya?’.

Setelah semua proses dan dokumen sudah dicek, nanti kalian juga akan ditawarkan apa mau ambil visa nya langsung di TLS contact atau dikirim by JNE YES? Untuk kiriman by JNE, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 75.000,- karena rumah saya juga masih di daerah Jakarta Selatan, ya saya pilih langsung saya yang ambil dong jelas, meminimalisir hilang atau kerusakan juga saat pengiriman.

Setelah semua sudah selesai, siap-siap tinggal tunggu berangkat deh!

Nanti sesampainya di Perancis saya kabarin lagi ya, hal-hal apalagi yang harus saya (atau kamu lakukan) karena ada beberapa dokumen lagi yang harus dikerjakan setibanya di sana untuk membuat resident permit “Titre de séjour”.

Featured background picture from Pinterest.

Featured

9 Tips Jalan-jalan ke Versailles, Paris di Perancis

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi pacar (sekarang sih udah jadi suami, hehe) di kota Paris. Sebenarnya, suami saya tidak tinggal di Paris nya, tapi lebih ke selatan dari Paris, namanya kota Orléans. Jaraknya sekitar 130 kilometer, kalau naik kereta intercity sekitar 1 jam dari Paris. Tapi waktu itu kita nebeng di apartemen sepupunya yang berada di kota Paris, jadi biar kemana-mana juga lebih dekat. Semenjak pertama kali ke Paris tahun 2015 lalu, emang sebenarnya udah pengen banget ke Versailles, ya udah ada di bucket list banget deh intinya. Tapi waktu itu karena waktunya juga gak banyak, cuma 2 malam di Paris, jadi ya skipped dulu deh sambil harap-harap bisa berkesempatan lagi untuk balik ke Paris.

Dan, alhamdulillah, ternyata benar-benar dikasih kesempatan dan rezeki lagi, sama orang tersayang pula kesananya! Ihiy. Akhirnya saya membuat itinerary perjalanan selama di Paris selama seminggu lengkap dengan catatan, transportasi, waktu dan semacam what to do selama berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Salah satunya, saya bilang saya pengin banget ke istana Versailles!

Apa sih Versailles? Itu dimana? Ada apa aja disana? Terus apa aja yang menarik?

Sebegitu cantiknya ya ❤ Foto dari Pinterest

Sabar, sabar gengs, saya coba jelaskan satu per satu ya.

Bagi yang belum tahu, belum pernah kesana, atau sekadar baru denger soal Versailles. Jadi, Versailles ini dulunya istana dan kediaman utama kerajaan Perancis sejak tahun 1682 di bawah Louis XIV hingga awal Revolusi Perancis pada tahun 1789 di bawah Louis XVI. Dan istana ini menjadi saksi adanya Revolusi Perancis pada zaman itu, dimana Marie Antoinette menjadi salah satu tokoh yang cukup terkenal dan berpengaruh saat itu.

Versailles kini menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO. Biasanya, istana ini digunakan untuk acara-acara penting, seperti; upacara-upacara, Royal Opera dan apartemen kerajaan; untuk apartemen kerajaan seperti Grand Trianon dan Petit Trianon yang terletak di dalam taman; ada juga pedesaan kecil yang dahulu kala sengaja dibuat untuk Marie Antoinette tinggal dan Taman Versailles yang sangat luas dan dilengkapi dengan air mancur, kanal dan kerbun berbunga. Luas seluruh area istana ini sekitar 1.000 hektar. Pokoknya bagi yang pencinta sejarah Eropa, Perancis khususnya, pasti bakalan suka banget sih sama tempat ini! 100% guaranteed.

Look at those ceiling details ❤
Setiap ruangan gaya dan warna wallpapernya beda-beda dan penuh warna, juga dominasi gold. Keren banget ya
The golden gate of Château de Versailles

Nah, jadi di post kali ini, saya mau coba kasih beberapa tips ke teman-teman yang pengin banget ke Paris, tapi bosen kalau cuma stay di kota nya aja, jadi kali ini kita main-main ke Versailles dulu ya. Sebelumnya, ada beberapa hal yang harus diketahui terlebih dahulu:

1. Pilih musim dan waktu yang tepat untuk berkunjung

Musim terbaik untuk mengunjungi Versailles sebenarnya pada musim semi dan panas, karena bunga-bunga bermekaran dan pepohonan akan terlihat sangat cerah dan penuh warna. Walaupun juga harus siap-siap dengan ramainya pengunjung yang datang dari berbagai belahan dunia. Di musim dan waktu tertentu biasanya, area fountain dan taman memiliki beberapa events tersendiri yang bisa di cek disini.

Catat ya, istana Versailles ini tutup setiap hari Senin, Christmas dan Tahun Baru.

The best place to hide, isn’t it? 😀

 2. Baca dan pahami dulu sejarahnya

Lebih baik sebelum kesana ketahui dulu sedikit mengenai latar belakang dan sejarah istana Versailles, jadi semakin bisa meresapi suasana dan cerita dari setiap ruangan di dalam istana. Minimal bisa Googling mengenai sejarahnya, baca beberapa buku, nonton beberapa film yang memang menceritakan atau menyinggung soal sejarah Perancis, berlatarbelakangkan istana Versailles, seperti; Marie Antoinette.

The Hall of Mirrors, galeri pusat istana Versailles yang sempat difungsikan sebagai aula untuk beberapa acara penting keluarga kerajaan

 3. Berangkat pagi atau menginap di kota Versailles?

Sebenarnya ke Versailles itu lebih baik berangkat pagi sekitar jam 7 atau 8 pagi dari Paris, untuk menghindari antrian yang panjang dan udara juga masih sejuk. Terlebih kalau tempat menginap kamu agak jauh dan di pinggir kota Paris, karena waktu tempuh bisa sekitar 1 jam sampai ke Stasiun Versailles Château Rive Gauche.

Atau, kalau memang masih banyak waktu, dan mau mengunjungi istana Versailles dan sekitarnya, bisa menginap 1-2 malam di Versailles village. Suasananya beda banget sama di Paris, kita seperti kembali ke masa lalu, kotanya super indah. Dan ada beberapa pilihan hotel untuk menginap dengan kisaran harga EUR 85/night, kalau mau ada juga kok Air BnB disana dengan harga yang jauh lebih murah di mulai dari EUR 50/night.

Kota Versailles itu emang bagus banget sih, kalau next time ada waktu lebih banyak juga kayaknya saya pengin coba menginap dan eksplor kota kecil ini, di luar dari istana nya yang maha megah.

4. Kenakan baju dan sepatu yang nyaman + gak ribet

Ini juga hal yang penting banget sih, kalau kamu berencana untuk summer kesini, pakai kaos simpel dan jeans udah paling juara. Karena panasnya Paris dan sekitarnya itu juga gak beda jauh sama Jakarta, bedanya less pollution aja sih paling. Terus, karena kalian pasti akan banyak jalan kaki dari stasiun ke istana dan keliling taman Versailles, paling the best ya pakai sneakers! Untuk perempuan-perempuan, I definitely will say no to high heels, stiletto, even flat shoes or whatever it is. Karena secapek itu gengs jalannya, percayalah Versailles gedeeeeeee banget.

Berjalan di sepanjang labirin ini. Kalo ada yang nonton film Parfume, pasti familiar sama labirin ini?

5. Naik RER C, pilihan terbaik dan termurah

Terletak di departemen Yvelines, sekitar 20 kilometer (12 miles) barat daya dari pusat kota Paris, untuk ke Versailles sebenarnya mudah banget! Kalian bisa dengan mudahnya mengakses dengan menggunakan kereta RER C. Untuk mengetahui rute dan stasiunnya dimana saja, bisa dilihat disini. Kereta RER C ini berbeda dengan jalur Metro, jadi pastikan untuk beli tiket di vending machine yang ada di stasiun. Kalau gak salah, tarifnya sekitar 7 euro (PP) dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Saya sarankan sih lebih baik untuk beli langsung PP dari Paris, untuk menghindari antrian lagi saat pulang dari Versailles. Karena biasanya saat menuju kembali ke Paris, di stasiun akhir Versailles Château Rive Gauche itu rame banget, apalagi kalau high season.

6. Jangan lupa bawa bekel makanan dan minuman

Sebenarnya ada restoran, kafe dan tea room yang menjual makanan di istana Versailles, tapi percayalah, mendingan kalian siap-siap untuk bawa beberapa makanan kecil atau mungkin seperti sandwich, croissant, buah, roti atau lainnya yang mudah dibawa dan dikonsumsi disana. Karena banyak sekali orang-orang yang akhirnya duduk-duduk di tangga bahkan di taman untuk sekadar ‘piknik’ dan menikmati udara yang bersih di Versailles sambil makan siang.

Bassin d’Apollon (French) or Fountain of Apollo (English) di sekitar sinilah rata-rata pengunjung membuat area “piknik” dadakan, sebenarnya ada juga bagian taman lainnya

 7. Jam buka? Tiketnya berapa? Beli Dimana?

Istana mulai dibuka pukul 9 pagi dan tutup jam 6.30 sore, tetapi untuk Grand Trianon dan Galeri hanya buka pada siang hari saja. Kalau mau jalan-jalan ke taman dan kebun buka setiap harinya, dan bebas biaya, kecuali jika ada acara Musical Fountain Shows dan Musical Gardens.

Begitu kamu memasuki area istana, di sebelah kiri ada kantor penjualan tiket ada yang namanya Ministers’ South Wing (letaknya di sebelah kiri lapangan The Cour d’Honneur ya!) harga tiketnya EUR 20 untuk semua area, dan EUR 27 kalau kamu mau nonton Musical Fountain Shows atau Musical Garden. Kalau kamu hanya ingin berkunjung ke istana aja dan area taman, harganya EUR 18.

Nah, kalau menurut kamu sehari gak cukup untuk ke Versailles, mereka juga menjual tiket yang berlaku selama 2 hari berturut-turut dengan harga EUR 25 dan EUR 30, kalau kamu mau nonton acara Musical Fountain Shows. Selain bisa beli on the spot, kamu juga bisa beli tiketnya secara online di websitenya ini, untuk menghindari antrian.

8. Persiapkan dan charge semua smartphone, kamera, iPad dll

Lagi-lagi ini menjadi salah satu hal yang penting buat saya dan mungkin juga buat kalian. Karena Versailles memang seindah itu geng dan sayang untuk kita lewatkan. Jadi, jangan lupa untuk mengisi batere gadget dan kamera kamu sampai full ya!

9. Tips khusus: bagi yang mau bawa anak-anak

Ini penting banget buat orang tua atau keluarga yang ingin bawa anak-anak. Istana Versailles mungkin bagus banget kalau kita mau mengedukasi anak-anak mengenai sejarah Perancis dan mencoba untuk memperlihatkan suasana yang ada di sana maupun hanya untuk bermain-main di taman, tapi coba pikirkan dua kali ya kalau kamu mau membawa anak-anak kecil yang usianya masih di bawah 5 tahun. Karena selain tempatnya luas banget, takutnya anak-anak udah terlalu capek dan keburu merengek mau pulang. Belum lagi, ada peraturan di Versailles yang melarang pengunjung untuk membawa stroller, baby chair, pushchair atau gendongan bayi yang ada kandungan metalnya. Kalau kamu membawanya, kamu harus menitipkan barang-barang tersebut di free left luggage yang sudah mereka sediakan disana.

Sebagai bonus, kalau kamu masih merasa capek setelah muter-muter di istana Versailles dan mau ngopi-ngopi atau snacking atau juga mau makan malam sebelum balik ke Paris, tenang aja, gak jauh dari stasiun Versailles Château Rive Gauche, kamu akan menemukan beberapa pilihan kafe dan restoran ala Perancis yang juga bisa memuaskan lidah dan perut kamu lho!

Nah ini pedestrian nya, asri banget ya ❤

Oh guys, satu lagi! Di Versailles juga ada toko oleh-oleh yang sayang untuk ditinggalkan, soalnya barang-barangnya lucu banget buat dijadikan oleh-oleh atau kenang-kenangan, harga dan barangnya bervariasi, mereka menjual kartu pos, alat tulis, mainan anak, cokelat, permen, sabun, tas dan sebagainya, desainnya ala ala oldies klasik gitu!

ini cokelat yang dijual di dalam toko souvenirnya 🙂

Kira-kira itulah beberapa hal yang penting dan harus kalian perhatikan ya kalau kalian ingin berkunjung ke Istana Versailles.

Bagaimana gengs kira-kira? Masih ragu untuk melihat secara langsung keindahan istana yang luar biasa cantik ini?

Honeymoon Series #6 : Nge-Hitz di ‘Cafe In Hit Coffee Shop’, Labuan Bajo

Finally, here is another recommended place for you to hang out in Labuan Bajo, Flores!

Jadi, hari terakhir di Labuan Bajo, setelah 3 hari 2 malam living on board, kita (khususnya saya) pengennya cuma mau leha-leha aja deh! Jadilah, akhirnya ngopi adalah our top priority untuk berleha-leha di Labuan Bajo. Selain karena, sepengen itu minum kopi asli Flores, sejujurnya di otak saya waktu itu bawaannya pengen nulis dan nulis melulu. Karena banyaaak yang mau dibagi setelah liburan ke Yogyakarta dan Labuan Bajo bersama (ehem!) suami tercinta.

“I just really need an iced cappuccino and maybe bit writing on my laptop!” that was exactly my answer, when he asked what do you want to do today.

Emang ya, dasar orang INFJ, emang cuma paling bisa curhat lewat tulisan-tulisan. Siapa yang setuju?

Acung!!!

Untungnya suami juga sama-sama INFJ, walaupun dia sebenarnya lebih ke tipe more into adventures sih, jadi ya dia setuju aja kalau hari itu kita akan ngopi-ngopi di kafe tok!

Setelah Googling coffee shop atau tempat nongkrong apa yang cozy dan kopinya enak, juga lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel. Akhirnya, jatuhlah pada pilihan ngopi di Cafe In Hit Coffee Shop. Tempatnya emang enak banget, cocok sih buat yang emang mau ngopi sekaligus hangout atau hanya sembari ‘kerja’ di depan laptop. Dekorasinya lebih menggunakan semen concrete dan industrial, which is emang kekinian dan sesuai namanya, hitz banget! (gimana gaes bahasanya udah anak Selatan banget belum?! Hahaha)

P1080589_edited
Barista-nya ramah-ramah & bersedia sharing cerita soal kopi

Oh iya, kalau kalian beruntung, kalian juga bisa nemuin buku bacaan favorit kalian di kafe ini. Lihat aja koleksi buku disini, lumayan banyak kan? Mereka sengaja menyediakan buku-buku untuk bacaan para pengunjungnya, yang sengaja dikumpulkan dari hasil sumbangan para turis yang datang di kafe maupun yang memang gak sengaja ketinggalan di kafe.

P1080592_edited
Koleksi buku-bukunya yang juga membuat dekorasinya menjadi lebih artsy. Mereka juga jual kopi asli Flores dan sekitarnya loh, baik yang sudah berbentuk powder maupun masih biji kopi

P1080593_edited
Suami yang setia banget nungguin nulis sambil baca buku kesukaannya yang dia temukan di display. Laaavv ❤

P1080594_edited
Area toilet tepat di atas tangga. The quotes pun ❤

Untuk soal minuman, variasi menu yang ditawarkan juga lumayan banyak, mulai dari black coffee hingga beragam pilihan minuman frappe. Selain minuman, mereka juga menjual light meal seperti; sandwich, banana cake, muesli, salad, dan sebagainya. Waktu itu saya dan suami sempat mencoba Ice Cappucinno, Ice Coffee Machiato, dan Ice Green Tea Frappe!

Ice cappucinno nya aja udah bedaaaa banget rasanya sama cappucinno yang biasa kita minum di Starbucks ataupun di coffee shop lain di Jakarta. Rasa kopinya…. DUH! Sampe gak bisa berkata-kata lagi deh.. pas ditanya, ternyata kopi yang dipakai kopi Flores dan Manggarai.

Untuk harga sih, relatif sama ya dengan harga kopi-kopi di Jakarta, sekitar 30.000-an keatas, tapi soal kualitas kopi? Gak diragukan lagi deh. No perez ya, ini honest review…

Kalau soal suasana, asik dan lagu-lagunya juga top 40s punya. Untuk area kafe terbagi 2, ada yang indoor area juga outdoor, sayangnya gak terlalu banyak kursi yang disediakan di dalam, karena lokasi baristanya aja udah lumayan memakan tempat. Walaupun tidak terlalu besar, sebenarnya lumayan banget untuk nongkrong sama teman, keluarga atau pasangan yang emang cuma mau sekadar ngopi sambil chit-chat!

P1080597_edited
All you need is love and a good cup of coffee, indeed.

P1080591_edited
Notes dan testimony yang dituliskan oleh pengunjung

P1080595_edited
We are in a paradise, wifi is just a bonus

Jadilah, kita lumayan lama banget stay disana, bahkan sampai hampir sunset! Suami saya asik tenggelam dengan buku yang dia temukan di kafe tersebut, saya juga udah asik sendiri dengan laptop. Dari awalnya kita duduk-duduk di dalam, karena ber-AC dan lumayan untuk ngadem dari panasnya matahari di Labuan Bajo, sampai akhirnya sore-sore kita pindah keluar sekalian cari angin dan ganti suasana.

Oh ya, lokasinya pun berada tepat di sebelah Le Pirate Hotel dan Restaurant yang sudah sempat saya review juga.

P1080598_edited

P1080599_edited

Baca juga: Honeymoon Series #2: Le Pirate Restaurant, Labuan Bajo, Flores – Indonesia (Review)

Address: Jl. Soekarno Hatta, Labuan Bajo, Flores 86554 

Opening Hours: 6.30 AM – 10.00 PM

Estimated price: 20.000 – 70.000 IDR

Honeymoon Series #5 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 3 – FIN)

Yaaay, finally the last day!

So, early in the morning, we sail our boat to Taka Makassar! Once we parked the boat, I was surprised when I saw another beautiful crystal water, white and pinkish beach sands, a lot of fishes and corals.

Look at this beauty…

P1080300_edited
The real Vitamin Sea ❤

P1080304_edited
Welcome to the island of sands

The name has no connection with Makassar region in Sulawesi, but Taka Makassar means the island of the sand. It has clear turquoise water and swallows water, which makes big boats aren’t able to get near to the island, that is why they usually ride a smaller boat either from Manta point or Komodo island.

P1080297_edited
Who doesn’t love to be here?

Me and my husband had to swim from our boat to the small island, it is very small even smaller than basketball field. It was very good to swim in there because of the wave quite stable, compare to the pink beach yesterday. We were with Italian tourists when we were there and they found giant sea-turtle nearby Taka Makassar.

On this island, I met and got to know with another tour guide which originally coming from Flores. She was very nice and very informative! We shared a lot of things about Labuan Bajo and Flores, include what was happened that time in Labuan Bajo. She told me, she and her friends joined with a demonstration in the centre to fight the construction of big and luxury hotels on Rinca and Padar islands. She looked very stressful because she doesn’t want people ‘destroy’ the real beauty of Labuan Bajo and other islands. But people who have the power, only thinking about their business, how to build a luxurious hotel so they’ll gain more profit without thinking about the impact of it.

“Imagine, if Komodo dragons will lost their ‘comfort’ and origin habitat?” she said.

I nodded but suddenly my mind was full with her voice.

I just cannot imagine what if it really happens.

Deep sighs

Well anyway, after spent a few hours in Taka Makassar, we went back to the boat and went to Manta point which located quite close from Taka Makassar. We had to find a spot in a deep blue sea water to see Manta, and guessed… we found it! I was not brave enough to go to underwater anymore to see the Manta closer, but my husband who always curious to hunt all Mantas we found.

P1080331
Look at this big Manta ❤

p1080334.jpg
He tried to see the Manta closer

Finally, after we saw around 4-5 mantas, we went directly to our very last destination, before back to Labuan Bajo harbour, the Angel Island (Pulau Bidadari). This is a private island which located 20 minutes by boat from Labuan Bajo. It surrounded with beautiful white beach sand and one of a good place to do snorkelling and diving.

P1080502
Our Garuda boat, view from Angel Island, Labuan Bajo

P1080503
Angel Island, Labuan Bajo – Flores

Surprisingly, when I sat on the beach sands, I saw very clear there was a baby shark swim in the seashore. And after, my husband was curious, so he hunts the baby shark on the other side of the seashore and finally, he found it!

P1080497_edited
Baby shark dudu~duu

It was not that big. And our tour guide told us, they also have many sharks on this beach, that is why no wonder if we found few baby sharks in there.

Finally… we went back to Labuan Bajo’s harbour and picked up by the driver, then they dropped us at the hotel.

Well, that could sum-up our honeymoon stories. It might not a romantic one like in a movie, but we really enjoy every moment that we spent together. Even our skin got burnt, 3-days with the smell of salty hair and all over our body, but we enjoyed a lot the beauty of Labuan Bajo and other islands has offered to us! For those who want to have a romantic, fancy and luxury honeymoon, maybe Bali and Lombok will be a better choice. But, for those who want a real life-adventure, full of challenges, build a ‘teamwork’, and lay down in the rooftop under the million stars… We definitely recommend Labuan Bajo is the best choice!

P1080114_edited
There’s no sunset as beautiful as in Komodo island ❤

Additional information:

We booked our trips with PERAMA Tours and we chose “Explore Komodo National Park 3D2N” for a private boat, so last time only me, my husband, the tour guide and the boat crew on board. The price for each person IDR 4.000.000 (USD$ 280), so last time we paid for IDR 8.336.000 (USD$ 642, include the administration fee). It was not cheap for me, because actually there is a lot of tour and travel agency who offered a less expensive tour than the price we’ve got, (maybe) also with better facilities. But, we feel good with our tour guide, which we called Mas Goi! He is very nice, smiley, good French (even better than me), helpful and has the talent to take pictures, of course! Hahaha

The Garuda boat was very clean, the boat crew was very nice and helpful, our tour guide was very kind and very informative, oh yes, I almost forgot, the food was delicioussss and rich with Indonesian-taste! ❤

IMG_20180820_123312_edited
Bon appétit

Honeymoon Series #4 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 2)

Born in a big city like Jakarta, has shaped me into who I am today. Living well, went to a decent school and university, got a decent job with… ya, I could say, enough salary. I even don’t have to cross to another island by the boat or to hike another hill only for a living. I am not trying to underestimate people who are doing that way, I even really appreciate what they do.

At least, that’s what I thought last time when I was on Padar island, one of the big islands in Labuan Bajo, Flores. I really appreciate people who are starting to make money in there, that is why no wonder if the price in Labuan Bajo and surrounding island, not much different compared to Jakarta. In some things, the price even higher. As we know, it might not easy for them to get some of the food products in their area, because lack of accessibility and availability to get all of the food products.

IMG_20180820_093746_edited

The first night we stayed in the small boat, with limited electricity, no AC or fan, no wifi, even worse no phone signal, makes me realize two things. First, how hard my life was if I have to do it for 7 days without those things. And the last, the positive sides, me and my husband tried to live with those limitations with our own way, we talked and laughed more, we shared stories.

He was the one who always gave me his spirit to support and cheers me up. For example, last time when we hike in long and high stairs in Padar island, he kept patiently support me. He always told me that I can do it to the summit, even I am the one who wasn’t feeling that way. For those who already went to Padar island, I am sure you know how it feels. The hills have a lot of stairs till the peak, some even only have stones step. Our tour guide even told us, a few years ago they even did not have the stairs, so people had to hike with little bit steep and slippery land.

IMG_20180820_093311_edited_edited
The struggle was real right?

As you can see, the island is mostly savanna-covered, surreal landscape fringed by bright green-capped mountains. It’s all surrounded by three turquoise bays and each one of the bay’s beaches has different coloured sands; one is more pearly white (the right one), the other is charcoal black and the third is a baby pink one. Which makes it a very rare combination, yet makes it a very unique island.

IMG_20180820_100751_edited
Our journey is still long, but can we always hold on to each other hands, no matter what will happen in front of us?

The second day actually was my favourite day! Simply because I finally could see the Pink beach. The pink beach was already in our bucket list, even before we got married. And I can’t believe, after 2 years made the bucket list together, we finally made it there! I was speechless and happy at the same time, I feel like I don’t want to leave the beach. After snorkelling for 15 minutes, then I just sat on the beach, felt the pink sands and the sea water on my skin. That was very PINKISH! The wave was a bit strong at that time, which made me and my husband were carried by the waves a few times.

P1070847_edited
Happiest kid on earth ❤

PSX_20180917_145305
Pink beach, salty hair, tanned skin

P1070835_edited
Every August is my parents’ birthday months, so here we wrote birthday wishes for them ❤

Well, finally I had to face the reality that we had limited times to stay in the pink beach, so we went back to our boat and continued our journey to the Komodo island.

P1070914_edited
The road which connects the Komodo harbour to the Komodo National Park entrance gate

P1070918_edited
The Komodo National Park entrance gate

For me Rinca island looked wilder than in Komodo island itself, they also have a seashore, I don’t really know if its allowed and safe to swim in the seashore, but I saw there are few foreigners who swim in there in late afternoon. We can also easily found reindeer, monkey, wild boar, and beautiful birds on this island.

Actually, our tour guide already mentioned that we can’t expect to see Komodo dragons a lot in here, because many of foreigners complained that quite rare they could see Komodo dragons in this island.

Because last time it was already a bit late in the afternoon, like around 3 or 4 pm, we decided to take the short trek one. After 5 minutes walk, we found at least 3-4 Komodo dragons which were in the middle of the forest. Foreign tourists were gathered with their groups and exchange to take pictures with the Komodo.

So we did too!

P1070977_edited
With a huge Komodo dragon

The sun slowly sets, after accompanying my husband to buy some Komodo souvenirs, then we back to the boat to enjoy our last night in our Garuda boat. We were so lucky that we had a brand new boat with 2 nice crew boat and a very good captain! When we parked our boat on the other side of Komodo island in which a place where the house of villagers lived in, all of sudden came two little kiddos who paddled their ‘boat’ which was only made of thick styrofoam, came close to our boat.

P1080248
Look at how they paddled their ‘boat’!

P1080239

Yes, they came to our boat to sell their souvenirs. They brought small Komodo dragons, pin and magnetic refrigerator. I was very amazed yet feel pity with them at the same time. After school, they have had to help their parents making money for their lives. With very limited English that they have, they tried to persuade my husband to buy their souvenirs.

When I looked at them, I suddenly had mixed feelings. I still feel so lucky, blessed, grateful with my life but at the same time, amazed by them. They really inspired me to live my life even we have to face many difficulties, obstacles and challenges. I really wish they will always be healthy, growing as smart kids and enjoy their childhood while they can.

Can I get some ‘amin’…?

(to be continued)

 

Honeymoon Series #3 : Why you should choose your honeymoon destination in Labuan Bajo, Flores? (Day 1)

Yaaay… finally, my motivation to write about our honeymoon experiences in Labuan Bajo has come! Actually, we went to Labuan Bajo on last August 2018, exactly the same day as the Opening Ceremony of Asian Games 2018. Well, just a week after our wedding day.

So we took a flight from Yogyakarta to Labuan Bajo by NAM Airlines, I still remember clearly it was very early in the morning like around 6 or 6.30 am and then we had transit in Ngurah Rai Airport, Bali for about 1-2 hours. The flight ticket price was around 2 million Rupiah each person. It was a little bit expensive because we bought the ticket probably like 2 weeks prior to departure.

Finally, after 45 minutes flight from Yogyakarta to Ngurah Rai Airport, Bali, then transit for an hour and continued our flight to Labuan Bajo for 45-60 minutes where I was one of few Indonesian among the seas of foreigners in the plane, we finally arrived in one of our dream islands to visit!

We were very excited as we arrived at the airport, moreover my husband! Because to visit Komodo Island is one of his biggest dreams since he was a kid, we really don’t know if its coincidence or fate, but seeing him looked so amazed only by the Komodo big sticker at the airport, I felt beyond happy too.

IMG_20180818_115050_edited
My bubz’ happy face ❤

Once we arrived and got our baggage at the airport, we went directly outside to find transportation to the hotel we booked. You will easily find a lot of taxi drivers who will be waiting for either you want to go to your hotel, harbour, central and other spots in Labuan Bajo. The price will depend on your destination, but the driver will ask where do you want to go and the address. If you want to go to the hotel or cafe or harbour, it is located in the centre so the price will be around 50.000 Rupiah/one way.

We booked a hotel room in Soekarno-Hatta street, which still located in the central part of Labuan Bajo, named Beta Bajo Hotel. First, we booked for a night, because the next day in the morning we lived on board, which was my first experience. The first day in Labuan Bajo, we spent half-day at the hotel and in the afternoon we explore the centre and to see the sunset, had early dinner in Le Pirate cafe and after had our ‘dessert’ in one of Le Creperie in town! Yummmz

Read: Honeymoon Series #2: Le Pirate Restaurant, Labuan Bajo, Flores – Indonesia (Review)

The day after, at 09.00 in the morning our tourist guide picked up us at the hotel then we went directly to the harbour by car.

P1070051_edited.jpg
Our ‘Garuda’ boat

So this is our private boat, that we booked through Perama tours. We had cabin bedroom with bunkbed. They also have one bathroom, other bunkbed room, deck bedroom, very small kitchen area and a dining place.

We were very happy and very enthusiast to explore some islands in Flores. At the first time, I felt a bit worried because I ever got nausea in a boat a long time ago when I went to the Thousand Islands. But surprisingly I did not really feel that way, but just because it was very windy and I still feel sleepy, so I decided to sleep in our bedroom.

Oh ya, we saw few dolphins swim on our way to Kanawa island before!

When we arrived at our first destination, Kanawa Island, I feel like “OMG, I never saw the sea which very clear, clean and full of beautiful corals and fishes!”. We spent a few hours on this island, that time was a bit crowd already, but more with foreigner tourists than Indonesian people. The waves were not that much, so it was easy to swim around the island. Last time, we found a lot of colourful starfishes, that’s why we have to be more careful to not step on those starfishes.

P1070148
Corals and crystal clear water

So far, Kanawa island is one of our favourite spots to do snorkelling in Indonesia!

PSX_20180908_130106
Kanawa island pier

After we prepared, they brought us to explore Loh Buaya or well-known as Rinca Island. It is the largest Komodo dragon habitat in Indonesia. Last time, it was a little bit confusing when I bought the ticket in the ticket office because they have 8 ticket papers, which for me such a waste and not effective at all. Here are the price lists we paid:

  • Entrance ticket at the Komodo National Park (weekend): IDR 7.500
  • Entrance ticket to Rinca island (foreigner on weekend): IDR 225.000
  • Entrance ticket to Rinca island (Indonesian on weekend): IDR 50.000 + IDR 20.000 = IDR 70.000
  • Ranger fee ticket in Rinca island: IDR 80.000
  • Activity ticket for trekking on Rinca island: IDR 5.000 x 2 person = IDR 10.000
  • Activity ticket for observation the wildlife: IDR 10.000 x 2 person = IDR 20.000

See? In total, we paid for IDR 412.500 for 2 person or equal to EUR 23. If you go there on the weekdays, the price could be cheaper than written above. The ticket price applies to both islands, Rinca and Komodo (in case you go to this two-island on the same day). You definitely can choose whether you want to try the short, the medium or the long track one which will take around 2 hours or more.

PSX_20180906_163124
Loh Buaya pier

PSX_20180906_162624
The entrance of Loh Buaya, Rinca island in the Komodo National Park. P.S: Don’t ever buy a coconut in there, the price was 2-3 times higher than the normal price. We deeply regretted, haha

P1070327_edited
Hope my face explain everything, lolz

In this island, beside Komodo dragons, you also will see a beautiful scenery with big hills, dry grasses, trees, wild reindeer, monkeys and birds. This island located 3 hours by boat from Labuan Bajo. It is better to go there in the morning or afternoon around (3 – 4 pm) to avoid the strong sunny day. From our guide and the ranger information, Rinca island has a lot of Komodo dragons than in the real Komodo island itself. We found around 9 – 12 Komodo dragons in Rinca island. Last time, because it was already in the afternoon around 3 pm, so we chose the medium trek. I was almost lost my breath when we hike the hill because it was very high and steep at the same time. But we glad that we made it to the top of the hills!

PSX_20180906_162832
Preggo female komodo

P1070345_edited
This wild reindeer waiting to be eaten by Komodo dragons

P1070452_edited
Standing among high hills at Rinca island

After finished our trek in Rinca island, then we went directly to the boat to continue our final destination in Kalong island, where we stopped before evening to see flies kalong or bats above the sunset skies. We feel amazed by all the kalongs which flew above us but it was a wonderful experience to see such beautiful landscape during the sunset with all those flying bats!

P1070575
Peaceful yet beautiful sunset in Kalong island

P1070597_edited
Hope this blurred picture will give you all the vision how we feel amazed by those flying bats

Do you want to know where we went on the second days?

The story will be uploaded next week, so stay tuned and ‘follow’ my blog to get the notification!